Foto Memilukan, Anak-anak Myanmar Sembunyi Dalam Lubang dari Bom

Daurina Lestari
·Bacaan 2 menit

VIVA – Konflik antara militer Myanmar dan pasukan bersenjata Karen National Union, di perbatasan dengan Thailand telah menyebabkan anak-anak menderita. Anak-anak, termasuk balita, terpaksa bersembunyi di lubang di hutan setelah desa mereka dibom di tengah meningkatnya aksi militer di tanah air mereka.

Foto-foto yang diambil oleh media AFP memperlihatkan, anak-anak merunduk untuk bersembunyi sementara di sebuah lubang demi menghindari bom, seperti dilansir News.com.au Selasa 6 April 2021. Seorang balita terlihat menangis saat berlindung dalam lubang bersama saudaranya.

Gambar-gambar tersebut diambil di distrik Pupun, dekat perbatasan dengan Thailand selama akhir pekan lalu. Anak-anak itu berusaha menyelamatkan diri dari serangan udara militer di desa asal mereka.

Orang dewasa dan anak-anak etnis Karen menggali tempat perlindungan di hutan di tengah konflik antara kelompok bersenjata etnis Karen National Union (KNU) dan militer meluas selama akhir pekan.

KNU telah merebut pangkalan militer di negara bagian Karen timur, menewaskan 10 perwira militer. Junta militer membalas dengan serangan udara dan KNU mengatakan sekitar 12.000 orang telah mengungsi.

Sekitar 2.780 warga sipil melarikan diri melintasi perbatasan, tetapi pemerintah Thailand mengatakan mayoritas sekarang telah kembali ke Myanmar. Sekitar 200 orang menerima perawatan medis di Thailand pada akhir pekan lalu.

Anak-anak semakin menjadi sasaran serangan mematikan dari pasukan keamanan di Myanmar, yang telah diguncang oleh kekerasan lebih dari dua bulan sejak militer mengambil alih pemerintahan.

Seorang ayah menceritakan tentang momen mengerikan ketika dia menemukan putrinya telah ditembak mati oleh anggota pasukan keamanan. Anaknya ketika itu tengah bermain di rumah.

Setidaknya 43 anak tewas oleh angkatan bersenjata, menurut organisasi hak asasi Save the Children. Organisasi itu mengatakan Myanmar berada dalam "situasi mimpi buruk", dengan korban termuda yang diketahui berusia enam tahun.

"Ini adalah skenario mimpi buruk yang sedang berlangsung," kata kelompok itu. “Anak-anak yang tidak bersalah memiliki masa depan mereka direnggut dari mereka secara brutal dan tanpa perlu. Keluarga berduka, di antara mereka adalah anak-anak kecil yang telah melihat saudara kandung meninggal, menderita kehilangan dan rasa sakit yang tak terbayangkan. ”

Lebih dari 2.500 orang telah ditahan sejak kudeta di Myanmar, menurut kelompok pemantau lokal Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik. Mereka juga mencatat jumlah korban tewas sebanyak 564 pada hari Minggu, karena pasukan keamanan terus menggunakan kekuatan mematikan terhadap pengunjuk rasa.

Baca juga: Putin Sahkan UU Baru yang Memungkinkannya Berkuasa Hingga 2036