Fox News dikecam karena bahas rambut dan kuku di tengah pandemi corona

Washington (AFP) - Seorang pembawa acara Fox News pada Kamis memicu badai kemarahan karena menyuarakan kekhawatiran tentang bagaimana wanita merawat rambut dan kukunya selama pandemi virus corona.

Ainsley Earhardt jelas sekali membahas kekhawatiran sehari-hari yang sepele dari pada masalah yang menyangkut hidup dan mati yang jauh lebih penting.

Tetapi itu tidak menghentikan media sosial serempak melancarkan kritik yang menyebut keluhan dia tentang sisi yang membuat frustasi dari lockdown dan jaga jarak sosial sebagai "hambar" dan "tak ada gunanya."

"Ini bukan prioritas, tetapi wanita harus merawat rambutnya," kata Earhardt kepada pemirsa talkshow pagi dari saluran cenderung konservatif yang menjadi kesukaan Presiden AS Donald Trump, "Fox and Friends".

"Saya melihat ada orang yang mencuit, 'Anda akan lihat warna rambut kita yang sebenarnya, karena akar kita akan tumbuh.'

"Semua teman saya bilang, tahu tidak, ini bukan prioritas - orang-orang lagi sekarat dan saya tahui itu - tetapi mereka tidak bisa merawat kuku mereka," kata dia.

Seorang pengkritik memposting di Twitter bahwa segmen itu adalah "distilasi sempurna dari Republikanisme Trump" sementara yang lain mencibirnya sebagai "masalah wanita kulit putih kaya."

"Partai Republik itu pro-kehidupan sampai-sampai mereka harus merawat kukunya. Jenius ini adalah alasan sempurna mengapa seluruh dunia menertawakan kita," kata yang lain.

Tetapi beberapa orang datang membela ibu satu anak berusia 43 tahun itu, dengan alasan bahwa dia sah-sah saja mengungkapkan keprihatinannya dan menuduh para pengkritiknya seksis.

Yang lain menyebutkan bahwa sekretaris pers Bernie Sanders Briahna Joy Gray menyampaikan keluhan serupa beberapa hari sebelumnya sambil menggarisbawahi memang ada masalah yang lebih besar lagi.

Kasus-kasus terkonfirmasi virus corona baru kian bertambah di Amerika Serikat, dengan lebih dari 76.000 kasus terkonfirmasi dan 849 korban meninggal.

Pandemi ini telah menutup sebagian besar negara tersebut sehingga mendorong perekonomiannya ke kejatuhan.

leo/jm/ft