Firasat Buruk Warga Afghanistan Usai Pasukan AS Angkat Kaki

·Bacaan 6 menit

"Saya sering bermimpi Taliban menguasai kota saya," kata Habib.

Habib adalah seorang jurnalis di Afghanistan dan selama delapan tahun terakhir ia bekerja untuk sebuah media yang didanai oleh tentara Jerman. Kontrak kerjanya diputus pada akhir Juni ketika pasukan internasional mulai angkat kaki dari negeri itu.

Gambar siluet Habib
Habib merasa nyawanya akan terancam jika Taliban berhasil menguasai kotanya.

Untuk alasan keamanan, ia meminta kami tidak menggunakan nama aslinya.

"Taliban akan membunuh saya jika mereka mengambil alih kota saya," kata Habib.

Taliban semakin dekat dengan kota tempat tinggal Habib yang terletak di utara Afghanistan, dan ia berkata jalanan kini sering sepi, yang membuatnya merasakan firasat buruk.

Jalanan sepi di Afghanistan
Habib mengatakan jalanan mendadak sepi setiap kali ada spekulasi tentang serangan Taliban.

"Setengah distrik [di provinsi] saya sudah jatuh ke tangan Taliban. Beberapa hari yang lalu, mereka mendekat sampai jarak 10 hingga 12 kilometer dari kota sebelum mereka didorong kembali," kata Habib.

Rakyat Afghanistan telah melalui konflik selama berpuluh-puluh tahun, namun banyak yang takut hal terburuk akan terjadi setelah Presiden AS, Joe Biden, mengumumkan penarikan seluruh pasukan pada bulan Agustus.

Pasukan yang dipimpin AS sebagian besar mampu menjaga stabilitas, namun ada keraguan yang meluas kalau tentara Afghanistan dapat melakukan hal yang sama.

Dicekam oleh rasa takut, banyak warga berebut untuk mendapatkan paspor.

Takut serangan balasan

Selama periode kekuasaan mereka yang singkat pada akhir 1990-an, Taliban mengeksekusi orang secara terbuka dan membatasi akses perempuan ke pendidikan dan pekerjaan.

Taliban mengatakan mereka telah berubah dan tidak akan lagi menggunakan kekerasan seperti itu.

Dalam sebuah pernyataan publik, mereka berkata orang-orang seperti Habib yang pernah bekerja untuk militer asing tidak akan disasar, namun ada syaratnya, "mereka harus menunjukkan penyesalan atas tindakan mereka di masa lalu dan tidak boleh terlibat di masa depan dalam kegiatan yang merupakan pengkhianatan terhadap Islam dan negara".

Habib skeptis dengan janji Taliban dan kelompok kampanye Human Rights Watch telah mendokumentasikan beberapa kasus serangan balasan oleh Taliban terhadap warga sipil yang dianggap mendukung pemerintah.

Foto Habib
Habib berkata ia telah mendengar suara tembakan dan ledakan di malam hari.

Habib yakin ia akan dicap sebagai pengkhianat, dan telah mengemas pakaian, uang, perhiasan, dan surat-surat berharganya dalam koper.

"Masyarakat kami berubah cepat. Orang-orang kini terang-terangan berkata kepada saya, `Kamu pernah bekerja untuk asing`. Ini membuat saya semakin takut."

Ia tidak yakin apakah ada kerabat atau kawannya yang akan menyembunyikannya dalam keadaan darurat, mengetahui bahayanya.

"Kami bekerja untuk orang Jerman. Kami telah menerbitkan berita-berita yang kritis terhadap Taliban. Bagi kami, ancaman terbesar datang dari mereka."

Habib dan kolega-koleganya sering bertemu untuk bertukar informasi.

"Saya pernah baca bahwa Jerman akan memberikan suaka kepada semua orang yang pernah bekerja untuk tentara mereka. Tetapi kami tidak tahu prosesnya akan seperti apa atau berapa lama," kata ungkapnya.

Beberapa warga mendaftar untuk visa dan Habib juga mencoba peruntungannya dengan memasukkan permohonan ke kedutaan besar India.

Ia kenal banyak orang yang telah membayar uang pada penyelundup manusia, namun ragu-ragu untuk mengambil jalan itu.

"Pergi secara ilegal sangat berisiko. Kami dapat dirampok atau bahkan dibunuh. Apa perbedaannya antara mati di sini dan mati dalam perjalanan ke Eropa?"

Ancaman

Tidak seperti Habib, banyak warga Afganistan lainnya mempertimbangkan semua rute pelarian, legal atau ilegal.

"Saya berusaha mendapatkan visa ke Inggris. Jika saya tidak mendapatkannya, saya akan pergi ke Eropa lewat jalur ilegal," kata seorang dokter dari Afghanistan timur kepada BBC.

Landasan terbang di bandara Bagram
Pasukan AS meninggalkan pangkalan udara Bagram pada 5 Juli.

"Dalam tiga bulan terakhir, sembilan anggota staf dibunuh dan empat lainnya terluka," ujarnya.

Sang dokter bekerja untuk sebuah kampanye kesehatan publik di empat provinsi di selatan.

