Future Leaders Connect, Program Bagi Para Pemimpin Muda Pengubah Dunia

Yolanda Vania

Future Leaders Connect merupakan program besutan British Council. Program ini bertujuan untuk mencetak para pemimpin muda yang memiliki tujuan untuk mengubah dunia. Pemimpin tersebut terpilih melalui visi dan kebijakan yang mereka buat untuk ke depannya. 

Kelima pemimpin muda asal Indonesia, termasuk di antara 50 delegasi dunia yang berpartisipasi dalam program Future Leaders Connect 2019 di Inggris pada 21 Oktober-1 November 2019 lalu. Setelah ini, pemimpin itu akan menjadi bagian dari jaringan global Future Leaders Connect yang terhubung dengan pemimpin kebijakan dari seluruh dunia. 

1. Lima pemimpin muda Indonesia tergabung dalam Future Leaders Connect 2019. Mereka adalah Karina Aelyo Nindyo Kusuma Negara, Lalola Easter Kaban, Putri Herliana, Rahmat Hidayat HM, dan Rahman Adi Pradana

Future Leaders Connect, Program Bagi Para Pemimpin Muda Pengubah Dunia

Lima delegasi dari Indonesia tersebut, terpilih dari total 2.700 pelamar. Mereka terpilih melalui beberapa proses berdasarkan visi, perubahan yang akan dibawa, pembuatan kebijakan yang efektif, serta rekam jejaknya untuk menjadi pemimpin Indonesia di masa depan.

Terpilihlah Karina Aelyo Nindyo Kusuma Negara (Chief Psychology Officer di KALM), Lalola Easter Kaban (Legal Researcher di Indonesia Corruption Watch), Putri Herliana (Country Manager di Clinton Health Access Initiative), Rahmat Hidayat HM (Programme Coordinator di The Floating School Jakarta), dan Rahman Adi Pradana (Sustainable Land Use Manager di World Resources Institute Indonesia).

2. Kelima delegasi itu menyatakan harapannya tentang perubahan Indonesia melalui kebijakan dan perubahan yang mereka buat

Future Leaders Connect, Program Bagi Para Pemimpin Muda Pengubah Dunia

Dalam proses pemilihannya, kelima pemimpin muda dari Indonesia itu diminta untuk membuat sebuah kebijakan atau perubahan. Setiap delegasi memiliki program berdasarkan bidang mereka. Karina membuat program mengenai kesehatan mental, Lalola mengenai korupsi, Putri mengenai vaksin untuk anak-anak, Rahmat tentang pendidikan, dan Adi mengenai lingkungan. 

“Kami sangat bangga dapat mendengar langsung gagasan-gagasan dari para pemimpin muda Indonesia, yang akan menjadi motor penggerak Indonesia sebagai salah satu negara terkuat di abad ke-21. Semoga program kepemimpinan Future Leaders Connect telah memberikan kesempatan belajar dua arah tentang proses pembuatan kebijakan di Inggris dan Indonesia,” Ujar Owen Jenkins, Duta Besar Inggris untuk Indonesia dan Timor Leste. 

3. Setelah terpilih di Indonesia, mereka mengikuti program 10 hari di Moller Institute, Churchill College, University of Cambridge, dan Dewan Parlemen Inggris

Future Leaders Connect, Program Bagi Para Pemimpin Muda Pengubah Dunia

Kelima pemimpin muda Indonesia tadi, melanjutkan perjalanannya dengan mengikuti program 10 hari yang menyatukan para pemimpin muda lainnya, dari 13 negara yang berusia 18-35 tahun. Program ini bertujuan untuk melatih para delegasi dalam membuat kebijakan dan kepemimpinan tingkat lanjut. 

13 negara yang dimaksud sebelumnya adalah Kanada, Mesir, India, Kenya, Meksiko, Maroko, Nigeria, Pakistan, Polandia, Tunisia, Amerika Serikat, dan empat negara dari Inggris Raya yaitu Inggris (England), Irlandia Utara, Skotlandia, dan Wales.

Di sana, mereka bertemu dengan Parlemen Inggris, akademisi, dan para pembuat kebijakan yang sudah senior. Masing-masing negara mengirimkan delegasi dengan proses yang kompetitif. Mereka menyuarakan kebijakan yang inovatif untuk membuat perubahan di dunia. 

4. Dalam membuat kebijakan yang efektif, penting juga bagi para pemimpin muda untuk memiliki koneksi dengan berbagai pihak

Future Leaders Connect, Program Bagi Para Pemimpin Muda Pengubah Dunia

Selain memberikan pelatihan dalam membuat kebijakan dan kepemimpinan, program Future Leaders Connect memberikan kesempatan bagi para delegasi untuk menjalin hubungan dengan pemimpin terkemuka. Selain itu, mereka berkesempatan mengunjungi berbagai lembaga terkemuka di Inggris untuk membangun jaringan dengan para pemimpin kebijakan. 

Delegasi asal Indonesia menyampaikan bahwa mereka sangat mempelajari tentang leadership dan cara menyusun kebijakan yang kolaboratif. Hal yang sangat mereka soroti dari program ini adalah pentingnya melakukan koneksi dengan para pembuat kebijakan senior dan praktisi lintas sektor untuk membuat kebijakan publik yang efektif. 

“Mengikuti program Future Leaders Connect merupakan kesempatan berharga. Saya melihat anak muda di seluruh dunia terus bersemangat menyuarakan aspirasinya di berbagai bidang. Ini memberikan energi dan harapan baru,” kata Putri Herlina. 

5. Karina membawa kebijakan dan perubahan baru mengenai pentingnya kesehatan mental dan mengelola perasaan sejak dini

Future Leaders Connect, Program Bagi Para Pemimpin Muda Pengubah Dunia

Bekerja sebagai psikolog, Karina menyampaikan kekhawatirannya mengenai kesehatan mental. Menurutnya, bukan hanya luka fisik saja yang perlu segera diobati. Luka yang mengganggu mental pun, harus segera diobati. Masyarakat Indonesia sering kali malu untuk pergi ke psikolog dan merasa hal itu tabu.

Saat kita sudah dewasa dan belum mengerti cara mengelola perasaan, itu karena tidak mendapatkan pengetahuan sejak dini. Dengan begitu, Karina berpikir untuk membuat sebuah kebijakan yang mengedukasi masyarakat Indonesia tentang kesehatan mental dan cara mengelola perasaan. 

"Cukup banyak psikolog di Indonesia. Para psikolog melakukan konseling secara one on one setiap hari. Namun, perubahan belum terlihat hingga hari ini. Ini berarti tidak cukup jika hanya melalui konseling per orangan saja," ujarnya. 

Cara terbaik dan mudah yang dapat dilakukan di Indonesia adalah dengan mengajarkannya di sekolah. Anak-anak lebih lama menghabiskan waktunya di sekolah daripada di rumah. Dengan begitu, Karina berpikir untuk memasukkan pengetahuan mental dan mengelola perasaan melalui sekolah. 

Karina berharap, pengetahuan ini dapat masuk ke dalam kurikulum sekolah. Dengan menaruhnya ke dalam kurikulum sekolah, pengetahuan itu dapat secara langsung menjangkau para siswa secara luas. Tidak terbatas pada kesehatan mental, bahkan kecerdasan emosional juga penting. "Saya berharap hal ini dapat terwujud untuk 10 atau 20 tahun ke depan," tegas Karina.