Fokus Otomotif: Menanti Momentum Pasar Otomotif Nasional Memuncak Kembali

·Bacaan 8 menit

Liputan6.com, Jakarta - Pasar otomotif Tanah Air turut terdampak pandemi Corona Covid-19. Alhasil perolehan penjualan kendaraan bermotor dalam negeri di tahun ini merosot tajam dibanding tahun sebelumnya.

Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), wholesale sales selama Januari-November 2020 mencapai 474.910 unit. Angka tersebut turun 49,8 persen dibanding periode yang sama tahun lalu sebanyak 945.245 unit.

Sementara retail sales Januari-November 2020 berada di angka 509.788 unit. Tercatat terjadi penurunan sebesar 46 persen dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar 944.870 unit.

Mei 2020 menjadi titik terendah pencapaian wholesale sales, yakni 3.551 unit. Begitupun pada retail sales dimana penjualan mobil secara nasional di bulan tersebut hanya 17.083 unit.

Hal itu terjadi karena diberlakukannya status Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk memutus rantai penyebaran Corona Covid-19 di sejumlah wilayah.

Perlahan tapi pasti, penjualan mobil mulai merangkak naik dari bulan ke bulan. Bahkan, perolehan pada November 2020 menjadi yang tertinggi sejak pandemi melanda, yakni 53.844 unit untuk wholesale sales dan 56.106 unit untuk retail sales.

Akibat penjualan mobil yang terus tergerus, Gaikindo pun merevisi target penjualan mobil secara nasional. Pasalnya, dengan kondisi saat ini, akan terasa berat untuk mencapai target sebelumnya, sebesar 600 ribuan unit.

"Dampak pandemi Covid–19 terhadap industri KBM roda 4, pasar turun plus minus 50 persen disebabkan permintaan atau daya beli menurun. Gaikindo merevisi target penjualan 2020 menjadi 525.000 unit. Begitu juga produksi dan ekspor CBU yang menyesuaikan," demikian dituliskan dalam paparan Gaikindo, di acara webinar Diskusi Virtual Industri Otomotif 'Upaya Pemerintah Bangkitkan Industri Otomotif dari Dampak Pandemi Covid-19', Kamis (12/11).

Merunut ke perolehan penjualan mobil secara nasional hingga 10 tahun ke belakang, pencapaian di tahun ini dipastikan lebih rendah dibanding 2011 sebesar 894.164 unit (wholesale sales) dan 890.559 unit (retail sales).

Untuk diketahui, total penjualan mobil sejak 2012 hingga 2019 selalu di atas 1 juta unit. 2013 menjadi tahun dengan pencapaian tertinggi dalam 10 tahun ke belakang, yakni 1.229.811 unit (wholesale sales) dan 1.218.817 (retail sales).

Pasar Mobil Bekas Juga Terimbas

Efek pandemi tidak hanya mempengaruhi penjualan mobil baru, tetapi juga mobil bekas. Hal itu diungkapkan Halomoan Fischer, Chief Operating Officer (COO) Mobil88 saat berbincang dengan Liputan6.com, Rabu (16/12).

"Setahun ini turun sekitar 30 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan terutama terjadi pada kurun waktu April hingga Juni 2020," kata Fischer.

Meski demikian, dealer kendaraan bekas milik Astra Group ini menegaskan, penjualan mobil secara bertahap mengalami peningkatan, terlebih menjelang akhir 2020.

"Setelah itu secara bertahap mengalami kenaikan sampai dengan Desember ini," tutur Fischer.

Saat disinggung strategi yang digunakan Mobil88 untuk menarik minat konsumen, Fischer mengaku pihaknya terus meningkatkan pelayanan secara online, sehingga calon pembeli tetap nyaman melakukan transaksi.

"Strategi untuk menghadapinya, dengan memperkuat layanan di online sehingga memudahkan customer untuk bertransaksi dengan interaksi yang minimal," ujarnya.

Lebih lanjut Fischer memprediksi, kondisi pandemi yang terjadi akan sangat menentukan pemulihan ekonomi, termasuk penjualan kendaraan di tahun depan.

"Tahun depan sepertinya akan sangat tergantung dari kondisi pandemi. Maksudnya adalah apabila pandemi bisa dikendalikan maka prediksinya penjualan mungkin akan sama dengan tahun 2019," ujarnya.

Selain itu, Fischer menyebut segmen mobil bekas yang akan diminati konsumen Tanah Air tahun 2021 mendatang, masih dipegang Low MPV dan LCGC.

