Fimela Lady Boss: Lika-Liku Motherhood Dewi Kauw, Dilema Ibu Bekerja Sampai Mom Shaming

·Bacaan 4 menit

Fimela.com, Jakarta Sosok seorang ibu memiliki arti dan peranan yang besar bagi kehidupan anak-anaknya dan keluarga. Ketika seorang perempuan telah menjadi seorang ibu, tidak bisa lagi ia memikirkan dirinya sendiri. Bahkan, terkadang seorang ibu kehilangan identitasnya sebagai pribadi karena dia adalah seorang ibu.

Hal ini dituturkan oleh Dewi Kauw, ibu dari tiga anak perempuan sekaligus founder dari Skin Dewi. Baginya, seorang ibu adalah tanggung jawab besar untuk memikirkan dan mengurus semua orang yang menggantungkan hidup padanya. Mengaku tidak terlalu dekat dengan sang mama, namun Dewi Kauw mempelajari banyak hal bagaimana cara mendidik dan mengurus anak-anaknya.

"Mamaku selalu bilang tugasnya dia sebagai ibu bukan mengerjakan semuanya untuk anaknya. Tapi tugasnya dia memastikan kalau sampai suatu hari dia udah engga ada, anak-anaknya bisa berdiri sendiri. Dia selalu bilang asalkan bisa membesarkan kalian, bisa berdiri sendiri, bisa melakukan semua sendiri, kalau sampai saya kenapa-napa dan kalian bisa bertahan hidup dan bisa berjaya, berarti aku sukses sebagai ibu," ungkap Dewi Kauw.

Inilah yang selalu dipegang Dewi Kauw saat mendidik dan merawat anak-anaknya, bahkan saat ia memutuskan kembali bekerja setelah melahirkan anak yang kedua. Gunjingan orang soal perannya sebagai ibu bekerja pun tidak bisa dihindari. Namun, Dewi Kauw memilih untuk tidak peduli dan fokus terhadap anak-anaknya.

Bisa lebih memberikan dampak bagi orang lain

Simak cerita Dewi Kauw yang mengalami delima soal kondisi kulit anaknya hingga membuatnya memiliki bisnis skincare organik (Foto: Fimela)
Simak cerita Dewi Kauw yang mengalami delima soal kondisi kulit anaknya hingga membuatnya memiliki bisnis skincare organik (Foto: Fimela)

"Ada aja omongan harusnya begini, harusnya begitu. Cuma balik lagi kalau kita mau dengerin semua orang, gimana ya. At the end of the day, we have to do right by us. Apa yang kita butuhkan, apa yang anaknya butuhkan. Percuma setiap kali hadir kebutuhan anaknya tidak terpenuhi," ungkap Dewi Kauw.

Saat menikah, Dewi Kauw memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga. Pernah berperan sebagai perempuan bekerja dan kemudian menjadi ibu rumah tangga, juga bukan perkara mudah bagi Dewi. Ia merasa hanya dengan menjadi ibu rumah tangga, ada sesuatu yang kurang. Ia merasa peran ibu rumah tangga yang ia pegang selama ini membuatnya justru membuatnya tidak berguna dan tidak bahagia.

"Udah, hidup gini doang? Lahir, sekolah, kuliah, lulus, kerja, nikah, jadi ibu rumah tangga. Udah, hidup gini doang? Dan aku engga happy, Karena aku tahu, hidupku masih bisa lebih dengan membantu banyak orang. Harusnya aku ada impact yang lebih besar. Aku engga happy dan engga puas," cerita Dewi Kauw.

Permasalahan kulit yang dialami anak keduanya seolah menjadi jawaban atas keinginan Dewi untuk melakukan suatu hal yang lebih. Berkat atopic dermatitis sang anak membuat Dewi memiliki bisnis sendiri di bidang skincare yang disebut Skin Dewi.

Dilema jadi ibu bekerja

Simak cerita Dewi Kauw yang mengalami delima soal kondisi kulit anaknya hingga membuatnya memiliki bisnis skincare organik (Foto: Fimela)
Simak cerita Dewi Kauw yang mengalami delima soal kondisi kulit anaknya hingga membuatnya memiliki bisnis skincare organik (Foto: Fimela)

Di sisi lain, kala Dewi Kauw mengembangkan bisnis Skin Dewi, ada rasa bersalah yang kerap ia rasakan terhadap anak-anaknya. Menjadi ibu multiperan membuat Dewi Kauw tidak bisa mencurahkan seluruh waktunya untuk menemani sang anak sepanjang waktu.

"Feeling guilty harusnya aku di rumah, harusnya lebih banyak nungguin anak, anterin anak ke skolah. Tapi yang aku menyadari adalah it's not quantity berapa jam kita nempelin anak ini, tapi lebih ke quality-nya. Bisa jadi secara fisik di sana, tapi secara emosional engga di sana," kata Dewi Kauw.

Dilema dan rasa bersalah yang dirasakan Dewi Kauw hilang saat ia menyadari apa yang sebenarnya anak-anaknya butuhkan. Yakni kebutuhan emosional akan kehadiran sang ibu di saat mereka butuhkan. Sehingga dengan waktu yang dimiliki diusahakan untuk fokus 100% untuk anaknya.

Menurutnya, waktu 1-2 jam berkualitas yang ia sisihkan sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan emosional anaknya. Mengakalinya, Dewi Kauw juga memanfaatkan waktu 15-30 menit sebelum tidur untuk bercengkerama dengan sang anak tanpa gangguan gadget atau pekerjaan di luar rumah.

Dilema saat tidak bisa memberikan ASI

(Daniel Kampua/Fimela.com)
(Daniel Kampua/Fimela.com)

Tidak berhenti sampai di situ, dilema Dewi Kauw sebagai seorang ibu juga dirasakan saat pemberian ASI untuk anak keduanya yang menderita atopic dermatitis. Di saat yang sama, Dewi pun jatuh sakit yang membuatnya tidak bisa memberikan ASI sepenuhnya untuk sang anak. Sekali diberikan ASI, alergi anaknya justru kambuh dengan kemerahan di sekujur tubuh.

"Memang itu engga gampang sih karena di dalam juga kamu kan seorang ibu, Harusnya kasih anaknya ASI. Kalau engga, gunanya kamu apa jadi seorang ibu? Ada self shaming-nya. Ini bagaimana setiap ASI, keluar merah semua, apa iya mau dipaksa? Lama-lama kan kita juga engga tega," ungkap Dewi Kauw.

Tidak bisa memberikan ASI sepenuhnya pada anak tidak mengurangi arti perannya sebagai seorang ibu. Hal ini juga berlaku saat Dewi Kauw dihadapkan pada pilihan melahirkan secara normal atau caesar. Ia pernah menjalani proses kelahiran normal pada anak pertama dan caesar untuk anak kedua dan ketiga.

"Aku ngga merasa less than mom karena aku caesar atau natural dulu. Feeling-nya sama aja. Bukan tergantung dari act of giving birth-nya tapi peran ibu kan seumur hidup. Bukan proses kelahirannya saja," tutup Dewi Kauw.

Simak video berikut ini

#changemaker