Kampanye itu terhenti ketika ada serangan yang menewaskan lima tenaga kesehatan pada 15 Juni. Kelompok yang menyebut diri mereka Negara Islam (ISIS) diduga bertanggung jawab atas pembunuhan itu.

Sang dokter berkata ia telah mendapat sejumlah ancaman dari kelompok bersenjata antipemerintah yang beroperasi di wilayah itu, dan ia tidak yakin pemerintah dapat menjamin keamanannya.

Ayah tujuh anak itu ingin menjual semua harta miliknya dan pergi dari negeri itu sesegera mungkin.

Permintaan besar-besaran

Sangat sedikit warga Afghanistan yang bisa mendapatkan visa, dan banyak yang meminta bantuan pada jaringan kriminal karena putus asa.

"Permintaan sedang tinggi, jadi harga juga tinggi," kata Sami (bukan nama sebenarnya), penyelundup yang berbasis di Kabul.

Pertempuran
Pertempuran sengit terjadi antara tentara Afghanistan dan Taliban di banyak tempat.

"Dulu saya minta US$8.000 (Rp115 juta) untuk membawa satu orang ke Italia. Sekarang saya minta US$10.000 (Rp144 juta)."

Ini bukan jumlah yang sedikit di negara tempat pendapatan rakyatnya rata-rata hanya sekitar US$500 (Rp7,2 juta) per tahun.

Sejak AS meninggalkan pangkalan udara Bagram, Sami mengatakan bisnisnya berkembang pesat.

"Dalam dua minggu terakhir, saya telah mengirim sekitar 195 orang. Saya akan mengirim puluhan lagi tak lama lagi."

Perjalanan berbahaya

Sami mengatakan dia memberi tahu para klien tentang bahayanya, tetapi itu tidak pernah membuat mereka batal pergi. Beberapa dari mereka sudah pernah ditangkap dan dideportasi sebelumnya.

"Jika Taliban mengambil alih, lebih banyak orang akan terbunuh, karena itu banyak yang rela mengambil risiko," katanya.

Orang-orang itu diselundupkan melalui Iran ke Turki dan kemudian dikrim ke Yunani menggunakan perahu.

"Hampir 900 orang telah kehilangan nyawa mereka saat menyeberangi laut ke Eropa tahun ini," kata juru bicara UNHCR Babar Baloch.

"Saat ini ada hampir 9000 pencari suaka di kepulauan Yunani. Warga Afghanistan mencakup 48?ri populasi ini," ujarnya.

Menurut Global Trends Report UNHCR 2020, hampir tiga juta warga di Afghanistan terusir dari rumah mereka pada akhir tahun lalu, dengan sekitar 2,6 juta orang di luar negeri.

Dalam enam bulan pertama tahun ini, ada tambahan 200.000 warga Afghanistan yang mengungsi dan PBB khawatir akan terjadi "lebih banyak pengungsian di dalam negeri dan di luar perbatasannya".

Takut hal terburuk

Salah seorang migran yang membayar Sami adalah Asad (bukan nama sebenarnya), pemuda berusia 17 tahun dari Provinsi Nangarhar. Ia telah melintasi Iran dan berbicara kepada BBC - dengan nama dirahasiakan - dari kota perbatasan Turki, Van.

Pengungsi Afghan tidur di kamar yang penuh
Migran Afghan yang dibawa penyelundup harus tahan berdesak-desakan selama berminggu-minggu.

"Dalam beberapa minggu ke depan, akan ada pertempuran di jalanan," kata Asad.

Banyak kelompok bersenjata yang beroperasi di Afghanistan. Sebagian adalah bagian dari pemerintah dan musuh bebuyutan Taliban, dan yang lainnya adalah kelompok militan seperti ISIS.

"Kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada Afghanistan di masa depan. Saya ingin pergi ke tempat yang damai," kata Asad.

Ia tidak bisa bicara bahasa Inggris atau bahasa lainnya di Eropa. Ia pergi bersama sekitar tiga lusin laki-laki Afghanistan - kebanyakan dari mereka, seperti dirinya, belum tuntas sekolah dan tidak punya kemampuan teknis apa pun.

"Kalau saya ditangkap, saya akan mencoba lagi. Saya tidak mau tinggal di Afghanistan," ujaranya.

Asad - yang keluarganya terbilang kaya - mengatakan ia hendak mencari suaka di Prancis.

Antara harapan dan keputusasaan

Kembali ke Afghanistan, penantian mulai terasa menyiksa bagi Habib.

Habib
Habib berharap ia akan segera mendapat email yang mengundangnya ke Jerman.

Kotanya masih di bawah kendali tentara Afghanistan, namun Taliban tidak jauh dan ia mendengar ledakan dan suara tembakan di malam hari.

Ia khawatir tidak akan bisa ke luar negeri jika bandara tutup. Sementara itu, barang-barang miliknya terus kehilangan nilai dengan cepat.

"Tidak ada yang mau membeli mobil atau rumah. Orang-orang mau menjual semua barang mereka dan lari," ujarnya.

Habib terus menunggu pesan yang dapat menyelamatkan hidupnya.

"Kami hidup di antara harapan dan keputusasaan. Saya menanti email yang mengatakan `kamu bisa datang ke Jerman,`" ujarnya kepada kami.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel