Fitriah TKW Indonesia di Singapura Terancam Hukum Gantung

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Vitria Depsi Wahyuni alias Fitriah, Tenaga Kerja Wanita asal Indonesia di Singapura, terancam hukuman gantung, atas tuduhan melakukan pembunuhan terhadap majikannya.

Hal itu diinformasikan oleh Juru Bicara Satgas Penanganan TKI di Luar Negeri, Humphrey Djemat, dalam siaran persnya yang diterima oleh Tribunnews.com, Kamis (8/12/2011).

"Saat ini sedang menjalani proses hukum di Singapura. Akibat perbuatannya dengan tuduhan melakukan pembunuhan terhadap majikan perempuannya, Sng Gek Wah, berumur 81 tahun, maka Fitriah beresiko i hukum gantung sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Singapura," ujar Humphrey.

Menurutnya, Wanita asal Desa Serut RT 4 RW 01, Kecamatan Panti Kabupaten Jember, Jawa Timur, tersebut diduga melakukan pembunuhan tersebut pada 26 November 2009. Namun Fitriah menurutnya tidak sengaja membunuh.

"Alasan ini cukup kuat karena terjadi perkelahian di antara dirinya dengan majikannya, dan juga latar belakang tekanan psikis dan fisik yang dialaminya saat bekerja," katanya.     

Humphrey membeberkan, Fitriah mulai bekerja di rumah majikannya tersebut pada tanggal 21 November 2009. Ia bekerja di rumah majikannya tersebut dengan memalsukan usianya yaitu 23 tahun (kelahiran 1 Juli 1986).

Pihak Tim pengacara dan KBRI singapura, menurutnya sudah menginformasikan kepada pihak keluarga Fitriah di Jember, bahwa anggota keluarganya tersebut terancam hukuman mati di Singapura. Informasi tersebut menurutnya juga diketahui oleh Bupati Jember, M.Z.A. Djalal.

"Akhirnya Bupati Jember mengirim utusan khususnya, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans), Mohammad Thamrin, datang ke Jakarta menemui Juru Bicara Satgas, pada hari ini, Rabu tanggal 7 Desember 2011 di Jakarta. Saat kunjungan tersebut, saya menjelaskan  masalahnya secara terbuka , di mana masih ada peluang meloloskan Fitriah dari hukuman gantung. Di mana faktor usianya yang di bawah umur akan menjadi alasan hukum agar Fitriah tidak dikenakan hukuman mati," bebernya.

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.