Flashback Menyenangkan : Kisah Singkat Barisan Pemain Muda Jelang Piala Dunia 2014

Bola.com, Jakarta - Korea Selatan maju tak gentar ke Qatar. Negeri Ginseng siap membuat kejutan di Piala Dunia 2022, seperti yang mereka toreh di edisi 2002. "Kami siap menghadapi semua tantangan tanpa sasa takut," kata mesin gol Taegeuk Warriors, Son Heung-Min, dilansir Reuters.

Mewakili Asia, Negeri Ginseng siap tampil habis-habisan. Son dan kolega tak bermaksud menghembuskan angin surga. "Kami harus memasuki stadion dengan keyakinan penuh," ujar bomber kepunyaan Tottenham Hotspur itu, sangat percaya diri.

 

Banyak Aral

Korea Selatan akan mendapat banyak hambatan, mengingat mereka berada di grup G yang berisikan tim-tim horor macam Ghana, Uruguay, serta Portugal. Namun, sepertinya, Son ingin mengatakan lebih baik 'GR' (gede rasa) dari pada minder.

Ngomong-ngomong, ini bukan Piala Dunia pertama Son. Pencetak gol terbanyak Premier League musim lalu itu juga mendapat kepercayaan penuh guna memperkuat Korea Selatan di Piala Dunia 2014 Brasil.

 

Deretan Anak Muda

Kala itu, dalam usia 21 tahun, Son masuk bursa lantaran tampil menggemaskan bersama Bayer Leverkusen. Tak pakai lama, dia mengemas 10 gol untuk Leverkusen pada musim 2013/2014 setelah diboyong dari Hamburger SV.

Jadi, tak ada alasan bagi pelatih Hong Myung-bo untuk tak membawanya ke Negara Samba. Tak cuma Son, sejumlah pemain muda juga jadi pemberitaan hangat jelang bergulirnya Piala Dunia 2014.

Kala itu, mereka digadang-gadang bakal cemerlang dan tak menutup kemungkinan menjadi incaran klub-klub beken Benua Biru. Di bawah ini empat di antaranya.

 

Antoine Griezmann (Prancis)

Antoine Griezmann pada tahun 2014 saat mengikuti sesi latihan bersama tim Prancis pada ajang Piala Dunia FIFA 2014 di Stadion Santa Cruz, Ribeirao Preto, Brasil. (Photo by Franck Fife / AFP)
Antoine Griezmann pada tahun 2014 saat mengikuti sesi latihan bersama tim Prancis pada ajang Piala Dunia FIFA 2014 di Stadion Santa Cruz, Ribeirao Preto, Brasil. (Photo by Franck Fife / AFP)

Melupakan hasil buruk di Afrika Selatan empat tahun sebelumnya, Prancis bersih-bersih. Didier Deschamps yang didapuk sebagai pelatih baru putar otak guna membangun armadanya.

Sang legenda tak ingin jadi sasaran hujatan seperti yang dialami pendahulunya, Raymond Domenech. Dengan banyak pertimbangan, Deschamps, pelan namun pasti, kembali merancang skuad Les Bleus yang sempat remuk.

Deschamps lalu memanggil Griezmann. Anak muda 23 tahun itu tentu saja senang dan bernazar tak akan mengecewakan Deschamps.

 

Mario Goetze (Jerman)

Mario Gotze akan memperkuat Eintracht Frankfurt pada musim depan. Ia dibeli dari PSV Eindhoven seharga 10 juta euro dengan kontrak hingga 2025. Sosok Gotze masih menjadi ingatan hangat saat jadi pahlawan kemenangan Timnas Jerman menjuarai Piala Dunia 2014 silam. Meski tak muda lagi, pengalaman pria 30 tahun tersebut akan dibutuhkan oleh skuat yang berjuluk Die Alder. (AFP/Kenzo Tribouillard)
Mario Gotze akan memperkuat Eintracht Frankfurt pada musim depan. Ia dibeli dari PSV Eindhoven seharga 10 juta euro dengan kontrak hingga 2025. Sosok Gotze masih menjadi ingatan hangat saat jadi pahlawan kemenangan Timnas Jerman menjuarai Piala Dunia 2014 silam. Meski tak muda lagi, pengalaman pria 30 tahun tersebut akan dibutuhkan oleh skuat yang berjuluk Die Alder. (AFP/Kenzo Tribouillard)

Bagi Jerman, peringkat tiga atawa runner up bukanlah pencapaian mentereng di Piala Dunia. Sebelum Piala Dunia 2014, Panser Eropa tak menuai hasil mengecewakan dalam tiga edisi beruntun.

Pada Piala Dunia 2002, mereka finis di peringkat kedua. Lalu, empat tahun kemudian Jerman di posisi ketiga. Di edisi 2010, mereka bertengger di peringkat ketiga.

 

Pilihan Oke

Tapi, bagi tim sekaliber Jerman, juara adalah harga mati. Oleh karena itulah, Jerman harus juara di Brasil. Joachim Loew sadar, itu bukan perkara mudah.

Target hanya bisa digapai jika dia punya pasukan perang dengan skil di atas rata-rata. Dari sekian pemain yang dipanggil, tersebutlah nama Mario Goetze. Gelandang serang 22 itu sosok pemain muda luar biasa kala berseragam Bayern Munchen.

 

Alex Oxlade-Chamberlain (Inggris)

Alex Oxlade-Chamberlain. Gelandang asal Inggris ini meninggalkan Arsenal pada musim 2017/2018 menuju Liverpool setelah total 7 musim di Arsenal. Akhirnya mampu meraih 1 gelar Premier League bersama Liverpool pada musim 2019/2020. (AFP/Anthony Devlin)
Alex Oxlade-Chamberlain. Gelandang asal Inggris ini meninggalkan Arsenal pada musim 2017/2018 menuju Liverpool setelah total 7 musim di Arsenal. Akhirnya mampu meraih 1 gelar Premier League bersama Liverpool pada musim 2019/2020. (AFP/Anthony Devlin)

Berbunga-bunga rasanya, kala Chamberlain masuk skuad bayangan Inggris jelang Piala Dunia 2014. Pelatih Tiga Singa saat itu, Roy Hodgson meleleh melihat grafik permainan Chamberlain bersama Arsenal.

Meski baru berusia 20 tahun, Chamberlain kecil-kecil cabai rawit. Bermain di lini tengah, pemain yang kini memperkuat Liverpool itu sosok pekerja keras dan punya daya juang mengagumkan.

 

Oscar (Brasil)

Duel antara gelandang Brasil, Oscar dos Santos (kiri) dan gelandang Inggris Raya Joe Allen, dalam laga pemanasan jelang Olimpiade yang digelar di Riverside Stadium, 20 Juli 2012. AFP PHOTO / ANDREW YATES
Duel antara gelandang Brasil, Oscar dos Santos (kiri) dan gelandang Inggris Raya Joe Allen, dalam laga pemanasan jelang Olimpiade yang digelar di Riverside Stadium, 20 Juli 2012. AFP PHOTO / ANDREW YATES

Luiz Felipe Scolari tak perlu berpikir dua kali ketika mendengar nama Oscar. Sebagai pelatih dengan jam terbang tinggi, intuisi Scolari langsung bergetar kala melihat Oscar berlatih bersama timnas jauh sebelum Piala Dunia 2014 dihelat.

Yes! Oscar, walau masih berusia 20 tahun, dia adalah pemain dengan kemampuan yang oke. Gelandang serang pengangkut air tersebut sudah membuktikannya di Chelsea. Jadi, wajar kalau pak tua Scolari jatuh hati.

Begitulah kisah singkat kelima bintang tadi, jelang Piala Dunia 2014. Sejarah kemudian mencatat, kehadiran pemain-pemain muda itu sedikit banyak memberikan kontribusi bagi timnas masing-masing.