FOTO: Bertahan Hidup di Masa Pandemi dengan Bunga Matahari

·Bacaan 1 menit
Budi (63) melakukan perawatan kebun bunga matahari di kawasan Kalimalang, Jakarta, Rabu (14/7/2021). Budi beralih profesi menjadi petani benih bunga matahari dengan memanfaatkan lahan kosong yang berada di kolong Tol Becakayu untuk menyambung hidup keluarganya. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)
Budi (63) melakukan perawatan kebun bunga matahari di kawasan Kalimalang, Jakarta, Rabu (14/7/2021). Budi beralih profesi menjadi petani benih bunga matahari dengan memanfaatkan lahan kosong yang berada di kolong Tol Becakayu untuk menyambung hidup keluarganya. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)

Budi (63) melakukan perawatan kebun bunga matahari di kawasan Kalimalang, Jakarta, Rabu (14/7/2021). Budi beralih profesi menjadi petani benih bunga matahari dengan memanfaatkan lahan kosong yang berada di kolong Tol Becakayu untuk menyambung hidup keluarganya. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)

Budi (63) melakukan perawatan kebun bunga matahari di kawasan Kalimalang, Jakarta, Rabu (14/7/2021). Pandemi Covid-19 menyebabkan Budi kehilangan mata pencaharian sebagai penjual tiket pertandingan olahraga dan beralih profesi menjadi petani benih bunga matahari. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)
Budi (63) melakukan perawatan kebun bunga matahari di kawasan Kalimalang, Jakarta, Rabu (14/7/2021). Pandemi Covid-19 menyebabkan Budi kehilangan mata pencaharian sebagai penjual tiket pertandingan olahraga dan beralih profesi menjadi petani benih bunga matahari. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)

Budi (63) melakukan perawatan kebun bunga matahari di kawasan Kalimalang, Jakarta, Rabu (14/7/2021). Pandemi Covid-19 menyebabkan Budi kehilangan mata pencaharian sebagai penjual tiket pertandingan olahraga dan beralih profesi menjadi petani benih bunga matahari. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)

Budi (63) melakukan perawatan kebun bunga matahari di kawasan Kalimalang, Jakarta, Rabu (14/7/2021). Budi beralih profesi menjadi petani benih bunga matahari dengan memanfaatkan lahan kosong yang berada di kolong Tol Becakayu untuk menyambung hidup keluarganya. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)
Budi (63) melakukan perawatan kebun bunga matahari di kawasan Kalimalang, Jakarta, Rabu (14/7/2021). Budi beralih profesi menjadi petani benih bunga matahari dengan memanfaatkan lahan kosong yang berada di kolong Tol Becakayu untuk menyambung hidup keluarganya. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)

Budi (63) melakukan perawatan kebun bunga matahari di kawasan Kalimalang, Jakarta, Rabu (14/7/2021). Budi beralih profesi menjadi petani benih bunga matahari dengan memanfaatkan lahan kosong yang berada di kolong Tol Becakayu untuk menyambung hidup keluarganya. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)

Budi (63) melakukan perawatan kebun bunga matahari di kawasan Kalimalang, Jakarta, Rabu (14/7/2021). Pandemi Covid-19 menyebabkan Budi kehilangan mata pencaharian sebagai penjual tiket pertandingan olahraga dan beralih profesi menjadi petani benih bunga matahari. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)
Budi (63) melakukan perawatan kebun bunga matahari di kawasan Kalimalang, Jakarta, Rabu (14/7/2021). Pandemi Covid-19 menyebabkan Budi kehilangan mata pencaharian sebagai penjual tiket pertandingan olahraga dan beralih profesi menjadi petani benih bunga matahari. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)

Budi (63) melakukan perawatan kebun bunga matahari di kawasan Kalimalang, Jakarta, Rabu (14/7/2021). Pandemi Covid-19 menyebabkan Budi kehilangan mata pencaharian sebagai penjual tiket pertandingan olahraga dan beralih profesi menjadi petani benih bunga matahari. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)

Budi menunjukkan benih bunga matahari yang dijualnya di kawasan Kalimalang, Jakarta, Rabu (14/7/2021). Benih bunga matahari yang dijual Budi dibanderol dengan harga Rp50 ribu per 200 biji. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)
Budi menunjukkan benih bunga matahari yang dijualnya di kawasan Kalimalang, Jakarta, Rabu (14/7/2021). Benih bunga matahari yang dijual Budi dibanderol dengan harga Rp50 ribu per 200 biji. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)

Budi menunjukkan benih bunga matahari yang dijualnya di kawasan Kalimalang, Jakarta, Rabu (14/7/2021). Benih bunga matahari yang dijual Budi dibanderol dengan harga Rp50 ribu per 200 biji. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)

Kendaraan melintasi kebun bunga matahari milik Budi di kawasan Kalimalang, Jakarta, Rabu (14/7/2021). Budi beralih profesi menjadi petani benih bunga matahari dengan memanfaatkan lahan kosong yang berada di kolong Tol Becakayu untuk menyambung hidup keluarganya. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)
Kendaraan melintasi kebun bunga matahari milik Budi di kawasan Kalimalang, Jakarta, Rabu (14/7/2021). Budi beralih profesi menjadi petani benih bunga matahari dengan memanfaatkan lahan kosong yang berada di kolong Tol Becakayu untuk menyambung hidup keluarganya. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)

Kendaraan melintasi kebun bunga matahari milik Budi di kawasan Kalimalang, Jakarta, Rabu (14/7/2021). Budi beralih profesi menjadi petani benih bunga matahari dengan memanfaatkan lahan kosong yang berada di kolong Tol Becakayu untuk menyambung hidup keluarganya. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)

Budi (63) melakukan perawatan kebun bunga matahari di kawasan Kalimalang, Jakarta, Rabu (14/7/2021). Pandemi Covid-19 menyebabkan Budi kehilangan mata pencaharian sebagai penjual tiket pertandingan olahraga dan beralih profesi menjadi petani benih bunga matahari. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)
Budi (63) melakukan perawatan kebun bunga matahari di kawasan Kalimalang, Jakarta, Rabu (14/7/2021). Pandemi Covid-19 menyebabkan Budi kehilangan mata pencaharian sebagai penjual tiket pertandingan olahraga dan beralih profesi menjadi petani benih bunga matahari. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)

Budi (63) melakukan perawatan kebun bunga matahari di kawasan Kalimalang, Jakarta, Rabu (14/7/2021). Pandemi Covid-19 menyebabkan Budi kehilangan mata pencaharian sebagai penjual tiket pertandingan olahraga dan beralih profesi menjadi petani benih bunga matahari. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel