Firli: Perbaikan Sistem Pemerintahan Akan Ciptakan Budaya Antikorupsi

·Bacaan 2 menit
Ketua KPK Firli Bahuri (kiri) menyampaikan keterangan terkait pengembangan kasus proyek jalan Bengkalis di Gedung KPK, Jakarta, Jumat (17/1/2020). Ada enam proyek jalan dengan nilai proyek sebesar Rp 2,5 triliun dan total kerugian negara sebesar Rp 475 miliar. (merdeka.com/Dwi Narwoko)

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Firli Bahuri mengatakan perbaikan sistem pemerintahan merupakan langkah untuk memasifkan budaya antikorupsi di Indonesia.

"Pada akhirnya, perbaikan sistem ini (sistem pemerintahan) akan menciptakan budaya antikorupsi yang masif yang membuat para pejabat Indonesia tampak bersih dan profesional," kata Firli Bahuri melalui unggahan di akun Twitter pribadinya @firlibahuri, dipantau dari Jakarta, Sabtu.

Perbaikan sistem pemerintahan yang memasifkan budaya antikorupsi itu, kata Firli, dapat dilakukan secara menyeluruh mulai dari lembaga legislatif, yudikatif, hingga eksekutif.

Dalam lembaga legislatif, Firli memandang para legislator sepatutnya mampu membaca kemungkinan keberadaan lubang dalam regulasi di Indonesia yang menyebabkan penyimpangan dalam pelaksanaannya lebih mudah terjadi.

Selanjutnya terkait lembaga yudikatif, ia memandang para pejabat di lingkungan itu sepatutnya memastikan bahwa peradilan di Indonesia terlaksana secara adil.

Dengan demikian, ujar Ketua KPK ini, masyarakat tidak hanya dapat melihat para pelaku korupsi diadili secara setimpal atas perbuatannya, tetapi juga akan merasakan rasa keadilan telah terpenuhi, terutama keadilan dalam sudut pandang hukum.

"Dan yang terpenting, tempat amanah dan anggaran negara, APBN dan APBD sebagian besar dialokasikan, yaitu para pejabat eksekutif dari pusat dan daerah," kata Firli seperti dikutip dari Antara.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Pemegang Amanah Uang dan Kekuasaan

Ketua KPK ini memandang para pejabat eksekutif sejatinya merupakan pemegang amanah uang dan kekuasaan. Karena itu, dalam pelaksanaan tugasnya, para pejabat eksekutif harus benar-benar memastikan pemerintah telah menaati undang-undang, bahkan diwajibkan pula kepribadiannya dipenuhi etika dan moral.

Melalui dua hal itu, menurutnya, para pejabat eksekutif akan mampu menjadi penyelenggara negara yang jujur, profesional, akuntabel, adil, baik, dan benar.

Di samping itu, Firli pun menambahkan peran dari partai politik dalam memasifkan budaya antikorupsi. Ia menyampaikan bahwa partai politik merupakan penyuplai para pejabat publik sehingga penting pula bagi mereka untuk menunjukkan pihaknya bersih dari korupsi.

"Semoga ke depan, kita semakin sedikit menyaksikan korupsi di sekitar kita karena perbaikan sistem yang kita lakukan secara terus menerus di semua bidang kehidupan," harap Firli Bahuri.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel