Final Euro 2020 Jadi Bukti Sepak Bola Menyerang Tetap Berjaya

·Bacaan 2 menit

Bola.com, Jakarta - Timnas Italia akan bertarung melawan Timnas Inggris pada final Euro 2020 di Stadion Wembley, Senin (12/7/2021) dini hari WIB. Bagaimana analisis taktiknya?

Transformasi taktik selalu berkembang dari waktu ke waktu. Tim-tim yang dahulunya terkenal dengan mazhab tertentu, kini tak lagi konservatif dan mau melakukan penyesuaian strategi di lapangan.

Total Football bukan lagi milik Belanda seorang diri, demikian juga dengan Catenaccio yang sempat identik dengan Italia. Semua tim tak lagi berpatokan dengan kejayaan masa lalu.

Permainan Italia di Euro 2020 mungkin menjadi wujud perubahan paling kentara dibandingkan tim-tim lain. Roberto Mancini berhasil memoles Gli Azzurri yang bermain atraktif tapi juga memiliki pertahanan yang sangat tangguh.

Dua palang pintu senior dalam diri Giorgio Chiellini dan Leandro Bonucci plus kiper Gianuluigi Donnarumma menjadi jaminan kekuatan pertahanan. Namun, dari sisi penyerangan, Gli Azzurri juga mampu menampilkan kombinasi memukau hingga mampu mencatatkan 12 gol (tertinggi kedua turnamen).

"Kalau diperhatikan, semua tim-tim yang sukses di ajang Euro ini merupakan tim-tim yang mengandalkan game passing mengandalkan possession. Tapi kalau dilihat keseluruhan, persentase operan di Piala Eropa ini memang tinggi sekali," ungkap pelatih Madura United, Rachmad Darmawan, Minggu (11/7/2021).

Jelas apa yang dipertontonkan Jorginho dkk bukanlah permainan yang menjadi ciri khas Italia di masa lalu. Ketimbang mempertahankan filosofi lama, Italia mengubah haluan menuju era baru dengan gaya sepak bola yang lebih memikat.

"Sampai dengan hari ini, lihat tim-tim yang filosofi sepak bolanya mengandalkan direct play terus strength power seperti Rusia, itu tetap enggak bisa melawan. Mereka konsisten dengan gaya mereka sementara tim-tim lain sudah bertransformasi," jelasnya.

Pelajaran Dari Laga Prancis vs Swiss

Ekspresi kapten Swiss, Granit Xhaka, saat mengalahkan Prancis di 16 besar Euro 2020, Selasa (29/6/2021) dini hari WIB. (JUSTIN SETTERFIELD/AFP)
Ekspresi kapten Swiss, Granit Xhaka, saat mengalahkan Prancis di 16 besar Euro 2020, Selasa (29/6/2021) dini hari WIB. (JUSTIN SETTERFIELD/AFP)

Pria yang akrab disapa RD tersebut juga mengamati bagaimana negara yang tak memiliki sejarah kuat di sepak bola internasional mampu menantang tim-tim raksasa. Menurutnya, laga paling seru pada gelaran kali ini terjadi saat Swiss menyingkirkan Prancis di babak 16 besar.

Berstatus juara dunia, Prancis harus kehilangan muka walalupun telah unggul dua gol dalam 10 menit terakhir. Xherdan Shaqiri dkk mampu memaksakan hasil imbang di detik akhir pertandingan sebelum menyingkirkan Les Bleus.

"Saya pikir tadinya mereka akan bermain sederhana dengan mengandalkan counter attack, tetapi tidak. Mereka memainkan sepak bola yang berani. Bisa dikatakan itu bukan hanya karena mereka bernasib baik saja," papar pelatih berusia 54 tahun tersebut.

Namun, dirinya menyesalkan kegagalan anak asuh Didier Deschamps tersebut mengawinkan dua trofi mayor. Padahal, kembalinya Karim Benzema ke skuad Prancis - setelah dibekukan enam tahun lamanya - memberikan banyak perspektif baru di permainan mereka.

"Transformasi Prancis sangat luar biasa. Banyak sekali mereka membuat permainan sepakbolanya dan kali ini bermain dengan possession. Hanya saja mungkin nasib mereka sedang tidak baik saja," tandasnya.

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel