Ferdy Sambo Tak Minta Maaf ke Keluarga Brigadir J, Kuasa Hukum Nilai Bentuk Arogansi

Merdeka.com - Merdeka.com - Irjen Ferdy Sambo tak meminta maaf maupun empati terhadap keluarga Brigadir J alias Nofriansyah Yosua Hutabarat dalam sepucuk surat dibacakannya usai sidang etik pada Jumat (26/8) dini hari lalu.

Surat itu dibacakan Ferdy Sambo di hadapan majelis etik dan ditujukan kepada senior hingga Kapolri terkait dampak kasus pembunuhan Brigadir J dilakukannya.

Kuasa hukum keluarga Brigadir J, Kamaruddin Simanjuntak menilai sikap Ferdy Sambo itu merupakan bentuk arogan. Kamaruddin menyebut Ferdy Sambo sombong telah membunuh anak orang namun tak meminta maaf kepada keluarga korban.

"Nah sekarang dia sudah membunuh anak orang tapi tidak mau minta maaf, itu kan namanya kesombongan dan arogansi, dia (Ferdy Sambo) masih merasa hebat toh," kata Kamaruddin saat dihubungi, Minggu (28/8).

Padahal dilanjutkan Kamaruddin, jika Ferdy Sambo meminta maaf setelah membunuh Brigadir J, bisa saja terbebas dari jeratan Pasal 340 KUHP terkait pembunuhan berencana dengan pidana paling berat hukuman mati.

"Nah dia kan polisinya polisi, bintang dua, tertinggi di dalam propam, apa boleh main hakim sendiri, kalau dia merasa ada sesuatu yang perlu dituntaskan secara hukum, ya bawalah ke ini, ke persidangan. Bawalah ke persidangan, jangan main hakim sendiri," tutur dia.

Menurut dia, keluarga Brigadir sangat kecewa dengan sikap mantan Kadiv Propam Polri tersebut. Kekecewaan itu dirasakan setelah jenderal polisi bintang dua tersebut tak meminta maaf ke keluarga setelah membunuh Brigadir J.

"Ya kalau dari keluarga, mereka ini kecewa atas sikap jenderal bintang dua seperti itu dia sudah menghabisi anak orang. Tapi tidak merasa menyesal. Yaudah serahkan ada secara hukum seperti itu," kata dia.

Kamaruddin mengatakan, sejak kasus kematian Brigadir J mencuat awal Juli lalu hingga Ferdy Sambo ditetapkan tersangka pembunuhan, belum ada ucapan permintaan maaf keluar darinya. Permintaan maaf Ferdy Sambo ke keluarga Brigadir J dinilai Kamaruddin bakal meringankan hukuman.

"Belum ada, sampai dengan detik ini belum ada. Padahal saya ingin menolong dia. Kalau dia sadar dan bertobat saya ingin menolong dia, supaya jangan sampai kena hukuman mati," ujar dia.

Ferdy Sambo Dipecat Tak Hormat dari Polri

Polri sebelumnya menggelar sidang etik terhadap Ferdy Sambo di tengah pengusutan perkara pidana pembunuhan berencana terhadap Brigadir J. Sidang etik digelar pada Kamis (25/8) hingga Jumat (16/8) dini hari itu, memutuskan memecat tidak hormat Ferdy Sambo sebagai anggota Polri.

Keputusan majelis hakim etik itu setelah mendengarkan kesaksian 15 orang. Kesaksian 15 orang dalam persidangan yang berlangsung 16 jam lebih tersebut tak menceritakan dilakukan para saksi dalam rangka membantu Ferdy Sambo mengaburkan kematian Brigadir J.

Keterangan para saksi tak ada yang ditolak Ferdy Sambo. Dia mengamini semua skenario dirancangnya agar seolah-olah kematian Brigadir J murni tembak menembak dengan Bharada E di rumah dinasnya.

Kendati tak menolak kesaksian para saksi, Ferdy Sambo mengajukan banding terkait hasil sidang etik tersebut. Banding itu akan diproses dalam 21 hari ke depan sesuai putusan sidang yang memecat Ferdy Sambo.

Tak Ada Permintaan Maaf Ferdy Sambo ke Keluarga Brigadir J

Dalam persidangan itu, Ferdy Sambo juga menyampaikan penyesalannya telah mencoreng nama institusi Polri. Termasuk membuat sejumlah rekannya terlibat.

Permohonan maaf itu ditulis dan dibacakannya seusai majelis sidang memberikan putusan. Dalam sepucuk surat itu, Ferdy Sambo memohon maaf kepada senior dan rekan perwira tinggi perwira menengah perwira pertama dan rekan Bintara terkait dampak kasus pembunuhan Brigadir J.

Ferdy Sambo menyesal menyeret banyak nama para senior hingga bawahan di institusi Polri. Namun dalam surat dibacakan di depan majelis sidang etik itu, tak sedikit menyinggung penyesalan atau permohonan maaf kepada keluarga Brigadir J. Ferdy Sambo juga tak menyinggung keluarga Brigadir J terkait skenarip pembunuhan dilakukannya.

Berikut Isi Surat Permintaan Maaf Ferdy Sambo

"Rekan dan senior yang saya hormati dengan niat yang murni. Saya ingin menyampaikan rasa penyesalan dan permohonan maaf yang mendalam atas dampak yang muncul secara langsung pada jabatan yang senior, dan rekan-rekan jalankan dalam institusi Polri, atas perbuatan yang saya lakukan.

Saya meminta maaf kepada para senior, dan rekan-rekan semua yang secara langsung merasakan akibatnya. Saya mohon permintaan maaf saya dapat diterima dan saya menyatakan siap untuk menjalankan setiap konsekuensi sesuai hukum yang berlaku. Saya juga siap menerima tanggung jawab dan menanggung seluruh akibat hukum yang dilimpahkan kepada senior rekan-rekan yang terdampak.

Semoga kiranya rasa penyesalan dan permohonan maaf ini dapat diterima dengan terbuka dan saya siap menjalani proses hukum ini dengan baik sehingga segera mendapatkan keputusan yang membawa rasa keadilan bagi semua pihak. Terima kasih semoga tuhan senantiasa melindungi kita semua. Terima kasih Yang Mulia." [gil]