Fenomena 'Barcer' di Tengah Fase Pemulangan Jemaah ke Tanah Air

Merdeka.com - Merdeka.com - Jemaah haji hanya akan dipulangkan ke Tanah Air hanya diperkenankan membawa satu koper kabin maksimal berat 7 kilogram dan tas paspor dikalungkan di leher. Jika membawa tas lain, jemaah haji diminta memasukkannya ke dalam koper yang ada.

Jika tak lagi muat, mau tidak mau jemaah harus ikhlas meninggalkan barang mereka. Apalagi, bila memang dalam aturan penerbangan, barang tersebut dinyatakan dilarang dibawa ke pesawat atau ke area cabin.

Karena perampian koper tidak di satu titik, barang-barang peninggalan jemaah ditemui di tiap sudut bandara. Barang-barang tak lagi bertuan itu kemudian disebut barang tercecer atau barcer. Barcer jemaah kemudian dikumpulkan di satu tempat agar lebih rapi. Lalu dibawa ke mana?

Kasi Pelayanan dan Kepulangan Daerah Kerja Bandara, Edayanti Dasril, mengatakan biasanya barang-barang itu menjadi sampah yang akan diurus pihak bandara. Tetapi sekiranya ada yang membutuhkan, seperti petugas kebersihan bandara, dipersilakan mengambil.

"Kalau barang yang tidak perlu dibawa, itu kita persilakan mungkin ada teman-teman yang membutuhkan. Kadang yang bersih-bersih mengambil kebanyakan juga buah. Roti-roti dari hotel juga banyak dibawa. Kita persilakan untuk mereka yang membutuhkan untuk diambil. Sisanya berupa sampah dimasukkan ke dalam tempat sampah yang diurus oleh pihak tertentu di bandara," kata Eda kepada tim Media Center Haji (MCH) 2022, di Daker Madinah, Arab Saudi.

barang barang jemaah haji indonesia yang ditinggal di bandara
barang barang jemaah haji indonesia yang ditinggal di bandara

©2022 Merdeka.com/Lia Harahap

Dia bercerita awal mula munculnya istilah barcer. Menurut dia, barcer singkatan dari barang tercecer. Tetapi, tercecer dimaksud bukan terjatuh begitu saja kemudian berantakan, tetapi memang diminta dikeluarkan. Apalagi, jika memang tidak terlalu dibutuhkan untuk dibawa pulang ke Tanah Air.

"Misalnya gantungan baju, colokan listrik, kabel colokan, ember, sendok, piring, bekas makan mereka. Bahkan baju tidak pakai lagi juga sandal jepit," katanya.

Barang Bawaan Tak Dipakai Mengurangi Beban

Menurutnya, permintaan mengurangi barang bawan tidak dipakai untuk mengurangi beban di kompartemen pesawat. Apalagi, jika ditemukan cairan lebih dari 100 ml termasuk zamzam.

"Jadi yang kemarin dikeluarkan itu barang-barang kami tidak bilang itu tidak berharga. Mereka boleh memilih barang yang mereka akan bawa dan barang mana yang mereka akan tinggalkan," katanya.

Terhadap barang yang ditinggalkan tersebut, Eda menegaskan panitia tidak akan mengirimkannya ke Tanah Air. Sebab sejak jauh-jauh hari, katanya, petugas sudah melakukan sosialisasi secara massif, mulai dari jenis koper, kapasitas maksimal dan barang-barang yang boleh dibawa.

"Apabila ada jamaah haji yang berkeinginan untuk berbelanja, sebagai bentuk oleh-oleh mereka bisa membawa dalam proses cargo," tegas Eda.

Terpisah, Ketua PPIH Arsad Hidayat, menambahkan panitia memang tidak akan memfasilitasi barang jemaah yang telah dipilih untuk ditinggalkan. Apalagi, soal ketentuan barang bawaan sudah jelas hanya ada tiga item, koper bagasi 32 kg, koper bagasi 7 kg dan tas koper.

"Kita tidak memberikan atau fasilitasi untuk kirimkan barcer. Ketika terkena sweeping di bandara, kami dari pihak PPIH Arab Saudi juga tidak bisa mengirimkannya ke Tanah Air. Jadi tolong pastikan barang sudah dibeli bisa diangkut ke pesawat dengan ketentuan yang ada," jelas Arsad. [gil]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel