FIFA Ultimate Team dituding sebagai kasino yang dihadirkan ke rumah para pemain

Verdi Hendrawan

FIFA Ultimate Team (FUT) sukses menghadirkan banyak pemasukan kepada Electronic Arts sebagai developer game. Bahkan pada 2020, mode permainan ini telah sukses menghadirkan pemasukkan sebesar US$1,49 miliar atau nyaris Rp22 triliun.

Jumlah ini selalu melonjak dari tahun ke tahun. Jika dibandingkan dengan periode yang sama pada 2019, pemasukkan EA dari FUT ini sudah meningkat lebih dari US$100 juta.

Meski terbilang sukses dengan mode ini, FUT dianggap sebagai salah satu mesin pengeruk uang yang mirip dengan perjudian yang membuat pemain kecanduan.

Seperti yang dilaporankan oleh The Sun, salah satu pemain FIFA 20 yang kita sebut saja bernama Bruno, mengaku telah menghabiskan uang sebesar 13.000 pounds atau lebih dari Rp240 juta. Ia mengaku telah kecanduan dan merasa terjebak di dalam lingkaran setan, meski awalnya hanya iseng membeli demi meningkatkan kualitas tim FUT-nya.

“Sistem FUT adalah mimpi buruk. Saya telah menghabiskan 13.000 pounds dalam tiga tahun dan ini benar-benar seperti lingkaran setan. Saya memulai dengan membelanjakan uang 8,68 pounds (sekitar Rp160.000) untuk mencoba meningkatkan kualitas tim. Lalu saya melakukannya sekali lagi, dan terus berlanjut,” ucap Bruno.

Pada awalnya, Bruno selalu berpikir cukup hanya beberapa kali membuka pack card dan bakal mendapatkan pemain incarannya. Namun sistem FUT dibuat agar mendorong para pemainnya terus membeli pack card tanpa ada kepastian pemain yang menjadi incarannya bakal didapat. Hal ini yang membuat sistem ini bak sebuah perjudian.

Sebelumnya, dua pengacara Prancis, Karim Morand-Lahouazi dan Victor Zagury, sempat mengajukan gugatan kepada EA dengan mengklaim bahwa mode FUT merupakan sebuah perjudian.

“Dalam permainan ini, semua orang ingin memiliki tim impian untuk melangkah sejauh mungkin. Klien saya telah menghabiskan 600 euro (sekitar Rp9 Juta) dalam lima bulan tanpa pernah mendapatkan pemain yang bagus. Para pengembang mode permainan ini telah menciptakan sistem ilusi dan adiktif,” ungkap Zagury seperti dikutip dari Sport Bible.

“Semua ini adalah logika kasino yang telah dihadirkan ke rumah mereka. Saat ini, ada seorang remaja berusia 11-12 tahun, tanpa batasan apa pun, dapat memainkan mode FUT dan menghabiskan uangnya karena tidak ada sistem kontrol dari orang tua. Belgia dan Belanda sudah terlebih dahulu membahas tentang masalah ini,” tuturnya.

Kedua pengacara tersebut pun mengungkapkan bahwa saat ini di Prancis sudah ada banyak keluhan baru yang masuk dari para pemain berusia 19 hingga 42 tahun dari berbagai lapisan masyarakat yang mengeluh dengan sistem mikrotransaksi seperti ini.

Semoga hal ini dapat menjadi pelajaran bagi setiap gamer, terutama di Indonesia, untuk lebih bijak dalam membelanjakan uangnya, baik untuk game mau pun hal lain, terlebih jika tidak ada garansi bahwa apa yang Anda inginkan pasti bisa didapat.

BACA JUGA: AEFA Asian Cup 2020: Dramatis! Indonesia Imbangi Hong Kong