Flashback Aksi Kiper Asing di Liga Indonesia: Ada Jadi Idola, Pesakitan dan Peraih Trofi Juara

·Bacaan 4 menit

Bola.com, Jakarta - Sukses Arema FC menembus papan atas BRI Liga 1 tak dilepaskan dari aksi kiper asal Brasil, Adilson Maringa. Lewat berbagai penyelamatan cemerlangnya, tim kebangaan masyarakat Malang ini hanya kebobolan sembilan gol.

Penampilan apik pria kelahiran 22 Augustus 1990 ini pun sontak memunculkan kenangan aksi sederet kiper asing yang pernah berkiprah di Liga Indonesia.

Mereka adalah Daryl Sinerine (Trinidad & Tobago), Mbeng Jean Mambalaou (Kamerun), Mariusz Mucharski (Polandia), Sinthaweechai Kosin Hathairattanakool (Thailand), Sergio Vagas (Chile), Zheng Chen (China), Evgeny Khmaruk (Moldova), Yoo Jae-hoon (Korea Selatan), Deniss Romanovs (Latvia) dan Srdjan Ostojic (Serbia).

Selain ke-10 nama ini, ada juga kiper asing asal Makedonia yang berkiprah di Liga Primer Indonesia bersama Solo FC.Daryl Sinerine yang menjadi kiper asing pertama yang langsung mencuri perhatian publik sepak bola Tanah Air. Ia menjadi pilar utama di bawah mistar gawang Petrokmia Putera yang berhasil menembus final Liga Indonesia 1994/1995.

Sayangnya, pada laga puncak yang berlangsung di Stadion Gelora Bung Karno, Petrokimia Putera takluk dari Persib Bandung dengan skor 0-1.

Sebagai pengakuan atas aksi cemerlangnya bersama Petrokimia, nama Daryl Sinerine masuk dalam daftar pemain yang berlaga di perang bintang Liga Indonesia. Seperti diketahui pemain yang terpilih pada laga ini berdasarkan pooling sms dari pecinta sepak bola tanah air.

Langkah Daryl Sinerine diikuti oleh Mbeng Jean Mambalaou yang direkrut Persija pada 1997. Memiliki refleks bagus, pembacaan arah bola apik serta teriakan keras untuk mengkoordinasi lini belakang jadi trade mark Mbeng Jean Mambalaou di setiap laga tim Macan Kemayoran.

Ia pun menjadi kiper asing pertama yang berhasil meraih trofi juara setelah Persija Jakarta mengalahkan PSM Makassar pada laga final Liga Indonesia 2000/2001 di Stadion Gelora Bung Karno.

Yoo Jae-hoon Peraih Dua Trofi Juara

Kiper Persipura, Yoo Jae-hoon, memberikan instruksi saat melawan Bhayangkara FC pada laga Liga 1 Indonesia di Stadion Patriot, Bekasi, Sabtu (9/9/2017). Bhayangkara FC menang 2-1 atas Persipura. (Dok Bola.com)
Kiper Persipura, Yoo Jae-hoon, memberikan instruksi saat melawan Bhayangkara FC pada laga Liga 1 Indonesia di Stadion Patriot, Bekasi, Sabtu (9/9/2017). Bhayangkara FC menang 2-1 atas Persipura. (Dok Bola.com)

Kiper asal Korea Selatan, Yoo Jae-hoon meneruskan sukses Mbeng Jean Mambalaou. Datang ke Persipura pada 2010, Yoo Jae-hoon menjadi kiper asing tersukses di kompetisi kasta tertinggi Tanah Air dengan membawa tim Mutiara Hitam meraih trofi juara Liga Indonesia musim 2010/2011,dan 2013.

Ia juga menjadi bagian utama Persipura ketika berjaya di Piala Inter Island 2013 dan Torabika Soccer Champhionship 2016.Selain gelar tim, Yoo Jae-hoon juga pernah meraih penghargaan personal dengan menjadi kiper terbaik Liga Super Indonesia 2013.

Selain Persipura, Yoo Jae-hoon pernah memperkuat Mitra Kukar, Bali United dan Barito Putera. Belakangan, Yoo Jae-hoon beralih profesi menjadi pelatih. Kini, ia menjadi staf pelatih tim nasional Indonesia dibawah kepemimpinan Shin Tae-yong.

Kiper Idola

Sinthaweechai Hathairattanakool. (Bola.com/Dody Iryawan)
Sinthaweechai Hathairattanakool. (Bola.com/Dody Iryawan)

Selain mereka, ada juga kiper yang menjadi idola pendukung timnya meski tak berhasil mempersembahkan gelar juara, di antaranya, Sergio Vagas (Chile), Zheng Chen (China) dan Sinthaweechai Kosin Hathairattanakool (Thailand).

Vargas misalnya, meski berkarier singkat di PSM Makassar, eks kiper timnas Chile jadi tembok kukuh Juku Eja di bawah mistar gawang Juku Eja.

Andai ia bertahan sampai kompetisi musim 2004 berakhir, PSM yang diasuh mendiang Miroslav Janu berpeluang besar meraih trofi juara. Seperti diketahui PSM hanya kalah selisih gol dari sang juara Persebaya Surabaya.

Begitu pun dengan Zheng Chen yang menggantikan peran Hendro Kartiko di Persebaya jelang musim 2005. Meski usianya masih 18 tahun, Zhen Cheng menjelma jadi idola publik Surabaya berkat aksinya di lapangan hijau.

Hal sama dialami oleh Sinthaweechai Kosin Hathairattanakool (Thailand) di Persib Bandung. Kosin, panggilan akrabnya tercatat dua periode berkostum Maung Bandung yakni pada 2006 dan 2009/2010.

Kelebihan Kosin adalah jeli membaca arah bola membaca bola, penempatan posisi yang baik serta kuat dalam duel satu lawan satu.

Jadi Pesakitan

Nasib kiper seleksi Arema FC, Srdan Ostojic, masih belum diputuskan oleh manajemen tim. (Bola.com/Iwan Setiawan)
Nasib kiper seleksi Arema FC, Srdan Ostojic, masih belum diputuskan oleh manajemen tim. (Bola.com/Iwan Setiawan)

Ada juga kiper asing yang terbilang baik tapi gagal bersinar di klub masing-masing. Diantaranya Mariusz Muscharski yang datang ke Persib pada musim 2003/2004.

Postur tinggi besar membuat Bobotoh sempat berharap banyak pada kiper berpaspor Polandia ini. Sayang, penampilan Muscharski jeblok.

Pengalaman kurang menggembirakan juga dialami oleh Evgeny Khmaruk yang berkostum Persija Jakarta pada musim 2007/2008. Ia sempat digadang-gadang jadi penerus sukses Mbeng Jean Mambalaou.Tapi, namanya tercoreng usai terlibat insiden dengan Cristian Gonzalez yang saat itu memperkuat Persik Kediri.

Nama Evgeny Khmaruk pun masuk dalam daftar hitam dan tidak direkomendasikan untuk direkrut di Liga Indonesia musim berikutnya.

Begitu pun dengan Srdjan Ostojic (Serbia) yang direkut Arema FC pada Liga 1 2018. Sempat tampil gemilang pada laga perdananya bersama Arema FC saat menekuk Sriwijaya FC 3-0, penampilan Ostojic mengalami anti klimaks pada laga selanjutnya sehingga akhirnya berkarier singkat di tim asal Malang itu.

Intip Posisi Tim Favoritmu

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel