Federasi sebut penundaan Olimpiade timbulkan dampak keuangan buruk

Fitri Supratiwi
·Bacaan 1 menit

Asosiasi Federasi Olimpiade Musim Panas Internasional (ASOIF) menyebutkan bahwa penundaan Olimpiade Tokyo selama satu tahun menyebabkan kerugian finansial pada 28 federasi Olimpiade lokal di seluruh dunia.

Kendati terdampak secara keuangan, namun ASOIF meyakinkan bahwa federasi Olimpiade masih bisa bertahan dari kebangkrutan jika seandainya Olimpiade Tokyo dibatalkan tahun ini.

"Kami semua berkomitmen untuk menyelenggarakan Olimpiade tahun ini," kata Direktur Eksekutif ASOIF Andrew Ryan kepada Reuters, Kamis.

Baca juga: Petunjuk kuat Olimpiade Tokyo tetap digelar tahun ini

Olimpiade 2020 telah dijadwalkan ulang ke bulan Juli 2021 setelah ditunda karena wabah virus corona. Isu penyelenggaraan kembali menghangat setelah muncul kabar adanya pembatalan karena pandemi memburuk.

"Tapi jika yang terburuk terjadi (pembatalan) tentu saja federasi akan menderita. Beberapa anggaran harus dikeluarkan. Tapi pada umumnya federasi tidak akan menyatakan diri mereka bangkrut," pungkas Ryan.

Semua federasi Olimpiade menerima sejumlah besar uang setelah setiap pertandingan, yang dihitung berdasarkan ukuran dan popularitas olahraga mereka.

Baca juga: Panitia Tokyo 2020 bilang nasib Olimpiade kini ada di tangan AS

Model pendanaan yang diberikan oleh Komite Olimpiade Internasional (IOC) dibagi menjadi lima kelompok.

Olahraga top seperti atletik, senam, dan renang menerima sekitar Rp563 miliar di grup A, sementara olahraga yang lebih kecil seperti pentathlon modern dan olahraga Olimpiade baru seperti rugby dan golf mendapat sekitar Rp147 miliar juta di grup E.

Karena penundaan Olimpiade, suntikan dana tersebut juga ikut tertunda selama satu tahun.

Baca juga: Komite Olimpiade ingin periksa alasan kekhawatiran publik Jepang
Baca juga: Dewan Olimpiade bahas masalah Tokyo tapi pastikan bukan pembatalan