Ferdy Sambo Tak Terus Terang, Komnas HAM Masih Pertanyakan Jumlah Penembak Brigadir J

Merdeka.com - Merdeka.com - Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) masih mempertanyakan jumlah pelaku penembakan terhadap Brigadir J atau Nofriansyah Yosua Hutabarat. Hal ini disebabkan ada perbedaan keterangan tersangka terkait hal itu.

"Karena sekarang soal siapa sebetulnya yang menembak juga masih ada perbedaan," kata Ketua Komnas HAM Ahmad Taufan kepada wartawan di kantornya, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (29/8).

Dari hasil pemeriksaan, Ferdy Sambo itu tidak mengaku secara gamblang kalau dia ikut terlibat dalam penembakan Brigadir J. Namun, Bharada E mengatakan ada orang lain selain dirinya yang menembak Brigadir J.

"Saudara Ferdy Sambo tidak mengatakan secara terang-terangan dia melakukan penembakan, tapi Richard mengatakan (penembakan) selain dia, juga Ferdy sambo," tuturnya.

Oleh sebab itu, Taufan mengatakan, nantinya hal itu akan terungkap saat uji balistik. Hal itu akan membuktikan siapa pelaku penembak sebenarnya.

"Saya kira nanti balistik senjata macam-macam bisa membuktikan siapa sesungguhnya yang menembak. Satu orang, dua orang, atau mungkin bisa saja lebih dari dua orang," kata dia.

Ubah Keterangan

Sebelumnya, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengungkapkan Bharada E mendapatkan janji dari Irjen Ferdy Sambo akan menghentikan kasus pembunuhan Brigadir J. Janji itu disampaikan agar Bharada E bersedia mengaku menembak Brigadir J.

"Mendapat janji dari FS bahwa akan SP3 namun faktanya Richard masih sebagai tersangka," kata Sigit di RDP Komisi III DPR, Jakarta, Rabu (24/8).

Kemudian, kata Sigit, Bharada E tetap menjadi tersangka pembunuhan berdasarkan laporan dari pihak keluarga Brigadir J.

"Tanggal 5 Agustus, Richard ditetapkan tersangka atas laporan dari pengacara almarhum Yosua. Yang bersangkutan saat itu menyampaikan perubahan terkait dengan pengakuan sebelumnya," ujar dia.

Sigit menyebut, Bharada E akhirnya jujur dan terbuka mengubah keterangan awal karena tahu Irjen Ferdy Sambo gagal menepati janjinya. Dia menyebut hal ini membuat penyidikan pembunuhan Brigadir J semakin berjalan lancar dan terang benderang.

"Atas dasar itu maka Richard menyatakan akan memberikan keterangan secara jujur dan terbuka. Inilah yang membuat mengubah segala keterangan awal," tegas Sigit.

Setelah itu, Bharada E meminta pengacara baru dan tidak mau lagi dipertemukan dengan Irjen Ferdy Sambo. Listyo kemudian memerintahkan Timsus untuk menjemput Ferdy Sambo, hingga akhirnya ditempatkan khusus.
"Richard minta disiapkan pengacara baru, serta tidak mau dipertemukan dengan saudara FS," tutup Sigit.

Sekadar diketahui, penyidik sudah menetapkan lima tersangka dalam kasus pembunuhan Brigadir J, antara lain Bharada E alias Richard Eliezer Pudihang Lumiu, Bripka RR alias Ricky Rizal, Kuat Maruf alias KM, Irjen Ferdy Sambo alias FS, dan Putri Candrawathi alias PC.

Pada kasus ini, Bharada E dijerat dengan Pasal 338 KUHP tentang Pembunuhan Juncto 55 dan 56 KUHP.

Brigadir RR dan KM dipersangkakan dengan Pasal 340 KUHP tentang Pembunuhan Berencana subsider Pasal 338 juncto Pasal 55 dan Pasal 56 KUHP.

Sementara Ferdy Sambo dipersangkakan dengan Pasal 340 subsider Pasal 338 jo Pasal 55, Pasal 56 KUHP. Selanjutnya, Putri Candrawathi disangkakan dengan Pasal 340 KUHP juncto Pasal 55 dan Pasal 56 KUHP. [yan]