G20 SVOC bertujuan kuatkan rantai pasok minyak nabati berkelanjutan

Penyelenggaraan G20 Sustainable Vegetable Oils Conference (G20 SVOC), sebagai bagian dari rangkaian KTT G20 pada 3 November 2022 di Nusa Dua, Bali, bertujuan untuk menguatkan rantai pasok minyak nabati yang berkelanjutan.

Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis Kemenko Perekonomian Musdhalifah Machmud dalam konferensi pers persiapan G20 SVOC di Jakarta, Jumat, menyampaikan, penyelenggaraan konferensi internasional ini bertujuan merumuskan strategi dan kebijakan dalam pengelolaan minyak nabati untuk memperkuat ketahanan pangan dan energi di tingkat global.

"Dalam tingkat teknis, G20 SVOC bertujuan untuk merumuskan rencana aksi masing-masing stakeholder dalam rangka peningkatan produktivitas, jaminan pemenuhan kebutuhan global, dan penguatan rantai pasok minyak nabati," katanya.

Lebih lanjut, dia menyampaikan G20 SVOC akan menjadi sarana untuk mendorong pengembangan minyak nabati secara berkelanjutan, baik di tingkat domestik maupun global.

Menurut dia, momentum ini juga menjadi aktualisasi peran Indonesia sebagai Presidensi G20 tahun ini untuk mendorong peran aktif negara-negara G20 dalam menyelesaikan tantangan pengembangan minyak nabati dunia.

Selain itu, G20 SVOC juga dapat menjadi stepping stone bagi Indonesia terus terlibat dan berperan aktif dalam diskusi dan aksi global untuk menyelesaikan berbagai masalah dan tantangan yang dihadapi masyarakat dunia.

"G20 SVOC akan memberikan dampak positif dalam menggerakkan perekonomian khususnya di sektor transportasi dan pariwisata melalui kehadiran peserta secara on site selama pelaksanaan konferensi," ujar Musdhalifah.

Dalam kesempatan sama, Sekretaris Jenderal Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC) Rizal Affandi Lukman menyampaikan minyak kelapa sawit Indonesia mampu terus menyuplai kebutuhan pangan dan energi di tingkat global di tengah adanya disrupsi rantai pasokan minyak nabati, akibat pandemi COVID-19 dan konflik geopolitik Rusia dan Ukraina.

Menurut dia, hal itu terlihat dari konsistensi permintaan pasar minyak nabati, termasuk dari negara-negara yang sedang berupaya membatasi impor minyak kelapa sawit, yang diimbangi oleh ketersediaan pasokan.

Rizal mengatakan konferensi G20 SVOC dapat menjadi platform untuk menjalin kerja sama dengan negara-negara produsen dan konsumen minyak nabati lainnya, dalam penyediaan yang berkelanjutan di tengah tantangan global dan komitmen mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) 2030.

Konferensi ini merupakan kerja sama Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Pertanian, CPOPC, Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), dan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki).