Freddy Muli dan Keistimewaan Berduet dengan Syamsul Arifin di Mitra Surabaya, Alami dan Spontan

·Bacaan 2 menit

Bola.com, Jakarta - Perkesa 78 Sidoarjo adalah klub semi profesional pertama Freddy Muli di pentas Liga Sepakbola Utama (Galatama) yang merupakan kompetisi tertinggi Tanah Air saat itu. Tapi, nama Feddy justru mencuat kala berkostum Niac Mitra Surabaya.

Ia langsung membawa Niac Mitra meraih trofi juara Galatama pada musim pertamanya yakni 1987-1988. Menariknya, proses perpindahan Freddy Muli dari Perkesa ke Niac Mitra sempat terkendala. Semuanya berawal dari keputusan manajemen Perkesa memindahkan markasnya ke Yogyakarta dengan berganti nama menjadi Perkesa Mataram.

Alasannya, mereka kalah pamor dengan Niac Mitra yang menjadi tim pujaan publik Surabaya dan Jawa Timur kala itu.

"Bang Iswadi mengajak saya ikut ke Yogyakarta. Tapi, saya tak langsung mengiyakan karena hati saya sudah tertambat dengan gadis Sidoarjo," kenang Freddy dalam channel youtube Omah Balbalan.

Di momen itu, tanpa sepengetahuan manajemen Perkesa dan Iswadi, Freddy memberanikan diri mengikuti latihan yang sekaligus jadi seleksi di Niac Mitra. Karena sudah punya nama, Freddy langsung lolos. Masalahnya, Perkesa yang merasa memiliki Freddy pun berang.

Perkesa sempat enggan menerbitkan surat keluar yang menjadi syarat utama pendaftaran pemain. Beruntung berkat lobi yang dilakukan M. Basri, pelatih Niac Mitra saat itu, Perkesa akhirnya melepas Freddy Muli.

"Itu semua berkat hubungan pertemanan baik om Basri dengan Bang Iswadi," ungkap Basri.

Semusim Berkostum Petrokimia

Freddy Muli. (Bola.com/M Iqbal Ichsan)
Freddy Muli. (Bola.com/M Iqbal Ichsan)

Bersama Niac Mitra, Freddy menjadi pilar tim asuhan M. Basri yang kemudian meraih trofi juara pada 1987-1988. Berkat sukses itu, pemain Niac Mitra laris manis jadi rebutan sejumlah klub. Apalagi pada waktu yang sama pemilik Niac Mitra, A.Wenas berniat melakukan regenerasi pemain.

Sejumlah pilar hengkang ke klub lain seperti Jaya Hartono, M. Kusnan, Yessi Mustamu dan Benny van Breukelen. Freddy sempat bertahan sampai pertengahan musim 1988-1989. Ia kemudian hengkang ke Petrokimia Putera Gresik yang membutuhkan jasanya.

Kala itu, Petrokimia dilatih oleh mendiang Ronny Pattisarani yang tengah membangun tim dengan mendatangkan pemain bintang.

Lewat negosiasi antarmanajemen, Freddy pindah ke klub Gresik itu dengan nilai transfer Rp.15 juta. "Saya hanya mendapat Rp11 juta, sisanya untuk adminiastrasi klub," tutur Freddy.

Berduet dengan Syamsul Arifin

Freddy Muli (kiri). (Bola.com/Vincentius Atmaja)
Freddy Muli (kiri). (Bola.com/Vincentius Atmaja)

Freddy tak lama berkostum Petromikia. Ia kembali ke Niac Mitra yang sudah berganti nama menjadi Mitra Surabaya setelah Grup Jawa Pos mengambil alih kendali manajemen dari Wenas.

Freddy memperkuat Mitra pada musim 1990-1991. Menariknya, pada periode itu ia berduet dengan seniornya, Syamsul Arifin yang sejatinya adalah striker papan atas Indonesia. Di era jayanya, Syamsul yang dikenal dengan julukan 'Raja Udara' menjadi top skorer Galatama 1980-1982 dengan 30 gol.

Meski berbeda posisi, keduanya langsung nyetel. Freddy bertugas mematikan striker lawan sedang Syamsul berperan sebagai sweeper atau libero.

"Semuanya berjalan alami dan spontan. Apalagi sebagai eks striker, cak Syamsul tahu betul pergerakan penyerang lawan," ujar Freddy.

Selepas dari Mitra, Freddy menerima ajakan HM. Mislan, pemilik Gelora Dewata untuk bermain di klub yang bermarkas di Bali. Di klub ini pula, Freddy pensiun sebagai pemain dan meneruskan karier sebagai pelatih.

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini