FBI Selidiki Robocalls Minta Warga AS 'Stay at Home' Saat Pilpres

Ezra Sihite
·Bacaan 2 menit

VIVAFBI sedang menyelidiki adanya telepon robot alias robocalls yang menghubungi rumah-rumah di Amerika Serikat (AS) dan meminta mereka justru tetap di rumah selama hari pemilihan presiden alias Election Day pada 3 November 2020. Robocalls misterius tersebut menurut Departemen Keamanan Dalam Negeri AS menjadi perhatian serius karena dianggap sebagai upaya untuk membuat partisipasi publik di Pilpres AS menjadi tak optimal.

Dikutip dari Channel News Asia, otoritas lokal di negara-negara bagian AS setidaknya mengindikasikan adanya dua jenis robocall yang mengusik warga AS memberikan hak pilih. Diketahui di Pilpres AS tahun 2020, petahana Capres Donald Trump dan Joe Biden bersaing ketat.

Di sejumlah negara bagian dilaporkan, para pemilih justru antre panjang mendatangi tempat pemungutan suara (TPS). Bahkan hingga 100 juta orang sudah memberikan hak pilih sebelum Election Day.

Ahli teknologi menyebutkan kepada media mereka memang menemukan adanya seruan kampanye yang meminta orang AS tetap berada di rumah walau tak disebutkan mereka jangan memilih.

"Sempat ada kebingungan yang ditimbulkan hal tersebut di seluruh negeri," kata Wakil Presiden Robokiller, Giulia Porter.

Robokiller merupakan sebuah perusahaan yang menentang operasi telemarketers dan robocalls dan mengawasi kampanye selama ini. Bunyi suara robocalls itu disebutkan memasang suara merdu seorang wanita.

"Hallo, ini adalah tes telepon. Waktunya tetap tinggal di rumah. Pastikan kalian aman dengan tinggal di rumah,"demikian bunyi robocalls pada beberapa waktu lamanya hingga Election Day.

Porter mengatakan bahwa robocalls tersebut sudah masuk hingga jutaan kali dalam beberapa bulan ini.

Diketahui Election Day AS sudah berakhir. Saatnya negara-negara bagian melakukan penghitungan. Namun yang perlu dicatat, pemilihan presiden AS bukan ditentukan berdasarkan suara terbanyak melainkan ditentukan dalam sistem yang dikenal sebagai electoral college dan bukan secara mutlak berdasarkan pada suara publik (popular vote).

Meskipun para pemilih di AS akan secara langsung memilih kandidat presiden melalui surat suara, namun hasil pemungutan suara itu tak menjadi penentu kandidat memenangkan pemilu. Sebaliknya, semua tergantung pada elector atau orang-orang dalam electoral college.

Di bawah sistem electoral college, setiap negara bagian di Amerika Serikat memiliki sekelompok elector yang dipilih oleh partai politik di negara bagian tersebut. Para elector terpilih ini kemudian menjadi perwakilan untuk memilih capres dan cawapres, yang memperoleh suara terbanyak di negara bagian masing-masing.