The Fed Naikkan Suku Bunga Ugal-ugalan, Krisis Keuangan Datang ke Negara Berkembang

Merdeka.com - Merdeka.com - Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati menegaskan kenaikan suku bunga yang dilakukan bank sentral Amerika Serikat (AS) sangat bisa memengaruhi ekonomi global. Kenaikan suku bunga dilakukan The Fed untuk merespon kenaikan inflasi di AS yang telah mencapai 9,1 persen.

Dijelaskan Menteri Sri Mulyani, penggunaan Dolar AS mendominasi transaksi dunia. Prosentasenya mencapai lebih dari 60 persen.

"Dampak dari inflasi 9,1 persen bulan juni yang direspon dengan kenaikan suku bunga yang makin agresif dari The Fed, jelas akan memengaruhi ekonomi global," kata Menteri Sri Mulyani dalam Konferensi Pers APBN KiTa, kemarin.

Ani, sapaannya mengatakan secara historis, setiap The Fed menaikkan suku bunga apalagi secara sangat agresif, biasanya diikuti oleh krisis keuangan dari negara-negara pasar berkembang. Sebagaimana yang terjadi pada 1974, 1980-an dan akhir 1980-an.

"Ini menjadi salah satu risiko yang dipantau oleh institusi, oleh IMF dalam melihat kerawanan negara-negara developing dan emerging," tuturnya.

Volatilitas yang meningkat juga menimbulkan kemungkinan penurunan atau pelemahan kinerja ekonomi negara-negara di seluruh dunia. AS dengan kenaikan suku bunganya akan memunculkan adanya tantangan atau ancaman resesi.

Ancaman Resesi Dunia Termasuk Indonesia

dunia termasuk indonesia
dunia termasuk indonesia.jpg

Menurut Bloomberg, survei probabilita AS mengalami resesi hingga mencapai 40 persen. Demikian juga Eropa yang sekarang dihadapkan dengan inflasi dan pengetatan moneter serta perang.

Kondisi ini membawa probabilita resesi Eropa hingga 55 persen. Selain itu, China yang merupakan ekonomi kedua terbesar di dunia menerapkan lockdown, probabilita dari resesi tahun ini negara tersebut mencapai 20 persen.

"Jadi kita lihat berbagai negara yang mereka dihadapkan pada dilema kenaikan inflasi dan pengetatan moneter yang menyebabkan pelemahan ekonomi mereka, mereka dihadapkan kemungkinan resesi," katanya.

Sementara itu, untuk Indonesia kata Ani, probabilita menuju resesi hanya 3 persen. Angka ini jauh lebih rendah dari negara-negara lain.

"Indonesia dalam hal ini probabilita untuk resesi adalah 3 persen, kalau dibandingkan negara-negara tersebut lebih kecil," kata dia.

Meski begitu, Menteri Sri Mulyani akan tetap waspada karena semua indikator ekonomi dunia mengalami pembalikan. Dari yang tadinya pemulihan menjadi pelemahan.

Selain itu di saat yang sama terjadi kompleksitas dari kebijakan yang bisa menimbulkan spillover policy moneter di negara maju. Ini berpotensi menimbulkan imbas negatif ke negara-negara di seluruh dunia termasuk Indonesia. [bim]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel