Fenomena Jemaah Haji Glamor Berhias Emas, Antara Strata Sosial dan Tradisi

Merdeka.com - Merdeka.com - Ratusan jemaah haji dari dua kelompok terbang (kloter) debarkasi Makassar telah tiba di Asrama Haji Sudiang Makassar sejak Jumat (29/7). Sejumlah jemaah, khususnya perempuan yang tiba di Makassar menjadi perhatian dengan tampilannya yang glamor setelah menjalankan ibadah haji.

Seperti yang diperlihatkan jemaah haji kloter 1 asal Makassar, Mastang Binti Kasara. Mastang yang turun dari pesawat Garuda Indonesia langsung berdandan ala princess. Tak hanya itu, sejumlah perhiasan emas terpasang di lengannya.

"Ini sudah dipersiapkan tadi di pesawat. Heboh tadi di pesawat," ujarnya kepada wartawan di Asrama Haji Sudiang Makassar, Kamis (28/7).

Mastang mengungkapkan sejumlah perhiasan emas yang dirinya kenakan dibeli saat di Arab Saudi. Meski demikian, ada beberapa perhiasan yang memang dia bawa sebelumnya berangkat haji.

"Emas ada yang beli di sana, ada juga yang dibawa dari sini," bebernya.

Mastang mengaku pelaksanaan haji tahun ini cukup istimewa. Pasalnya, ia bisa mendapatkan haji akbar.

"Haji tahun ini itu haji akbar, jadi saya senang sekali," ujarnya yang berangkat sendirian melaksanakan Rukun Islam kelima.

Pada hari kedua kedatangan kloter 2 asal Gowa, Sidrap dan Maros, tak kalah hebohnya. Sejumlah jemaah haji perempuan berdandan glamor dan memasang sejumlah perhiasan di lengannya saat tiba di Asrama Haji Sudiang Makassar.

Seorang jemaah haji, Mutmainnah Mansyur mengaku dirinya berpakaikan glamor sejak berada di pesawat dari Jeddah, Arab Saudi ke Makassar. Dengan mengenakan baju berwarna kuning dan sejumlah perhiasan, jemaah haji asal Kabupaten Maros ini terlihat paling mencolok.

"Kan yang begini hanya sekali seumur hidup. Apalagi yang begini katanya sudah tradisi setelah menjalankan ibadah haji," tuturnya saat ditemui di Aula Arafah Asrama Haji Sudiang.

Mutmainnah mengaku bukan hanya dirinya saja yang tampak glamor, sejumlah jemaah haji lainnya juga demikian. Bahkan, kata dia, ada jemaah haji yang membeli banyak perhiasan saat berada di Arab Saudi.

"Tadi ramai-ramai pakai baju dan penampilan seperti ini," sebutnya.

Hal senada disampaikan jemaah haji asal Gowa, Siti Hawa Dg Ngaseng. Ia menjelaskan masyarakat di sejumlah daerah di Sulsel ada tradisi terlihat glamor atau bling-bling saat pulang ke Indonesia usai menjalankan ibadah haji.

"Kayak Sidrap dan Pinrang, itu jemaahnya pasti pakai pakaian yang mencolok dan juga perhiasan emasnya. Sepertinya sudah kayak semacam tradisi atau budaya," kata dia.

Wanita berusia 56 tahun ini menyebutkan ada pergeseran strata sosial bagi warga yang sudah menunaikan ibadah haji. Karenanya, sejumlah jemaah haji ingin memperlihatkan perhiasan dan pakaian yang glamor.

Ketua DWP Kemenag Sulsel Anggap Kearifan Lokal

Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulsel, Heni Suwardani Khaeroni sangat terkesan dengan antusiasme warga Sulsel, terutama ketika melihat histeris keluarga penjemput dan tampilan busana jemaah haji perempuan yang baru turun dari Bus.

"Saya sangat terkesan dengan antusiasme warga Sulsel, khususnya suku Bugis Makassar dalam menunaikan Rukun Islam yang kelima ini. Semangat mereka dalam berhaji sulit dicari duanya di Indonesia. Dan tentu ini memberi dampak positif bagi semangat orang-orang Sulsel dalam membuka usaha," tuturnya.

