The Fed Naikkan Suku Bunga, Modal Asing Terancam Kabur

·Bacaan 1 menit

Liputan6.com, Jakarta Sebagai negara berkembang, tentunya ekonomi Indonesia sangat terengaruh sentimen global. Seperti salah satunya sentimen dari Bank Sentral AS.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan The Fed akan menurunkan tingkat obligasi pemerintahnya hingga 50 persen. Semula direncanakan USD 10 miliar menjadi USD 5 miliar sampai bulan Juni 2022.

"The Fed diperkirakan akan menurunkan tingkat obligasi pemerintahnya yang direncanakan dari USD 10 miliar menjadi USD 5 miliar hingga Juni 2022," kata Airlangga dalam Webinar Prospek Ekonomi Makro dan Sektor Keuangan 2022, Jakarta, Senin (22/11/2021).

Atas kebijakan tersebut sekuritas berbasis hipotek dikhawatirkan bisa memicu tingkat suku bunga. Peningkatan suku bunga ini akan mendorong arus modal asing dari negara berkembang.

"Peningkatan suku bunga (ini) nanti (berdampak menghasilkan) capital flight di negara berkembang termasuk Indonesia karena di sana tingkat bunganya lebih tinggi dari negara berkembang," kata dia.

Hal ini kata Menko Airlangga perlu menjadi catatan penting bagi Indonesia. Dalam hal ini Indonesia memiliki penyangga (buffer) sendiri yakni dari neraca perdagangan yang tumbuh positif selama 18 bulan terakhir. Selain itu devisa negara juga masih cukup untuk bisa menekan perdagangan.

"Kita punya neraca dagang positif dan devisa yang tinggi dan bisa menekan perdagangan," kata dia.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Selanjutnya

Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Berau menyebut tambang batu bara ilegal salah satunya di Jalan Cut Nyak Dien, Kecamatan Teluk Bayur.
Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Berau menyebut tambang batu bara ilegal salah satunya di Jalan Cut Nyak Dien, Kecamatan Teluk Bayur.

Selain itu, Indonesia juga harus memanfaatkan momentum kenaikan harga komoditas yang akan berlangsung selama 1,5 - 2 tahun ke depan. Di sisi lain, tetap harus menyiapkan infrastruktur mesin termasuk mempersiapkan sistem digitalisasi.

"Kita harus manfaatkan harga super komoditas yang tidak berlangsung lama, antara 1,5-2 tahun dan kita siapkan engine lain termasuk digitalisasi," kata dia mengakhiri.

Reporter: Anisyah Al Faqir

Sumber: Merdeka.com

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel