Gajah di Afsel Injak Pemburu Ilegal hingga Tewas demi Selamatkan Kawanannya

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Cape Town - Seekor gajah dilaporkan telah menginjak-injak pemburu hingga tewas untuk menyelamatkan kawanannya.

Dilansir dari laman Daily Star, Minggu (24/10/2021), penemuan mengejutkan itu terjadi setelah seorang penjaga taman menemukan tubuh manusia yang rusak di Taman Nasional Kruger (TNK), Afrika Selatan, pada Kamis 21 Oktober dalam operasi patroli untuk memerangi perburuan ilegal hewan.

Anehnya, ponsel pemburu ilegal itu selamat dari insiden dan telah diberikan pada polisi.

Polisi bermaksud mengakses ponsel untuk melacak orang lain yang terlibat dalam percobaan perburuan.

Juru bicara taman, Isaac Phaahla mengatakan: "Penyelidikan awal menduga bahwa almarhum dibunuh oleh seekor gajah dan ditinggalkan oleh kaki tangannya.”

Dia menambahkan: "Tidak ada hewan yang terbunuh di sekitar lokasi.

“Pengelola TNK terus memperingatkan para pemburu liar bahwa berburu secara ilegal itu berbahaya.

"Penjahat akan kehilangan nyawa dan kebebasan mereka."

Isaac mengungkapkan bahwa tahun lalu orang lain yang dicurigai sebagai pemburu dimakan oleh singa, dengan hanya tengkoraknya saja yang tersisa.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Akibat Perburuan Brutal Gajah

Ilustrasi gajah (pixabay)
Ilustrasi gajah (pixabay)

Mengutip dari artikel yang telah dibuat sebelumnya, perburuan ilegal gajah juga dapat menyebabkan evolusi gajah tidak lagi memiliki gading.

Gading adalah salah satu ciri khas gajah yang membantunya mengangkat dahan yang berat, menumbangkan pohon, mengupas kulit kayu, berkelahi, dan menggali lubang untuk menemukan air. Tapi, mengutip CNN, Sabtu, 23 Oktober 2021, semakin banyak gajah betina di Taman Nasional Gorongosa Mozambik lahir tanpanya.

Para ilmuwan mengatakan ini adalah reaksi evolusioner terhadap pembunuhan brutal gajah untuk diambil gadingnya selama perang saudara 15 tahun di negara itu. Para ahli gajah yang bekerja di taman nasional mulai memperhatikan fenomena tersebut setelah perang berakhir pada 1992.

Data lapangan dan analisa rekaman video menemukan, proporsi gajah betina tanpa gading meningkat lebih dari tiga kali lipat antara tahun 1972 dan 2000. Itu adalah periode populasi gajah anjlok dari sekitar dua ribu jadi hanya sekitar 250 individu, kata Ryan Long, seorang profesor ilmu satwa liar di Universitas Idaho.

"Selama perang, Gorongosa pada dasarnya adalah pusat geografis konflik," kata Long. "Akibatnya ada sejumlah besar tentara di daerah itu dan banyak motivasi terkait untuk membunuh gajah dan menjual gadingnya demi membeli senjata dan amunisi. Tingkat perburuan yang dihasilkan sangat intens."

Para ilmuwan sekarang memiliki pemahaman lebih baik tentang dasar genetik gading dan mengapa hal itu tampaknya hanya memengaruhi gajah betina, menurut sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Science pada Kamis, 21 Oktober 2021. Analisa menunjukkan bahwa gajah betina tanpa gading lima kali lebih mungkin bertahan hidup selama periode 28 tahun.

Karena itu, adaptasi dinilai sangat tidak mungkin terjadi secara kebetulan. Gading memang terbentuk secara alami, dan hanya pada gajah betina, meski tidak ada perburuan, tapi biasanya hanya pada sebagian kecil gajah. Di Gorongosa pada 1970-an, 18,5 persen gajah betina tidak memiliki gading, sementara tiga dekade kemudian 51 persen memilikinya.

Reporter: Ielyfia Prasetio

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel