Fatwa Ulama Madura usai Insiden Perusakan Pos Penyekatan di Suramadu

·Bacaan 2 menit

VIVA – Ulama dan tokoh Madura meminta masyarakat agar mematuhi prosedur penanganan dan pencegahan penularan COVID-19 yang dilakukan pemerintah di titik penyekatan di Jembatan Suramadu di Surabaya dan Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur. Kepatuhan diperlukan agar kemudaratan lebih besar bisa dicegah dan kemaslahatan bersama bisa dicapai.

Salah satu tokoh yang menyerukan itu ialah Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Cholil Bangkalan, Fathur Rozi Zubair alias Ra Fathur.

“Saya sangat menyayangkan terjadinya insiden perusakan pos penyekatan di Suramadu tadi pagi. Seharusnya kejadian itu tidak perlu terjadi jika semua masyarakat sadar akan pentingnya menjaga diri kita dari COVID-19,” kata Ra Fathur kepada wartawan pada Jumat, 18 Juni 2021.

Putra dari Zubair Muntashor itu menjelaskan, penyekatan dan swab antigen yang dilakukan pemerintah di Suramadu adalah bentuk ikhtiar agar penyebaran COVID-19 bisa ditekan. Tujuannya agar tidak terjadi kerusakan yang lebih besar dan pandemi bisa terkendali.

Penyekatan di Suramadu, kata Ra Fathur, bukan bentuk diskriminasi. Sebab, penyekatan tidak hanya di Suramadu sisi Surabaya, tapi juga Suramadu sisi Madura. Itu artinya, yang diperiksa tidak hanya warga Madura yang akan ke Surabaya, tapi juga warga Surabaya yang akan ke Madura.

Dia menegaskan, apa yang telah dilakukan pemerintah adalah keputusan yang terbaik untuk masyarakat. Untuk itu, dirinya mendukung langkah pemerintah dalam menangani Covid-19, termasuk penanganan di Bangkalan dan Surabaya.

“Sebagai Muslim, kita harus mencegah kemudaratan yang lebih besar,” ujar salah satu keturunan Syaikhona Kholil Bangkalan itu.

Selama ini, Ra Fathur mengaku telah melakukan sosialisasi agar warga Madura khususnya Bangkalan untuk taat dan memperhatikan protokol kesehatan (prokes). “Saya minta kepada masyarakat supaya patuh protokol kesehatan. Ini adalah upaya kita bisa terhindar dari musibah COVID-19,” tandasnya.

Kericuhan terjadi di posko penyekatan Suramadu sisi Surabaya pada Jumat dini hari, 18 Juni 2021. Menurt polisi, saat itu, volume kendaraan, terutama sepeda motor, dari arah Madura lebih banyak dari biasanya.

Akibatnya, kendaraan dan pengendara yang mengantre untuk dites usap antigen menumpuk. Sebagian pengendara yang mengantre tidak sabar karena terburu-buru sampai di tempat kerja di Surabaya. “Semua masyarakat ingin cepat dilayani karena ingin cepat sampai di tempat kerja, tidak sabar, buru-buru sehingga terjadi miss," kata Kepala Kepolisian Resor Pelabuhan Tanjung Perak AKBP Ganis Setyaningrum.

Sempat tidak terkendali, petugas gabungan akhirnya berhasil mengurai massa dan kondisi bisa dikendalikan. Namun, sejumlah peralatan seperti meja dan kursi di posko tes usap antigen berantakan. “Tidak ada kerugian material maupun jiwa,” kata Ganis.

Akibat kejadian itu, banyak kendaraan yang semula mengantre lolos dari penyekatan dan melintas ke Surabaya. Mereka lepas dari proses skrining. Ganis mengaku tidak bisa menjamin apakah mereka yang lolos dari penyekatan bebas dari COVID-19 atau tidak.

Ia meminta masyarakat agar memaklumi upaya petugas untuk memutus rantai penularan COVID-19. Apalagi, saat ini strain B16172 dari India sudah menyebar di Jawa Timur dan ditemukan kali pertama dari hasil penyekatan di Suramadu.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel