FBI Akui Manfaatkan CIA untuk Mata-Matai Orang Amerika

Merdeka.com - Merdeka.com - Biro Investigasi Federal Amerika Serikat atau FBI mengungkapkan bagaimana mereka memanfaatkan CIA dan Badan Keamanan Nasional (NSA) untuk memata-matai kehidupan pribadi orang Amerika tanpa peringatan lebih dulu. Hal ini diungkapkan dalam buku pedoman terbaru FBI, yang pertama kalinya dibuat terbuka untuk umum sejak pemerintahan Barack Obama.

Buku pedoman tersebut, ditulis ulang pada 2021, mengonfirmasi penyadapan yang dilakukan bersama CIA dan NSA untuk penyelidikan FBI. Penyelidikan itu kemungkinan dilakukan tanpa perintah pengadilan terhadap orang-orang yang tidak ada tuduhan melakukan pidana apapun. Penyelidikan semacam itu disebut FBI sebagai "assessment atau penilaian".

Dikutip dari Washington Times, Kamis (12/1), pengungkapan ini dapat menuia kritik mengingat FBI sejak lama dituding melanggar kewenangannya dalam melakukan pengawasan keamanan nasional.

Komite Seleksi Permanen DPR untuk Intelijen dan Komite Kehakiman DPR sedang menyelidiki bagaimana badan-badan intelijen menargetkan orang Amerika.

Kerjasama FBI dengan agen federal lainnya serta pejabat negara bagian dan daerah dicantumkan dalam buku pedoman setebal 906 halaman yang ditulis selama pemerintahan Donald Trump dan direvisi di bawah Presiden Joe Biden. FBI menerbitkan Investigasi Domestik dan Panduan Operasi yang diperbarui secara online setelah menolak permintaan untuk mempublikasikannya.

Menurut buku tersebut, assessment dimaksudkan untuk mencegah kejahatan federal, melindungi dari ancaman terhadap keamanan nasional atau mengumpulkan intelijen asing.

NSA dan FBI menolak mengomentari hal ini. Sedangkan CIA mengatakan pihaknya mengikuti aturan dan menghargai privasi orang Amerika.

"CIA mengakui dan menganggap serius kewajiban kami untuk menghormati privasi dan kebebasan sipil warga AS dalam menjalankan misi keamanan nasional vital kami, dan menjalankan aktivitas kami sesuai dengan undang-undang AS, Perintah Eksekutif 12333, dan pedoman Kejaksaan Agung kami," jelas CIA kepada The Washington Times. [pan]