Forum Bisnis Indonesia-Amerika Latin Diharapkan Gali Potensi Ekonomi Usai Pandemi COVID-19

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Forum bisnis antara Indonesia dengan Amerika Latin dan Karibia kembali diadakan tahun ini, menengok keberhasilan acara yang juga dilakukan pada 2019. Walaupun digelar secara virtual, acara ini diharapkan masih bisa menjadi wadah pertemuan ekonomi antara Indonesia dengan negara-negara di Amerika Latin dan Karibia.

Menlu RI Retno Marsudi, yang juga hadir dan membuka acara tersebut pada Senin (9/11/2020), menyatakan forum bisnis tersebut bisa menjadi katalisator bagi upaya kedua pihak dan memperkuat kerja sama ekonomi antara Indonesia dengan negara-negara di Amerika Latin dan Karibia.

Selain pandemi COVID-19, masalah lain yang juga menjadi hambatan adalah ketidakpastian situasi ekonomi global menurut laporan International Monetary Fund (IMF) yang menunjukkan bahwa peningkatan ketegangan geopolitik dengan kekuatan penuh jalur ke rantai nilai global dapat menciptakan risiko ekonomi besar.

"Dengan situasi seperti ini, kita tidak memiliki pilihan lain selain mengedepankan kerja sama dan membangun kembali kepercayaan kepada multilateralisme," ujar Menlu Retno Marsudi dalam pidato pembukaannya.

"Tidak ada negara yang sekuat apa pun dapat mengatasi tantangan global dengan sendirinya. Pandemi ini telah mengekspos batasan tentang apa yang dapat dilakukan setiap negara," sambungnya lagi.

Sarana Pemulihan Ekonomi

Bisnis forum Indonesia-Amerika Latin dan Karibia (ICA-LAC) 2020.
Bisnis forum Indonesia-Amerika Latin dan Karibia (ICA-LAC) 2020.

Menlu Retno Marsudi pun menyampaikan harapannya bahwa bisnis forum ini bisa menjadi sarana pemulihan ekonomi.

"Kita harus menghubungkan kembali ekonomi dan bisnis kita dengan menggunakan semua alat yang tersedia yang kita miliki," paparnya.

"Oleh karena itu, saya mendorong perwakilan bisnis dari kedua kawasan kita untuk menggali potensi dan memperdalam keterlibatan ekonomi antara Indonesia dengan negara-negara Amerika Latin dan Karibia," tambah Menlu Retno lagi.

Menurutnya, guna membuka potensi ekonomi secara riil, semua pihak harus bisa beradaptasi dengan pendekatan baru dan berani membuat terobosan.

Menlu Retno turut memaparkan sejumlah hal yang menjadi masalah utama seperti menciptakan lebih banyak peluang dan menemukan peluang baru dalam ekonomi digital.

Terkait hal tersebut, ia juga menegaskan bahwa Indonesia siap untuk berjalan menuju visi tersebut.

"Indonesia siap untuk membuat perjanjian perdagangan baru dengan lebih banyak negara," tegas Menlu Retno.

Sementara terkait ekonomi digital, Menlu Retno menyampaikan bahwa Indonesia merupakan ekonomi digital dengan pertumbuhan tercepat dan terbesar di Asia dengan nilai prediksi 133 miliar dolar AS. Sebaliknya, negara-negara Amerika Latin dan Karibia juga memiliki jutaan kemajuan pesat dalam konektivitas digital.

Saksikan video pilihan di bawah ini: