Frank Momberg dan Papua: Dari Konservasi Hutan Hingga Jadi Sandera

Renne R.A Kawilarang, DW Indonesia
·Bacaan 4 menit

Sewaktu kecil, aktivis perlindungan lingkungan Jerman, Frank Momberg sudah mengenal dan mengaku jatuh cinta dengan hutan di Indonesia. Ia menyaksikan keindahan Indonesia lewat tayangan televisi.“Waktu kecil saya tinggal di Lehrte, di wilayah Hannover, yang lanskapnya sangat membosankan, tidak ada sama sekali keragaman hayati, hanya monokultur, gandum, jarang ada burung, serangga, jadi dari dulu saya sangat tertarik dengan hutan tropis terutama di Indonesia karena selain Amazon, hutan tropis Indonesia terkaya di seluruh dunia,“ ujarnya mengenang masa kecilnya.

“Selain itu saya juga sangat tertarik bagaimana masyarakat adat di sana mengelola hutantropis.Masyarakat adat yang memang secara tradisional sudah mewarisi pengetahuan dalam pengelolaan hutan yang berkelanjutan,“ demikian Momberg menggambarkan kekagumannya pada adat istiadat dan lingkungan Indonesia.

Saat mulai magang kerja di masa kuliah, akhirnya ia berkesempatan mengunjungi wilayah impiannya. Frank menjejakkan kaki di Krui, Lampung, adalah salah satu wilayah pertama yang di mana masyarakat adatnya memperoleh pengakuan hak atas hutan di Indonesia,

“Saya melatih melatih masyarakat dan LSM lokal untuk memetakan wilayah hak adat masyarakat,“ tutur Frank. Pekerjaan yang sama puladilakukannya di mulai dari Kalimantan, Aceh hingga Nusa Tenggara Timur, dan tidak ketinggalan, Papua, yang menjadi pengalaman tak terlupakan di dalam hidupnya.

Diculik dan disandera

Pada tahun 1996 di Papua, Frank Momberg bekerja di bawah naungan organisasi lingkungan WWF Indonesia. Mereka memfasilitasi masyarakat adat Dani, Amungme, Nduga untuk mendokumentasikan cara pengelolaan hutan dan juga wilayah adat mereka supaya bisa dimasukkan dalam perencanaan pengelolaan taman nasional, tutur Frank: “Kita membuat peta untuk taman nasional, agar bisa mengakomodir kehidupan dan hak masyarakat adat di dalam zona pemanfaatan tradisional.“

Pada saat sedang konsultasi di lapangan di Kampung Mapenduma, tiba-tiba banyak orang turun dari gunung dengan panah, dengan senjata. Frank beserta beberapa rekannya para peneliti ekspedisi Lorentz disandera. Bersamanya saat itu ada mahasiswa dari Unas, Universitas Oxford dan juga ada perwakilan dari UNESCO. “Saat itu banyak konflik antara masyarakat dengan Freeport, ya. Jadi mungkin itu salah satu alasan kenapa di wilayah tersebut ada kegiatan Organisasi Papua Merdeka (OPM)“, demikian dikisahkan Frank.

“Kebetulan saya yang paling cepat dilepaskan karena bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan saya yang dipilih oleh sandera-sandera lain untuk keluar dan pada saat itu ditunjuk menjadi wakil sandera-sandera untuk pembebasan secara damai. Saya ke luar setelah dua minggu, yang lain sesudah tiga bulan. Namun ada dua sandera Indonesia yang dibunuh, tidak jelas oleh OPM atau pihak lain,” kata Frank yang menyesali gagalnya negosiasi secara damai. “Akhirnya ada pembebasan yang dilakukan pasukan Kopassus yang berhasil namun juga sayangnya ada ada korban jiwa pada saat itu.”

Tidak ada kata kapok

“Hutan Papua begitu cantik, begitu luar biasa, setiap hari kita dengar suara burung cenderawasih. Di sana ada kekayaan alam yang sangat penting dan sangat terancam, karena jangan lupa di sana ada pertambangan Freeport yang waktu itu mempunyai kepentingan menambah pertambangan di dalam kawasan cagar alam itu,” demikian Frank menjelaskan bahawa peristiawa penculikan yang dialaminya tidak membuatnya kapok untuk membantu kelestarian alam di Papua dan masyarakat adat dalam menegakkan hak-haknya.

“Kami membantu suku-suku yang ada di dalam wilayah Papua, seperti Amungme, Dani, Nduga, Komoro, Asmat dan semua wilayah yang mereka gunakan untuk konservasi hutan, pengelolaan sagunya, supaya tercatat haknya dan dicatat dalam bentuk zonasi di dalam Taman Nasional sebagai zona pemanfaatan tradisonal berdasarkan hak dan budaya suku-suku masing-masing,” papar Frank lebih lanjut.

Sekarang bagaimana kondisi hutan di Papua?

Frank Momberg memandang, ancaman kerusakan lingkungan di Papua hingga masih ada di depan mata. “Tetap ada banyak ancamannya di Papua, apakah dari sektor pertambangan atau sektor perkebunan,“ ujarnya.

Mengingat kondisi keamanan wilayah juga terkait dengan lingkungan, Frank menganjurkan agar pemerintah dan masyarakat mau bersama-sama mencari resolusi konflik sambil memperhatikan perekonomian masyarakat: “Harus diperhatikan bagaimana kerja baik antara semua pihak kepentingan apakah itu pemerintah, masyarakat dan swasta, kalau tidak semua pihak kerja sama untuk satu tujuan yang baik memang sulit untuk kita dapat solusi di wilayah itu,“ tandasnya.

Lebih dari dua dekade berlalu sejak penculikan terhadap Frank dan beberapa mitranya, kelestarian hutan di Papua masih menjadi sorotan. Aktivis lingkungan Bustar Maitar mengatakan hutan Papua adalah benteng terakhir hutan Indonesia. Hampir separuh hutan Indonesia yang tersisa berada di Papua. Oleh sebab itu hutan di Papua sangat perlu dilindungi.

“Meski pembukaan hutan masif baru terjadi beberapa tempat seperti Merauke untuk proyek ambisius food estate, tapi hampir seluruh hutan Papua sudah terkapling baik untuk perkebunan skala besar atau hak pengusahaan hutan(HPH) atau pertambangan. Jika tidak ada komitmen kuat untuk menjaga, pengalaman than di Kalimantan dan Sumatera akan terulang di tanah Papua.”

Frank Momberg kini bekerja untuk Flora and Fauna International (FFI). Ini adalah organisasi konservasi tertua di dunia yang didirikan pada tahun 1903. FFI bermarkas di Inggris dan bekerja di 40 negara di seluruh dunia. Tugas Frank di sini masih tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukannya di masa muda, yakni menangani masalah kawasan hutan lindung dan konservasi keanekaragaman hayati.