Fraksi Golkar DPR Harap Presiden Prancis Ralat Pernyataannya

Fikri Halim, Reza Fajri
·Bacaan 2 menit

VIVA – Fraksi Partai Golkar di DPR meminta Presiden Prancis Emmanuel Macron untuk meluruskan pernyataannya yang dinilai mencederai rasa saling menghormati antar agama. Hal itu menyusul pernyataan Macron yang dinilai menghina umat Islam.

Ketua Komisi I DPR dari Fraksi Golkar, Meutya Hafid menilai Indonesia memang perlu mengecam keras aksi terorisme oleh siapa pun termasuk aksi penusukan yang terjadi di Paris dan Nice di Prancis. Dia berharap agar orang nomor satu di negara itu meralat pernyataannya.

"Kita amat menyayangkan, seorang kepala negara, dalam hal ini Presiden Macrom yang tidak memiliki kepekaan berbahasa, sehingga mengaitkan agama tertentu dengan terorisme. Saya rasa sesungguhnya yang dimaksud Macron bukan demikian. Sehingga saya rasa, akan bijak jika Presiden Maceon meluruskan pernyataan sebelumnya," kata Meutya, Minggu 1 November 2020.

Meutya berharap Presiden Macron memiliki kedewasaan dan kematangan untuk memperbaiki ucapannya yang dapat melukai kebersamaan dan rasa saling menghormati antar agama.

Hal yang sama juga disampaikan Wakil Ketua Komisi VIII Fraksi Golkar, Ace Hasan Sadzily. Dia menilai seharusnya Emmanuel Macron lebih sensitif terhadap pernyataannya terkait dengan karikatur Nabi Muhammad SAW.

"Kita tahu bahwa kebebasan pers itu sangat dijunjung tinggi dalam negara demokrasi, apalagi di Prancis. Namun kebebasan pers itu juga ada batas-batas tertentu yang tidak perlu menyinggung hal yang sangat dihormati dalam ajaran Islam, yaitu menghormati Nabi Muhammad SAW," ujarnya.

Pernyataan Macron soal Islam, lanjut Ace terkesan mengeneralisasi ajaran Islam yang pada prinsipnya mengajarkan rahmatan lil alamin. Namun umat Islam juga memiliki sikap yang tegas kepada pihak-pihak yang melakukan kekerasan atas nama agama.

"Tentu saya pun mengecam tindakan main hakim sendiri atas nama agama dalam kasus pemenggalan guru yang memperagakan kartun Nabi Muhammad SAW. Tindakan tersebut juga tidak boleh dilakukan dalam sebuah negara yang menjunjung tinggi supremasi hukum," kata Ace.

Diberitakan sebelumnya, Pemimpin Front Pembela Islam, Habib Rizieq Syihab (HRS) menyerukan aksi membela Nabi Muhammad SAW. Terutama kepada warga Ibu Kota Jakarta dan Bandung.

Dia meminta segenap umat Islam dan pencinta Nabi Muhammad SAW di mana pun berada untuk ikut setiap aksi. Hal ini menyusul pernyataan Presiden Prancis, Emmanuel Macron setelah heboh karikatur di majalah Charlie Hebdo.

"Dari Kota Suci Mekah Al Mukarramah, saya serukan kepada seluruh pencinta Nabi untuk ikut setiap aksi membela Nabi SAW di mana pun anda berada, ada aksi membela Nabi turun ikut serta. Tunjukkan rasa cinta, tunjukkan pembelaan kita kepada Nabi Muhammad SAW," ujar Habib Rizieq dalam pesan yang disampaikannya lewat Youtube Front TV, Minggu 1 November 2020.

Teristimewa, lanjut dia, agar umat pembela Nabi Muhammad SAW ikut aksi pada 2 November 2020 di Jakarta yang disebutnya aksi 211 dan 4 November 2020 di Kota Bandung, yaitu aksi 411.

"Aksi 211 di Ibu Kota Jakarta dan Aksi 411 di Kota Bandung untuk membela Nabi Muhammad SAW yang telah dihinakan dilecehkan oleh Presiden Prancis, yang dihinakan dan dilecehkan oleh sebagian masyarakat prancis, oleh media-media prancis," kata dia.