Gaji Orang Tua, Separuh Lulusan SNMPTN UGM Bohong

TEMPO.CO, Yogyakarta - Universitas Gadjah Mada merilis data bahwa separuh dari 3.317 peserta, yang lolos Seleksi Masuk Nasional Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) di kampus ini, mengisi data penghasilan orang tua dengan tidak benar ketika pertama kali mendaftar.

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan UGM, Iwan Dwiprahasto, mengatakan informasi penghasilan orang tua dari 1.752 calon mahasiswa itu tidak konsisten antara yang terisi di berkas pendaftaran SNMPTN dengan data yang ditulis ulang ketika melakukan registrasi.

Menurut Iwan, data penghasilan orang tua, yang diberikan oleh calon mahasiswa ketika melakukan registrasi di UGM, lebih jujur. Sebabnya, kata dia, dalam proses registrasi, calon mahasiswa diwajibkan melampirkan surat pernyataan yang memastikan kebenaran informasi di biodatanya.

Surat pernyataan itu menyatakan UGM bisa membatalkan status calon mahasiswa, yang sudah lolos SNMPTN, apabila informasi biodatanya tidak sesuai dengan hasil verifikasi yang dilakukan lewat survei ke rumah keluarga mereka. Iwan meyakini surat pernyataan ini mendorong banyak calon mahasiswa baru bersikap jujur dan mengubah data informasi pendapatan orang tua. "Kebenaran data penghasilan orang tua ini penting untuk menentukan besaran Uang Kuliah Tunggal yang mereka bayar," kata dia pada Minggu, 14 Juli 2013.

Iwan menduga, akibat adanya surat itu, 1.752 calon mahasiswa UGM tadi mau mengubah informasi penghasilan orang tua, yang berbeda dengan data di berkas pendaftaran SNMPTN, ketika melakukan registrasi. "Mereka tidak jujur ketika mengisi data dalam pendaftaran SNMPTN," kata Iwan.

Dia mencatat, dalam proses registrasi di UGM, 1.398 calon mahasiswa baru mengisi informasi pendapatan orang tua dengan nilai lebih tinggi dari data yang mereka tunjukkan ketika mendaftar di SNMPTN. Sementara data penghasilan orang tua dalam registrasi 354 calon mahasiswa baru bernilai lebih rendah dari yang tercantum di berkas pendaftaran SNMPTN. "Selisihnya bervariasi," kata dia.

Iwan menjelaskan hampir separuh dari 1.752 calon mahasiswa baru UGM dari jalur SNMPTN tersebut mengoreksi nilai pendapat orang tua dengan memberi penambahan sampai Rp 5 juta. Dia mencontohkan, di berkas pendaftaran SNMPTN, sebagian calon mahasiswa mengisi data penghasilan orang tua senilai Rp1 juta per bulan. Namun, data itu kemudian mereka koreksi ketika registrasi di UGM menjadi Rp 6 juta.

Dia menambahkan sekitar 15 persen dari 1.752 calon mahasiswa baru UGM yang lolos jalur SNMPTN tersebut malah mengoreksi nilai pendapatan orang tua saat melakukan registrasi hingga bertambah menjadi menjadi Rp10 juta. Pada berkas pendaftaran SNMPTN, mereka menulis informasi pendapatan orang tua sebesar Rp 5 juta per bulan. Namun, saat registrasi di UGM, mereka mengoreksinya menjadi Rp 15 juta per bulan. 

Hanya sekitar 35 persen dari 1.752 calon mahasiswa baru mengubah data penghasilan orang tua, saat melakukan registrasi di UGM, menjadi bernilai lebih rendah. "Sekitar 354 calon mahasiswa saja," kata dia.

Juru Bicara UGM, Wijayanti menambahkan, proses verivikasi data penghasilan orang tua calon mahasiswa baru akan segera dilaksanakan seusai proses registrasi. "Metodenya dengan mengunjungi rumah mereka," kata dia.

ADDI MAWAHIBUN IDHOM

Berita Terhangat:

Bara LP Tanjung Gusta | Bursa Capres 2014 | Ribut Kabut Asap | Tarif Progresif KRL | Bencana Aceh

Berita Populer

SBY Marah, Menteri-menteri Ekonomi Percepat Rapat

Latihan Arsenal Diwarnai Insiden

Demo Pro dan Kontra Khofifah Berhadap-hadapan

Jika Lancar, Produksi LCGC 5 Ribu Unit Per Bulan

Kubu Khofifah Minta KPU Jatim Bertindak Adil

Cory Monteith Jalani Rehabilitasi Obat Terlarang  

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.