FPI Demo di Kedubes Prancis, Bawa Poster Karikatur Macron Drakula

Siti Ruqoyah, Kenny Putra
·Bacaan 2 menit

VIVA – Massa dari Front Pembela Islam (FPI) dan Persaudaraan Alumni 212 melakukan aksi demo mengecam Presiden Prancis Emmanuel Macron. Demo dilakukan di gedung Kedutaan Besar (Kedubes) Prancis, Jakarta Pusat (Jakpus).

Dari pantauan VIVA, Senin, 2 November 2020 di lokasi, massa membawa spanduk yang berisi kecaman ke Presiden Prancis Emmanuel Macron. Spanduk muka Macron juga terlibat diubah menjadi drakula dengan tambahan kata-kata teroris.

Selain itu, orator di mobil komando terus meneriaki bakar poster Presiden Macron. "Bakar-bakar, bakar foto iblis," ucap salah satu orator.

Selain meneriaki pembakaran foto Presiden Prancis, orator juga membakar semangat massa dengan menjelaskan kepulangan Habib Rizieq ke Indonesia.

"Sebentar lagi, imam besar kita akan pulang. Beliau yang akan menentukan kapan waktunya, tapi ketika saya diminta untuk menjemput saya akan jemput beliau," tambah orator tersebut.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Mahfud MD menegaskan bahwa demi menjaga situasi politik dan keamanan di Indonesia, pemerintah menyerukan bahwa setiap upaya mengekspresikan atau menyatakan pendapat terkait dengan apa yang dinyatakan oleh Presiden Macron itu dapat dilakukan dengan tertib dan tidak merusak.

Hal itu misalnya, bisa diekspresikan melalui media-media yang tersedia karena tidak ada yang boleh dirusak atau diperlakukan secara anarki.

"Karena Indonesia ini tidak ada satu institusi atau orang atau siapa pun, yang harus dianggap ikut bertanggung jawab dengan pernyataan Presiden Macron," ujar Mahfud.

Hal itu seiring kecaman yang juga dilayangkan Presiden Jokowi, atas tindakan kekerasan yang terjadi di Kota Nice, Paris, yang telah menimbulkan korban jiwa.

"Indonesia juga mengecam keras pernyataan Presiden Perancis yang menghina agama Islam, yang telah melukai perasaan umat Islam di seluruh dunia," kata Jokowi dalam konferensi persnya yang disiarkan di akun YouTube Sekretariat Presiden, Sabtu, 31 Oktober 2020.

Jokowi berpendapat bahwa apa yang dilakukan Emmanuel Macron itu berpotensi memecah belah persatuan antar-umat beragama di dunia.

Baca juga: Buah hingga Garam Impor, Fadli Zon: Masa Dibiarkan Pak Jokowi