Final, Indonesia Tak Mau Skandal All England Selesai dengan Maaf

Robbi Yanto
·Bacaan 2 menit

VIVA – Federasi Bulutangkis Dunia (BWF) memang sudah mengucapkan permohonan maaf atas insiden yang dialami tim bulutangkis Indonesia di All England 2021.

Melalui Presiden BWF, Poul Erik Hoyer Larsen, menyampaikan permohonan maaf kepada Presiden RI Joko Widodo, menteri terkait, duta besar, hingga fans bulutangkis Indonesia.

Permintaan maaf itu sudah diterima, namun hal itu dinilai belum cukup untuk mengetahui lebih jelas letak kesalahan BWF, dan akibatnya yang sangat merugikan Indonesia.

Pemerintah melalui Menteri pemuda dan olahraga (Menpora), Zainudin Amali sebelumnya mempersilajkan Komite Olaharaga Indonesia dan PBSI untuk mengajukan tuntutan ke Badan Arbitrase Olahraga Internasional (CAS).

Namun sebelum itu, Amali meminta KOI dan PBSI memikirkan secara matang soal gugatan yang akan dilayangkan.

Ketua KOI Raja Sapta Oktohari mengatakan, rencana untuk membuat gugatan ke CAS sudah final dan tidak mungkin mengurungkan niat. Saat ini mereka sedang memastikan terkait hal-hal apa yang ingin digugat.

"Apapun ceritanya bahwa hal kemarin sudah terjadi. Sudah ada dampak dari apa yang terjadi di All England kemarin. Itu akan dirincikan satu persatu. Soal maaf, tentunya orang berbududaya timur, saya Muslim, diajarkan bahwa memaafkan itu penting. Bahwa Tuhan saja maha pemaaf, apalagi kita," kata Okto dalam bincang-bincang dengan media virtual, Sabtu 27 Maret 2021.

"Namun, bukan berarti melupakan kesalahannya. Harus ada tindak lanjut, secara formal, harus ada mekanisme yang disampaikan, komplain resmi sehingga masing-masing bisa introspeksi. Kita tidak bisa terima atlet kita dihentikan begitu saja. Kami juga tak mau selesai dengan maaf. Kami sebagai KOI ingin mensosialisakan tata kelola organisasi dunia," sambungnya.

Okto juga menjelaskan telah berkoordinasi dengan PBSI, Sesmenpora Gatot Dewa Broto dan Presiden Konfederasi Badminton Asia (BCA), Anton Subowo untuk memastikan langkah-langkah yang diambil tidak salah.

"Langkah yang kami ambil ini adalah pencegahan. Kami memastikan, semua anak-anak mendapat perlindungan. Ada momentum, saya mendapatkan orang-orang yang memiliki cara pikir berbeda. Apa sih yang bisa kita lakukan selain membela mereka," ucap Okto.

"Kita tidak bisa biarkan atelt terlantar. Ini standing point saya sebagai ketua KOI, saya mengambil langkah formal. Semua gerakan ini tidak bisa sendirian, harus sama-sama," tegasnya.