Mengenai penampilan sebagian jemaah haji perempuan yang terkesan glamor dengan busana blink-blink ketika tiba di Asrama Haji, Heni menyebut itu tidak masalah sepanjang tidak mengabaikan nilai-nilai kesopanan dan tidak menyalahi syariat agama.

"Saya amati ini bagian dari kearifan lokal atau local wisdom orang Sulsel, bahkan ini sepertinya telah menjadi tradisi. Tentu ini ekspresi kebahagiaan dan kesyukuran mereka karena akan bersua kembali dengan sanak saudaranya yang ditinggalkan sebulan lebih," sambung Heni.

Dianggap Memuliakan Haji

Tokoh agama Sulsel, Muammar Bakry mengatakan tidak ada permasalahan terkait pakaian glamor jemaah haji saat tiba kembali di Indonesia, khususnya Makassar. Ia menyebut ada sudut pandang agama tidak ada yang perlu dipermasalahkan.

"Itu kan tergantung pada budaya masyarakat. Islam itu hanya mengajarkan soal tutup aurat, bagaimana modelnya itu urusan orang," ujarnya saat dihubungi melalui telepon.

Imam Besar Masjid Al Markaz Al Islami ini mengatakan penampilan glamor jemaah haji yang tiba di Makassar sudah menjadi tradisi. Ia mengaku dengan cara berpakaian seperti itu, jemaah haji menganggap memuliakan haji.

"Selama pakaian itu Islami dan menutup aurat, tidak memperlihatkan lekukan tubuhnya, itu silakan saja. Justru itu sebagai bentuk memuliakan haji," sebutnya.

Terkait adanya pandangan tentang riya, Muammar mengatakan hal tersebut merupakan urusan Tuhan. Dia menegaskan tidak ada keharusan bagi seseorang mengurusi penampilan orang lain.

"Kalau Riya itu urusan Tuhan, jangan kita urusi. Kadang-kadang orang kita itu mau urusi urusan orang lain misalnya menyumbang. Kenapa kita mau urusi hatinya orang. Mau Riya mau apa itu urusan Tuhan," tegasnya.

Terjadi sejak Tahun 1970

Sementara itu, Budayawan Universitas Hasanuddin Makassar, Ilham Daeng Makkelo menjelaskan penampilan glamor jemaah haji usai pulang dari Tanah Suci sudah menjadi budaya atau tradisi di sejumlah daerah di Sulsel. Ketua Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Unhas ini menyebutkan daerah seperti Kabupaten Sidrap dan Pinrang.

"Kita bisa melihat bagaimana posisi orang-orang yang sudah berhaji di tengah-tengah masyarakat. Misalnya, di daerah Sidrap atau pinrang, orang yang sudah berhaji itu kemudian itu persis mengenakan pakaian pas baru pulang dari tanah suci," sebutnya.

Berdasarkan historis, kata Ilham, tradisi itu muncul tahun 1950-an. Bahkan pada tahun 1970-an, orang yang sudah menunaikan ibadah haji disambut, diarak keliling kampung," kata dia.

Ali menyebut dengan berpenampilan glamor tersebut, bisa menjadi kebanggaan bagi sebagian orang yang telah menyandang gelar Haji. Bahkan dengan berpenampilan glamor, dianggap stratafikasi sosial masyarakat.

"Naik haji bagi sebagian masyarakat Sulsel adalah sebuah kebanggaan yang besar, selain niat beribadahnya. Tetapi kebutuhan kehidupan sosial itu hampir sama pentingnya dengan nilai-nilai ibadahnya itu sendiri," kata dia.

"Makanya kenapa kemudian pada saat pulang atau selesai berhaji, mereka ingin menampilkan simbol haji secara lebih menonjol, nyata, kliatan dan semarak. Karena berhaji itu kemudian menandai stratafikasi sosial masyarakat di Sulsel," imbuhnya.

Berdasarkan sejarah masa lampau, masyarakat yang bisa berangkat haji merupakan seorang bangsawan. Sehingga dengan berangkat haji, jemaah haji bisa mendapatkan strata sosial di masyarakat, khususnya dianggap sebagai tokoh agama.

"Walaupun mereka bukan keturunan bangsawan, tetapi setelah berhaji itu menjadikan mereka memiliki kedudukan sosial yang berarti di tengah masyarakat" sebutnya. [cob]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel