The Fed Siap Terapkan Tapering Akhir November 2021, Bagaimana Dampaknya ke Indonesia?

·Bacaan 5 menit

Liputan6.com, Jakarta - - Bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve (the Fed) resmi mengumumkan akan mengurangi laju pembelian obligasi atau tapering pada akhir November. Hal ini dilakukan untuk menarik sejumlah stimulus di pasar dan ekonomi.

Melihat keputusan ini, Head of Investment Information PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Roger menegaskan bila tapering yang akan dijalankan tidak terlalu berdampak untuk pasar saham Indonesia.

"Tapering tidak terlalu signifikan berdampak pada maret Indonesia. Bila terjadi capital outflow, tak akan terlalu signifikan," ujar Roger, Kamis (4/11/2021).

Roger juga menegaskan, investor lebih mencermati hasil laporan keuangan yang akan dirilis emiten pada kuartal III 2021 dan data perekonomian seperti Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Oktober yang mencapai level tertinggi 57,2.

"Investor akan cenderung melakukan window dressing dari laporan kuartal III di akhir tahun. Ekonomi juga cenderung mengalami perbaikan," ujarnya.

Melihat sentimen positif yang diberikan, Roger menyebut, IHSG diprediksi berada di posisi 6.880 hingga akhir tahun ini. Federal Open Market Committee (FOMC) menyebutkan penurunan pembelian obligasi atau tapering off akan dimulai akhir bulan ini.

The Fed akan kurangi USD 15 miliar setiap bulan antara lain USD 10 miliar dalam treasury atau surat berharga dan USD 5 miliar mortgage-backed-securities atau sekuritas berbasis hipotek dari aksi pembelian the Fed sebesar USD 120 miliar per bulan.

FOMC mengatakan, langkah itu dilakukan mengingat kemajuan substansial lebih lanjut yang telah dibuat ekonomi menuju tujuan FOMC sejak Desember lalu.

Pernyataan FOMC yang disetujui dengan suara bulat menekankan the Fed tidak berada di jalur yang telah ditentukan sebenarnya akan melakukan penyesuaian proses jika perlu.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

The Fed Umumkan Tapering

Pekerja melintas di dekat layar digital pergerakan saham di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (14/10/2020). Pada prapembukaan perdagangan Rabu (14/10/2020), IHSG naik tipis 2,09 poin atau 0,04 persen ke level 5.134,66. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Pekerja melintas di dekat layar digital pergerakan saham di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (14/10/2020). Pada prapembukaan perdagangan Rabu (14/10/2020), IHSG naik tipis 2,09 poin atau 0,04 persen ke level 5.134,66. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve (the Fed) mengumumkan akan segera mulai mengurangi laju pembelian obligasi bulanannya. Ini langkah pertama untuk kembali menarik sejumlah stimulus yang diberikan the Fed kepada pasar dan ekonomi.

Federal Open Market Committee (FOMC) menyebutkan penurunan pembelian obligasi akan dimulai akhir bulan ini. The Fed akan kurangi USD 15 miliar setiap bulan antara lain USD 10 miliar dalam treasury atau surat berharga dan USD 5 miliar mortgage-backed-securities atau sekuritas berbasis hipotek dari aksi pembelian the Fed sebesar USD 120 miliar per bulan.

FOMC mengatakan, langkah itu dilakukan mengingat kemajuan substansial lebih lanjut yang telah dibuat ekonomi menuju tujuan FOMC sejak Desember lalu.

Pernyataan FOMC yang disetujui dengan suara bulat menekankan the Fed tidak berada di jalur yang telah ditentukan sebenarnya akan melakukan penyesuaian proses jika perlu.

“Komite menilai pengurangan serupa dalam laju pembelian aset bersih kemungkinan akan sesuai setiap bulan, tetapi siap untuk menyesuaikan laju pembelian jika dijamin oleh perubahan prospek eknomi,” kata Komite, dilansir dari CNBC, Kamis (4/11/2021).

Langkah itu sejalan dengan ekspektasi pasar menyusul serangkaian sinyal the Fed akan mulai mempercepat program pengurangan stimulus. Stimulus diberikan sebagai respons terhadap pandemi COVID-19 pada Maret 2020.

Pasar bereaksi positif dengan saham menguat dan imbal hasil obligasi pemerintah naik. Seiring langkah untuk mengurangi, the Fed juga mengubah pandangannya tentang inflasi hanya sedikit. The Fed mengakui kenaikan harga lebih cepat dan bertahan lama dari pada yang diperkirakan oleh bank sentral tetapi masih tidak mendukung penggunaan kata “sementara”.

“Inflasi meningkat, sebagian besar mencerminkan faktor-faktor yang diperkirakan bersifat sementara,” dikutip dari pernyataan itu.

“Ketidakseimbangan pasokan dan permintaan terkait dengan pandemi COVID-19 dan pembukaan kembali ekonomi telah berkontribusi pada kenaikan harga yang cukup besar di beberapa sektor,”.

Banyak pelaku pasar mengharapkan the Fed untuk menghentikan bahasa sementara mengingat kenaikan inflasi yang terus menerus.

“The Fed meluncurkan penurunan quantative easing (QE) hari ini, seperti yang diharapkan secara luas, tetapi masih bersikeras lonjakan inflasi “sebagian besar” bersifat sementara yang menunjukkan the dovish masih memilih keunggulan,” tulis Ekonom Capital Economics, Paul Ashworth.

Sementara itu, Ketua the Fed Jerome Powell memperkirakan, inflasi akan terus meningkat karena masalah pasokan berlanjut dan kemudian mulai mundur sekitar pertengahan 2022.

“Harapan dasar kami adalah kemacetan dan kekurangan rantai pasokan akan bertahan hingga tahun depan dan juga meningkatkan inflasi,” ujar dia.

Ia mengatakan, seiring kemacetan rantai pasokan akan mereda dan pertumbuhan akan naik, ketika itu terjadi, inflasi akan turun dari level yang meningkat saat ini. Pernyataan itu juga mencatat ekonomi akan terus membaik terutama setelah masalah rantai pasokan diselesaikan.

“Kemajuan vaksinasi dan pelonggaran kendala pasokan diharapkan dapat mendukung peningkatan berkelanjutan dalam kegiatan ekonomi dan lapangan kerja serta pengurangan inflasi,” kata komite.

The Fed Tak Naikkan Suku Bunga

Ilustrasi the Federal Reserve (Brandon Mowinkel/Unsplash)
Ilustrasi the Federal Reserve (Brandon Mowinkel/Unsplash)

FOMC memilih untuk tidak menaikkan suku bunga mendekat nol. Langkah ini juga diharapkan oleh pasar. Ikatan antara suku bunga dan pengurangan adalah penting, dan pernyataan tersebut menekankan investor tidak boleh melihat pengurangan pembelian obligasi sebagai sinyal kenaikan suku bunga sudah dekat.

“Kami rasa belum saatnya menaikkan suku bunga. Masih ada alasan untuk (tidak menaikkan suku bunga-red)” ujar Powell.

Ia menambahkan, kalau ingin melihat pasar tenaga kerja sembuh lebih jauh.”Dan kami memiliki alasan yang sangat baik untuk berpikir itu akan terjadi ketika varian delta menurun yang sedang terjadi sekarang,” tutur dia.

Pada jadwal saat ini, pengurangan pembelian obligasi akan berakhir sekitar Juli 2022. Pejabat mengatakan tidak membayangkan kenaikan suku bunga dimulai sampai tapering selesai. Dari proyeksi yang dirilis pada September menunjukkan satu kenaikan paling banyak datang apda 2022.

Pasar, bagaimana pun telah lebih agresif dalam penetapan harga. Pada satu titik menunjukkan sebanyak tiga kali kenaikan pada 2022.Sentimen itu telah mereda dalam beberapa hari terakhir karena wall street mengantisipasi the Fed yang lebih dovish karena mencoba menyeimbangkan pertumbuhan yang melambat dan kenaikan inflasi.

Inflasi telah mencapai level tertinggi dalam 30 tahun didorong oleh rantai pasokan yang tersumbat, permintaan konsumen yang lebih tinggi dan kenaikan upah yang berasal dari kekurangan tenaga kerja yang kronis. Pejabat the Fed mempertahankan inflasi pada akhirnya akan kembali ke target dua persen. Namun, hal itu bisa memakan waktu lebih lama.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel