FOTO: Geliat Industri Kerupuk Rumahan di Masa Pandemi Corona

·Bacaan 2 menit
Pekerja mengangkut kerupuk untuk digoreng di industri rumahan kawasan Cipinang Melayu, Jakarta, Selasa (16/2/2021). Selama pandemi corona, jumlah produksi di industri rumahan ini dikurangi dari 10.000 kerupuk per hari, kini hanya 5.000 kerupuk tiap harinya. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)
Pekerja mengangkut kerupuk untuk digoreng di industri rumahan kawasan Cipinang Melayu, Jakarta, Selasa (16/2/2021). Selama pandemi corona, jumlah produksi di industri rumahan ini dikurangi dari 10.000 kerupuk per hari, kini hanya 5.000 kerupuk tiap harinya. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)

Pekerja mengangkut kerupuk untuk digoreng di industri rumahan kawasan Cipinang Melayu, Jakarta, Selasa (16/2/2021). Selama pandemi corona, jumlah produksi di industri rumahan ini dikurangi dari 10.000 kerupuk per hari, kini hanya 5.000 kerupuk tiap harinya. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)

Pekerja menggoreng kerupuk saat produksi rutin di industri rumahan kawasan Cipinang Melayu, Jakarta, Selasa (16/2/2021). Pemilik industri kerupuk rumahan ini berharap Covid-19 segera berakhir agar industri kerupuk yang dirintis turun-temurun itu dapat normal kembali. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)
Pekerja menggoreng kerupuk saat produksi rutin di industri rumahan kawasan Cipinang Melayu, Jakarta, Selasa (16/2/2021). Pemilik industri kerupuk rumahan ini berharap Covid-19 segera berakhir agar industri kerupuk yang dirintis turun-temurun itu dapat normal kembali. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)

Pekerja menggoreng kerupuk saat produksi rutin di industri rumahan kawasan Cipinang Melayu, Jakarta, Selasa (16/2/2021). Pemilik industri kerupuk rumahan ini berharap Covid-19 segera berakhir agar industri kerupuk yang dirintis turun-temurun itu dapat normal kembali. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)

Pekerja menggunakan mesin pemanas saat produksi kerupuk di industri rumahan kawasan Cipinang Melayu, Jakarta, Selasa (16/2/2021). Irwan (42), pemilik industri kerupuk itu mengungkapkan akibat pandemi Covid-19 yang berkepanjangan menyebabkan penjualan kerupuk anjlok. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)
Pekerja menggunakan mesin pemanas saat produksi kerupuk di industri rumahan kawasan Cipinang Melayu, Jakarta, Selasa (16/2/2021). Irwan (42), pemilik industri kerupuk itu mengungkapkan akibat pandemi Covid-19 yang berkepanjangan menyebabkan penjualan kerupuk anjlok. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)

Pekerja menggunakan mesin pemanas saat produksi kerupuk di industri rumahan kawasan Cipinang Melayu, Jakarta, Selasa (16/2/2021). Irwan (42), pemilik industri kerupuk itu mengungkapkan akibat pandemi Covid-19 yang berkepanjangan menyebabkan penjualan kerupuk anjlok. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)

Pekerja mengangkut kerupuk yang telah digoreng di industri rumahan kawasan Cipinang Melayu, Jakarta, Selasa (16/2/2021). Selama pandemi corona, jumlah produksi di industri rumahan ini dikurangi dari 10.000 kerupuk per hari, kini hanya 5.000 kerupuk tiap harinya. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)
Pekerja mengangkut kerupuk yang telah digoreng di industri rumahan kawasan Cipinang Melayu, Jakarta, Selasa (16/2/2021). Selama pandemi corona, jumlah produksi di industri rumahan ini dikurangi dari 10.000 kerupuk per hari, kini hanya 5.000 kerupuk tiap harinya. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)

Pekerja mengangkut kerupuk yang telah digoreng di industri rumahan kawasan Cipinang Melayu, Jakarta, Selasa (16/2/2021). Selama pandemi corona, jumlah produksi di industri rumahan ini dikurangi dari 10.000 kerupuk per hari, kini hanya 5.000 kerupuk tiap harinya. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)

Aktivitas produksi kerupuk di industri rumahan kawasan Cipinang Melayu, Jakarta, Selasa (16/2/2021). Irwan (42), pemilik industri kerupuk rumahan ini berharap Covid-19 segera berakhir agar industri kerupuk yang dirintis turun-temurun itu dapat normal kembali. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)
Aktivitas produksi kerupuk di industri rumahan kawasan Cipinang Melayu, Jakarta, Selasa (16/2/2021). Irwan (42), pemilik industri kerupuk rumahan ini berharap Covid-19 segera berakhir agar industri kerupuk yang dirintis turun-temurun itu dapat normal kembali. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)

Aktivitas produksi kerupuk di industri rumahan kawasan Cipinang Melayu, Jakarta, Selasa (16/2/2021). Irwan (42), pemilik industri kerupuk rumahan ini berharap Covid-19 segera berakhir agar industri kerupuk yang dirintis turun-temurun itu dapat normal kembali. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)

Pekerja menggoreng kerupuk saat produksi rutin di industri rumahan kawasan Cipinang Melayu, Jakarta, Selasa (16/2/2021). Irwan (42), pemilik industri kerupuk itu mengungkapkan akibat Covid-19 yang berkepanjangan menyebabkan penjualan kerupuk anjlok hingga 60 persen. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)
Pekerja menggoreng kerupuk saat produksi rutin di industri rumahan kawasan Cipinang Melayu, Jakarta, Selasa (16/2/2021). Irwan (42), pemilik industri kerupuk itu mengungkapkan akibat Covid-19 yang berkepanjangan menyebabkan penjualan kerupuk anjlok hingga 60 persen. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)

Pekerja menggoreng kerupuk saat produksi rutin di industri rumahan kawasan Cipinang Melayu, Jakarta, Selasa (16/2/2021). Irwan (42), pemilik industri kerupuk itu mengungkapkan akibat Covid-19 yang berkepanjangan menyebabkan penjualan kerupuk anjlok hingga 60 persen. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)

Pekerja memasukkan kerupuk yang telah dimasak ke dalam tempat penjualan di industri rumahan kawasan Cipinang Melayu, Jakarta, Selasa (16/2/2021). Selama pandemi corona, jumlah produksi di industri rumahan ini dikurangi dari 10.000 menjadi 5.000 kerupuk tiap harinya. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)
Pekerja memasukkan kerupuk yang telah dimasak ke dalam tempat penjualan di industri rumahan kawasan Cipinang Melayu, Jakarta, Selasa (16/2/2021). Selama pandemi corona, jumlah produksi di industri rumahan ini dikurangi dari 10.000 menjadi 5.000 kerupuk tiap harinya. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)

Pekerja memasukkan kerupuk yang telah dimasak ke dalam tempat penjualan di industri rumahan kawasan Cipinang Melayu, Jakarta, Selasa (16/2/2021). Selama pandemi corona, jumlah produksi di industri rumahan ini dikurangi dari 10.000 menjadi 5.000 kerupuk tiap harinya. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)