Upaya Meningkatkan Penjualan Kendaraan

Sebelumnya, beragam upaya dilakukan untuk meningkatkan performa industri otomotif, salah satunya relaksasi pajak pembelian mobil baru sebesar 0 (nol) persen atau pemangkasan pajak kendaraan bermotor (PKB) oleh Kementerian Perindustrian Republik Indonesia.

Namun, hal tersebut tak terlaksana karena Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menolak usulan tersebut. Hal itu, ditegaskan oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani dalam konferensi pers secara virtual, terkait Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN), Senin (19/10).

Sri Mulyani menyebut, pihaknya tidak mempertimbangkan untuk memberikan pajak mobil baru sebesar 0 persen untuk saat ini.

"Kita akan coba memberikan dukungan-dukungan untuk sektor industri secara keseluruhan, melalui insentif yang kita sudah berikan," ujar Sri Mulyani.

Sedangkan untuk tahun depan, Gaikindo berharap bisa lebih baik dari tahun ini. Meskipun di satu sisi memang masih berat, karena syarat untuk ekonomi bisa pulih dan tentunya mengangkat kembali penjualan otomotif adalah Covid-19 bisa diatasi.

"Selama Covid-19 belum bisa ditangani, kita masih cukup berat untuk menanjak karena semuanya kan seperti mengerem untuk membeli mobil atau kendaraan," ujar Kukuh Kumara, Sekertaris Gaikindo, saat dihubungi Liputan6.com, Jumat (18/12).

Sementara itu, terkait dengan proses vaksinasi Corona Covid-19 yang sebelumnya telah diumumkan Presiden Republik Indonesia (RI), Joko Widodo untuk masyarakat secara gratis, sejatinya bisa menjadi salah satu alternatif agar ekonomi segera pulih seperti sebelum pandemi.

Namun menurut Kukuh, hal tersebut tidak serta merta langsung memulihkan ekonomi, karena proses vaksinasi untuk seluruh masyarakat di Indonesia itu sendiri memerlukan waktu.

"Kita harapkan paling tidak jika sudah ada 50 sampai 60 persen yang divaksinasi mungkin kondisinya akan lebih baik. Tapi, tidak otomatis kita bebas dari pandemi ini dan perlu waktu lagi untuk penyesuaiannya, sampai kita benar-benar sepenuhnya bebas dari pandemi. Jadi, tahun depan belum bisa normal seperti biasa, tapi paling tidak lebih baik dari tahun ini," tambah Kukuh.

Berbicara target penjualan tahun depan, Gaikindo mengharapkan mampu menjual sebanyak 750 ribu unit.

Pelabuhan Patimban Menumbuhkan Harapan

Di sisi lain, dengan diresmikannya Pelabuhan Patimban di Kabupaten Subang, Jawa Barat, oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo, diharapkan dapat mendukung penjualan dan ekspor kendaraan dari Indonesia

Pelabuhan ini diproyeksikan sebagai jalur kegiatan ekspor impor. Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi mengatakan, pembangunan Pelabuhan Patimban ini diharapkan mampu memberikan dampak positif bagi sektor industri, khususnya otomotif dan logistik.

"Dengan makin dekatnya antara industri dengan pelabuhan maka tentu terjadi suatu efisiensi bagi logistik nasional," ujarnya beberapa waktu lalu.

Proyek Pelabuhan Patimban ini sendiri, juga turut didukung oleh pelaku usaha hingga instansi pemerintah lain, salah satunya Kementerian Perindustrian (Kemenperin). Bahkan, Menhub Budi juga mengatakan pelaku usaha sektor otomotif, seperti yang tergabung di Gaikindo sangat antusias dengan pembangunan Pelabuhan ini.

"Saya banyak berdiskusi dengan Pak Menperin (Agus Gumiwang Kartasasmita) bahwa Kementerian Perindustrian sudah siap mendukung kegiatan ini. Dan pasti ini memberikan geliat tertentu, karena antusiasme dari Gaikindo itu begitu antusias," tutur Budi.

Hadirnya Pelabuhan Patimban juga diharapkan mampu mendongkrak pemulihan ekonomi nasional pasca pandemi Covid-19 yang melanda seluruh dunia.

"Pelabuhan Patimban juga dapat diharapkan sebagai pengungkit utama daripada pemulihan ekonomi nasional," kata Menhub.

Senada dengan Menhub Budi Karya, Sekretaris Gaikindo Kukuh Kumara, menilai Pelabuhan Patimban ini akan mendukung industri otomotif, jika nantinya terjadi peningkatan ekspor atau kenaikan volume penjualan domestik kendaraan bermotor Tanah Air.

"Tahun lalu kan ekspor kita sekitar 332 ribu unit, kemudian untuk pasar domestik sekitar 700 ribuan unit untuk dikirim ke daerah Sumatera, Kalimantan dan butuh pelabuhan tambahan," jelas Kukuh saat berbincang dengan Liputan6.com, Jumat (18/12).

Selain itu, dengan adanya Pelabuhan Patimban ini tentu saja akan mendukung proses pengiriman kendaraan, yang saat ini memang masih dilakukan di Pelabuhan Tanjung Priok.

"Untuk antisipasi juga, jika 2025 nanti volume ekspor dan domestik meningkat sehingga dibutuhkan pelabuhan yang memang dekat dengan pabrik," tegas Kukuh.

Pabrikan Optimistis Menatap Tahun Depan

Tren positif penjualan mobil yang terjadi beberapa bulan belakangan membangkitkan optimistis para pabrikan otomotif.

Direktur Pemasaran PT Toyota Astra Motor (TAM), Anton Jimmy Suwandi menyebut, pihaknya memprediksi penjualan secara total minimal di atas 500 ribu unit. Bahkan, harapannya bisa mencapai 550 ribu sampai 560 ribu unit.

"Jika dibandingkan tahun lalu, penurunan sekitar 45 persen. Tapi, jika dilihat situasi paling rendah itu pada kuartal kedua. Sedangkan kuartal tiga dan empat sudah mengalami peningkatan," jelasnya saat Toyota Media Gathering melalui virtual, Rabu (17/12).

Sementara itu, jika dilihat dari Oktober menuju November, market roda empat nasional memang telah mengalami peningkatan sebesar 20 persen dan untuk Toyota sendiri naik 30 persen.

Tren kenaikan ini, akan dijaga oleh raksasa asal Jepang tersebut, dan bisa menjadi cerminan perbaikan sektor otomotif Tanah Air.

"Dilihat dari pertengahan bulan ini, harapan kita Desember bisa sama atau bahkan lebih tinggi dari November. Walaupun tidak dalam waktu cepat, saat ini memang tengah recovery dari bulan ke bulan bisa tumbuh. Kita juga berharap dengan dukung produksi dari PT TMMIN dan PT ADM untuk produk kami bisa memberikan suplai kepada konsumen," tegasnya.

Sedangkan PT Astra Daihatsu Motor (ADM) memprediksi pencapaian di tahun depan akan lebih baik dari tahun ini. Meski demikian, mereka menyakini penjualan mobil belum sepenuhnya kembali pulih seperti sebelum pandemi.

"Tahun 2021, GDP Indonesia secara perkiraan IMF itu 5,1 persen dan lebih baik dari global. Melihat kondisi prediksi yang lebih baik, kami optimis pasar mobil akan lebih baik dari 2020, tetapi tidak akan menyentuh level seperti 2019 (1 jutaan unit)," jelas Amelia Tjandra, Marketing Director dan Corporate Planning & Communication Director PT ADM, saat konferensi pers secara virtual beberapa waktu lalu.

Lanjutnya, untuk tahun ini, pabrikan yang piawai dalam membuat mobil kompak ini memperkirakan pasar mobil untuk wholesales bisa mencapai 530 ribuan. Sementara untuk penjualan mobil secara retail bisa lebih tinggi lagi, antara 566 sampai 570 ribuan.

"Tahun depan secara (target) Gaikindo belum ada. Tapi kami perkirakan penjualan mobil bisa naik ke level 700 ribu dan belum mencapai 1 juta, tapi lebih baik," tegas wanita yang akrab disapa Amel ini.

Selain itu, vaksin virus Corona yang akan mulai disebarluaskan ke masyarakat tahun depan, semoga bisa memberikan efek ke ekonomi Indonesia. Tapi, masih menurut Amel, memang tidak hanya proses vaksinasi, tapi juga faktor lain yang bisa mempengaruhi peningkatan penjualan otomotif.

"Tapi kami bukan hanya mengharapkan vaksin, sosial politik Indonesia juga bisa terkendali dan tidak banyak hal-hal yang membuat bisnis bisa terganggu," pungkas Amel.

Infografis DISIPLIN Protokol Kesehatan Harga Mati

Infografis DISIPLIN Protokol Kesehatan Harga Mati (Liputan6.com/Abdillah)
Infografis DISIPLIN Protokol Kesehatan Harga Mati (Liputan6.com/Abdillah)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: