Fungsi Oximeter, Alat Rekomendasi WHO Bagi Pasien Positif COVID-19

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Hingga saat ini, dunia masih menghadapi pandemi COVID-19. Jumlah pasien positif masih terus bertambah angkanya. Tak heran, masalah kesehatan adalah salah satu hal yang jadi prioritas saat ini.

Dikutip dari situs resmi WHO, Jumat (29/1/2021), masalah kesehatan dapat diketahui melalui perangkat pulse oximeter yang memberikan deteksi dini, yaitu hypoxia, sebelum kemudian tanda lain diamati, dan dapat mengurangi frekuensi tusukan arteri dan analisis gas darah laboratorium.

Perangkat ini juga digunakan dalam anestesi kedokteran gigi, bidang olahraga, dan memantau pasien dari rumah, seperti bayi yang berisiko mengalami sindrom kematian mendadak dan pasien yang membutuhkan terapi pernapasan.

Perangkat pulse oximeter tersedia dalam berbagai ukuran yang dapat disertakan dengan perinter atau perekam. Dimana, alat ini terdiri dari unit yang terhubung ke saluran dan diberi daya melalui baterai internal dan juga terdiri dari sensor.

Sensor yang dapat digunakan kembali termasuk sensor model klip pegas. Ini dapat diterapkan ke lokasi pengukuran di bagian tubuh manusia seperti jari dan telinga.

Sedangkan sensor sekali pakai untuk penggunaan satu pasien. Biasanya merupakan sensor jenis perekat yang dapat diterapkan ke lokasi pengukuran di bagian tubuh manusia misalnya jari kaki dan kaki.

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

Cara Kerja Pulse Oximeter

Rumah Sakit Darurat COVID-19 Secapa AD di Hegarmanah, Kota Bandung. (Sumber Foto: Humas Jabar)
Rumah Sakit Darurat COVID-19 Secapa AD di Hegarmanah, Kota Bandung. (Sumber Foto: Humas Jabar)

Perangkat pulse oximeter menggunakan prinsip penyerapan cahaya diferensial untuk menentukan persentase O2 yang terikat pada hemoglobin dalam pembuluh darah.

Dua gelombang cahaya (misalnya, 660 nm [merah] dan 930 nm [inframerah]) ditransmisikan melalui kulit ke dalam jaringan oleh diode (komponen aktif dua kutub) pemancar cahaya (LED) sensor dan diserap secara berbeda oleh oxyhemoglobin (HbO2), yang berwarna merah menyerap cahaya infra merah, dan deoxyhemoglobin yang berwarna biru menyerap cahaya merah.

Foto detektor sensor akan mengubah cahaya yang ditransmisikan menjadi sinyal listrik yang proporsional dengan absorbansi, sinyal tersebut kemudian diproses oleh mikroprosesor unit, yang memperoleh pembacaan saturasi dan jika pembacaan di luar batas alarm, maka akan membunyikan alarm.

Cara Menggunakan Pulse Oximeter

Ilustrasi Hemoglobin / Sumber: Pixabay
Ilustrasi Hemoglobin / Sumber: Pixabay

Untuk menggunakan perangkat ini ada langkah-langkah yang harus diikuti:

1. Sensor oksimetri nadi diterapkan ke area tubuh, seperti jari tangan, jari kaki, atau telinga.

2. Unit dihidupkan dan memproses sinyal yang diterima.

3. Jika pembacaan di luar batas alarm, alarm akan berbunyi.

Masalah Yang Ditemukan Dalam Penggunaan

ilustrasi tes gula darah dan diabetes | pexels.com/@wdnet
ilustrasi tes gula darah dan diabetes | pexels.com/@wdnet

Masalah yang paling umum dengan oksimeter adalah kinerja yang buruk selama gerakan pasien yang berlebihan atau dengan perfusi (sirkulasi darah di dalam pembuluh kapiler paru) yang buruk.

Gangguan dari lingkungan sekitar dapat membatasi penggunaan perangkat seperti:

1. Arus frekuensi tinggi dapat memancar ke probe oksimeter.

2. Sumber cahaya tampak terang dan inframerah dapat mengganggu sensor karena dirancang untuk mengukur sinyal cahaya lemah yang dikirimkan melalui kulit dan jaringan.

3. Luka bakar dapat terjadi akibat penggunaan sensor yang tidak kompatibel, meskipun konektor sensor tersebut kompatibel dengan oksimeter.

Reporter: Veronica Gita

Infografis 3 Cara Vaksin Covid-19 Picu Kekebalan Tubuh

Infografis 3 Cara Vaksin Covid-19 Picu Kekebalan Tubuh. (Liputan6.com/Abdillah)
Infografis 3 Cara Vaksin Covid-19 Picu Kekebalan Tubuh. (Liputan6.com/Abdillah)

Simak video pilihan di bawah ini: