Fitur-Fitur Ini Bisa Mengantisipasi Terjadinya Kemungkinan Buruk Kala Berkendara Saat Hujan Deras

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta - Pengemudi dituntut meningkatkan kewaspadaan dan memiliki konsentrasi tinggi saat mengendarai mobil di tengah guyuran hujan. Pasalnya, kondisi jalanan yang basah dan licin berpeluang meningkatkan risiko terjadinya kecelakaan.

Dijelaskan Sony Susmana, Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), ada beberapa kemungkinan buruk yang dihadapi saat berkendara di tengah guyuran hujan.

"Yang pertama adalah Aquaplaning. Kondisi hujan dan banyak terdapat genangan air dipermukaan jalan membuat ban selip akibat ban tidak atau kurang mampu menyibak air dengan sempurna," terang Sony saat dihubungi Liputan6.com.

Dirinya mengimbau agar tidak menganggap remeh Aquaplanning. Menurutnya, untuk mengantisipasi Aquaplanning dibutuhkan perhitungan yang matang, ketenangan, kontrol emosi, dan skill agar kendaraan terkontrol.

"Skill di sini bicara kemampuan mengantisipasi," katanya.

Lebih lanjut Sony menyampaikan, setidaknya ada tiga cara yang bisa dilakukan sebelum maupun saat terjebak Aquaplanning.

"Segera kurangi kecepatan. Ini langkah pertama untuk hasil akhir yang baik. kuncinya adalah rileks dan fokus. Kemudian amati kondisi sekitarnya. Mulai lah berhitung, di mana ada genangan air dan juga lihat lalu lintasnya," jelasnya.

Langkah berikutnya ialah terapkan safety driving. Ketika berkendara di kondisi hujan atau cuaca ekstrim, semua gejala keseimbangan mobil pasti terganggu. Maka dari itu, terapkan posisi sigap.

"Duduknya harus sempurna, pegang dan memutar setirnya tidak kaku, sehingga mampu bereaksi positif dalam mengantisipasi gejala-gejala yang berpotensi kendaraan menjadi selip," tutur Sony.

Antisipasi Genangan Air

Ketika dari jauh permukaan jalan sudah terlihat tergenang air, segera kurangi kecepatan kendaraan sebelum masuk ke genangan air.

"Segera angkat kaki dari pedal gas, tahan kemudi ke arah depan dan pastikan sudut mobil lurus, tidak miring," ujarnya.

Menurut Sony, arah mobil yang tiba-tiba berubah padahal setir sudah diarahkan lurus ke depan bisa disebabkan oleh banyak hal. Bisa dari pengaruh angin (cross wind) atau ban yang sudah mulai botak atau kembangan ban yang tidak sama atau kecepatan kendaraan yang masih terlalu tinggi.

Kaget menjadi salah satu reaksi alami yang bisa dirasakan pengemudi. Akibat kaget inilah kebanyakan pengemudi refleks menginjak pedal rem.

"Ngerem ini bukan solusi benar saat Aquaplaning. Maka akhir dari kebiasaan salah itu berujung petaka alias slip. Di saat itulah pengemudi dalam kondisi 90 persen accident," jelas Sony.

Seperti diketahui, slip ini terjadi sangat cepat. Bisa dalam hitungan sepersekian detik. Oleh karenanya dibutuhkan reaksi yang benar. Pengemudi harus bisa menganalisa dan rasakan.

"Kalau slipnya roda depan (understeer) dan mobil mengarah ke kiri atau kanan, segera counter steer dengan smooth,"

"Kalau oversteer, segera putar steer sesuai dengan arah mobil, tidak di-counter, tujuannya supaya mobil berputar diporosnya. Tapi perlu diingat, tingkat keberhasilannya kecil, putaran mobil 360 derajat bisa membuat pengemudi kehilangan arah," Sony menambahkan.

Jenis Slip

Menurut Sony, selain langkah-langkah di atas seperti mengurangi kecepatan, kendaraan akan lebih mudah dikontrol apabila dilengkapi fitur Electronic Stability Control (ESC). "Perangkat tersebut membuat kendaraan lebih stabil ketika di jalan licin," katanya.

Kemudian, kemungkinan buruk lainnya yang dihadapi saat berkendara di tengah guyuran hujan adalah slip. Ada dua jenis slip yang mesti diwaspadai, yakni corner slip dan braking slip.

Sony menyebutkan, corner slip terjadi akibat ketidakmampuan pengemudi dalam menguasai kendaraannya dikecepatan tinggi atau overspeed pada sebuah tikungan.

"Sementara braking slip terjadi akibat gaya mengemudi yang agresif sehingga melakukan pengereman secara keras, yang harus dilakukan pengemudi adalah mengurangi kecepatan kendaraan dan jaga jarak aman," tambahnya.

Menurutnya, mobil-mobil yang telah dilengkapi fitur pengereman ABS (anti-lock braking system) dan ESC dapat membantu pengemudi untuk meminimalisasi gejala slip.

Visibilitas Terbatas

Fitur camera 360 pada Wuling Almaz. (ist)
Fitur camera 360 pada Wuling Almaz. (ist)

Kemungkinan buruk lain yang pasti dihadapi kala berkendara saat hujan adalah visibilitas yang terbatas. Kondisi seperti ini menuntut pengemudi untuk meningkatkan konsentrasi.

"Terlebih lagi saat harus berpapasan pada kondisi jalan yang sempit biasanya pengemudi memiliki keragu-raguan dalam mengambil keputusan untuk bertindak, reference point tidak dapat dijadikan patokan lagi, sehingga adanya fitur camera 360 bisa sangat membantu pengemudi," beber Sony.

Untuk diketahui, fitur-fitur di atas ternyata dimiliki Wuling Almaz. Khusus fitur camera 360 terdapat pada varian Exclusive.

Jika fitur tersebut diaktifkan maka monitor akan menampilkan hasil tangkapan kamera depan, samping, dan belakang, serta garis pembantu, dan posisi sonar yang aktif.

Dan kemungkinan lain yang bisa dihadapi adalah banjir. Air yang keruh membuat permukaan jalan jadi tak terlihat. Inilah yang mesti diwaspadai dan mewanti-wanti adanya lubang atau saluran air yang sewaktu-waktu bisa saja membuat mobil terperosok.

"Pastikan ketinggian genangan tidak lebih dari setengah tinggi ban, melintas dengan kecepatan yang pelan untuk mengurangi efek ombak, dan melihat kondisi yang ada di sekeliling," tutup Sony.

Infografis Menanti Momentum Pasar Otomotif Memuncak Lagi

Infografis Menanti Momentum Pasar Otomotif Memuncak Lagi. (Abdillah/Liputan6.com)
Infografis Menanti Momentum Pasar Otomotif Memuncak Lagi. (Abdillah/Liputan6.com)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: