Gagal Ginjal Jadi Beban Pembiayaan BPJS Terbesar Ke-4

Tasya Paramitha, Isra Berlian
·Bacaan 1 menit

VIVAPenyakit ginjal kronik menjadi salah satu dari 30 penyakit penyebab kematian tertinggi di dunia. Menurut data global, angka kematian akibat penyakit ginjal kronik mencapai 8-10 kali populasi normal.

Data global tahun 1990 menunjukkan, penyakit gagal ginjal menempati posisi 25 penyakit penyebab kematian tertinggi di dunia. Di 2001 naik menjadi posisi ke-21 dan kembali naik di posisi 17 di tahun 2019.

Tidak hanya menjadi penyebab kematian tertinggi saja, penyakit ginjal juga menjadi salah satu tanggungan terbesar BPJS Kesehatan.

"Biaya BPJS untuk pengobatan penyakit ginjal menempati urutan keempat terbesar, yang menghabiskan biaya BPJS Kesehatan setelah pengobatan jantung, kanker dan stroke. Pembiayaan dialisis sebagian besar 93 persen dibiayai oleh BPJS," kata Ketua Umum Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PERNEFRI), dr. Aida Lydia, Ph.D., Sp.PD-KGH, dalam virtual conference jelang Hari Ginjal Sedunia, Rabu, 10 Maret 2021.

Di sisi lain, Direktur Utama BPJS, Prof. dr. Ali Ghufron Mukti, Msc,PhD memaparkan bahwa pelayanan kesehatan untuk diagnosa gagal ginjal pada tahun 2018-2020 mencapai Rp6,4 triliun.

"Dana untuk jantung Rp27 triliun lebih atau 56,4 persen biaya per jenis penyakit katastropik. Kanker Rp9,6 triliun, stroke Rp6,9 triliun dan gagal ginjal R 6,4 triliun. Ini dana yang dikeluarkan untuk pembiayaan kesehatan katastropik cukup besar," jelas dia.

Lebih lanjut, dipaparkan oleh Ali, pembiayaan tata laksana gagal ginjal per orang pada JKN sendiri untuk 1 kali tindakan transplantasi mencapai Rp341 juta, hemodialisa 2 kali per minggu dengan biaya Rp92 juta per tahun dan CAPD Rp76 juta per tahun.

"Survival rate PGK pada lima tahun 63,32 persen, sehingga asumsi pembiayaan HD dalam lima tahun untuk satu jiwa adalah Rp460 juta. Dari data ini, transplantasi direkomendasikan oleh para ahli sebagai terapi yang lebih baik dibanding RRT lainnya karena kualitas hidup lebih baik dan cost efficiency," jelas dia.