Fungsi Ekologis Hutan Mangrove Serta Ekonomisnya, Wajib Tahu

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta Fungsi ekologis hutan mangrove yang banyak diketahui orang-orang hanyalah sebatas untuk kelestarian biota yang hidup didalamnya, namun apabila Anda menelusuri lebih dalam lagi, sebenarnya fungsi ekologis hutan mangrove masih ada banyak dan Anda dapat memahami betapa pentingnya hutan ini bagi kehidupan kita bersama.

Hutan mangrove merupakan salah satu ekosistem berupa sekumpulan tumbuhan yang bertahan hidup meski dalam air payau dan terpengaruh pasang-surutnya air laut. Hutan mangrove pada umumnya terletak di pesisir pantai dan terlihat hijau manjakan mata.

Selain fungsi ekologis hutan mangrove ada pula fungsi ekonomisnya. Hutan mangrove yang memiliki pemandangan hijau nan indah ini ternyata banyak diminati sebagai lokasi spot foto oleh para wisatawan yang berkunjung. Banyak orang yang rela mengeluarkan uang hanya untuk berpose dan berjalan mengelilingi hutan ini.

Berikut ini merupakan penjelasan tentang fungsi ekologis hutan mangrove beserta fungsi ekonomisnya yang telah dirangkum dari berbagai sumber oleh Liputan6.com, Kamis (12/11/2020).

Fungsi ekologis hutan mangrove

Hutan mangrove. Kementerian KKP
Hutan mangrove. Kementerian KKP

1. Mencegah abrasi pantai

Di bibir pantai kerap kali terjadi pengikisan tanah atau erosi yang disebabkan oleh aktivitas pasang surut air laut. Guna menanggulangi hal tersebut, hutan mangrove pun ditanam agar dapat menjadi pemecah ombak.

Abrasi pantai merupakan salah satu fenomena alam yang cukup merugikan. Selain mengancam kehidupan masyarakat pesisir pantai, abrasi juga menimbulkan kerugian bagi makhluk hidup lain. Maka dari itu, salah satu fungsi ekologis hutan mangrove yakni dapat mencegah terjadinya abrasi pantai. Hal ini lantaran akar dari pohon mangrove dinilai cukup kokoh sebagai penahan tanah. Maka dari itu, reboisasi hutan mangrove sangat disarankan bagi daerah-daerah pesisir pantai yang memiliki potensi untuk terjadi abrasi.

2. Tempat tinggal biota laut

Fungsi hutan mangrove yang ketiga adalah sebagai tempat hidup beragam makhluk hidup. Hutan mangrove yang rimbun dapat mengurangi paparan sinar matahari secara langsung yang masuk ke dalam air laut.

Sehingga, tempat tersebut kerap dipilih oleh beragam hewan darat dan udara seperti kura-kura, biawak, burung, ular, hingga monyet untuk tinggal di sana. Banyak pula biota laut yang juga memilih untuk menggantungkan hidupnya di hutan mangrove seperti ikan kecil, kepiting, udang, dan siput.

3. Mencegah intrusi air laut

Salah satu fungsi ekologis hutan mangrove lainnya yakni sebagai pencegah adanya intrusi air laut. Intrusi laut adalah salah satu proses alam yang menimbulkan kerugian pada makhluk hidup dan lingkungan alamnya, sebab intrusi tersebut menyebabkan air laut merembes ke dalam tanah daratan.

Sehingga rembesan air laut tersebut membuat air di daratan menjadi payau dan tak bisa dikonsumsi manusia. Dengan adanya hutan mangrove, akar-akar pohonnya dinilai mampu mengendapkan lumpur sehingga mencegah terjadinya intrusi air laut.

Fungsi ekologis hutan mangrove

Hutan Mangrove  (sumber: Pixabay)
Hutan Mangrove (sumber: Pixabay)

4. Penyaring alami

Akibat banyaknya alih fungsi hutan dan pembakaran hutan di daratan, membuat penyerapan karbondioksida menjadi kurang maksimal. Dengan adanya hutan mangrove, diharapkan dapat mengambil alih peran hutan yang ada di daratan sebagai penyaring udara alami.

Selain itu, akar mangrove yang cukup berlumpur juga dapat menguraikan berbagai limbah organik. Sehingga, berbagai limbah non-organik seperti bahan kimia pun juga dapat diuraikan oleh hutan mangrove tersebut. Selain itu, hutan mangrove memiliki fungsi sebagai penghalang saat angin kencang berhembus di sekitar pantai pada saat musim penghujan.

5. Tempat tinggal bagi biota laut

Hutan mangrove yang lebat dan memiliki air payau di bawahnya ternyata juga diminati oleh para biota laut sebagai habitat. Banyak ikan-ikan kecil, kepiting, udang, dan lain sebagainya memilih untuk tinggal di dalam hutan mangrove karena aman dari predator besar yang ada di laut.

Fungsi Ekonomis Hutan Mangrove

Wisatawan usai menaiki perahu saat mengunjungi Taman Wisata Hutan Bakau (Mangrove) di Desa Segarajaya, Tarumajaya, Bekasi, Jawa Barat (24/11/2019). Taman wisata hutan bakau ini menjadi salah satu destinasi favorit warga, baik dari dalam maupun luar Bekasi. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)
Wisatawan usai menaiki perahu saat mengunjungi Taman Wisata Hutan Bakau (Mangrove) di Desa Segarajaya, Tarumajaya, Bekasi, Jawa Barat (24/11/2019). Taman wisata hutan bakau ini menjadi salah satu destinasi favorit warga, baik dari dalam maupun luar Bekasi. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

1. Kayu Mangrove

Pada tanaman mangrove yang sudah dewasa, kayunya dapat dimanfaatkan dan dijual oleh warga sekitar. Namun hal ini hanya boleh dilakukan jika warga tersebut bersedia untuk melakukan reboisasi terhadap hutan mangrove yang kayunya hendak dijual.

2. Hasil tangkapan laut

Seperti yang telah disebutkan di atas bahwa hutan mangrove kerap kali menjadi habitat bagi para biota laut. Hal ini juga dapat dilihat oleh masyarakat sekitar sebagai nilai ekonomis. Masyarakat dapat menangkap dan menjual biota tersebut seperti kepiting, udang, gongong, dan ikan-ikan sebagai bahan pembuatan masakan seafood. Meski demikian, hal ini tetap harus diperhatikan agar tidak merusak ekosistem yang ada.

Jika dilakukan secara berlebihan bisa berpotensi untuk merusak ekonsistem yang ada. Maka dari itu, guna mengambil tangkapan laut dari mangrove sebaiknya dilakukan secara berkala dan tidak dilakukan secara sekaligus.

Fungsi Ekonomis Hutan Mangrove

Jelajah hutan mangrove di Dukuh Pandansari, Desa Kaliwlingi, menjadi primadona baru wisata di Kabupaten Brebes, Jateng. (Liputan6.com/Fajar Eko Nugroho)
Jelajah hutan mangrove di Dukuh Pandansari, Desa Kaliwlingi, menjadi primadona baru wisata di Kabupaten Brebes, Jateng. (Liputan6.com/Fajar Eko Nugroho)

3. Spot wisata

Keindahan hutan mangrove yang berupa pemandangan hijau di pinggir pesisir pantai tentu memanjakan mata dan menarik minat wisatawan. Bagi orang-orang yang tinggal disekitar kawasan hutan mangrove dapat mengelola hutan agar dapat menjadi tempat wisata yang layak.

Masyarakat dapat membuatkan jalan agar wisatawan dapat berjalan mengelilingi hutan mangrove dan bebas untuk berselfie ria di sekitarnya. Banyak wisatawan baik domestik maupun mancanegara yang tertarik untuk berfoto di tengah hutan mangrove. Masyarakat pun dapat mengenakan tarif tiket retribusi sebagai biaya pengelolaannya.

4. Berjualan makanan di sekitar hutan mangrove

Hutan mangrove yang sudah diubah menjadi kawasan wisata bisa mendatangkan nilai ekonomis bagi warga sekitarnya. Salah satunya adalah dengan berjualan makanan di sekitarnya. Dengan banyaknya kehadiran wisatawan, maka masyarakat sekitar dapat membuat warung yang menjual makanan ringan atau minuman.