Gaji Telat dan Perlakuan Buruk, Buruh Pabrik iPhone di China Demo

Merdeka.com - Merdeka.com - Rekaman yang menunjukkan bentrok antara pekerja di pabrik iPhone terbesar yakni Foxconn di Zhengzhou China dengan polisi antikerusuhan dan pejabat pabrik beredar di media sosial pada Rabu (23/11). Zhengzhou yang dikenal secara lokal sebagai "kota iPhone" adalah rumah bagi sekitar 200.000 pekerja yang mengalami keterlambatan gaji dan perlakuan tidak layak selama lockdown Covid-19.

Dilansir dari The Wall Street Journal dan The Verge, Kamis (24/11), protes dimulai setelah para pekerja, yang telah berada dalam isolasi Covid-19 yang ketat selama berminggu-minggu, mengetahui bahwa pembayaran bonus akan ditunda.

Sebelumnya, Apple mengumumkan awal bulan ini bahwa mereka mengharapkan pengiriman model iPhone 14 premium yang lebih rendah karena gangguan yang disebabkan oleh lockdown di pabrik Foxconn.

Sementara itu, The Wall Street Journal melaporkan bahwa protes dimulai pada Selasa malam di dekat fasilitas akomodasi pekerja Foxconn. Kontrol covid ketat Foxconn dikabarkan telah memaksa pekerjanya untuk tinggal dan bekerja di pabrik dengan makanan dan persediaan terbatas, untuk mencegah wabah lebih lanjut di Zhengzhou.

Sejak Oktober, dilaporkan telah banyak pekerja yang melarikan diri dari fasilitas, sehingga Foxconn pun mengiming-imingi insentif seperti gaji yang lebih tinggi dan bonus untuk mempertahankan staf mereka. Namun, faktanya mereka terus menunda pembayaran gaji.

Dalam rekaman video yang disebarkan oleh wartawan BBC Stephen McDonell pada Rabu (23/11) di Twitter, tampak ratusan pekerja meneriakkan "berikan gaji kami" sambil dikelilingi oleh polisi antikerusuhan dan orang-orang dengan pakaian hazmat. Sebuah rekaman live streaming oleh kantor berita Agence France-Presse malam itu juga memperlihatkan para pekerja berteriak "Bela hak kami! Pertahankan hak kami!".

"Foxconn tidak pernah memperlakukan manusia sebagai manusia," kata seorang demonstran dalam sebuah video di tempat kejadian.

Pekerja lain yang bersuara di siaran langsung mengatakan bahwa selain penundaan gaji, mereka juga memprotes kekurangan makanan.

"Pihak pabrik mengubah kontrak sehingga kami tidak bisa mendapatkan subsidi seperti yang mereka janjikan. Mereka mengkarantina kami tetapi tidak menyediakan makanan," kata seorang pekerja Foxconn.

"Jika mereka tidak memenuhi kebutuhan kami, kami akan terus berjuang," teriak demonstran.

Sebagian besar rekaman video telah dihapus, tetapi The Wall Street Journal melaporkan telah mengonfirmasi peristiwa yang ditampilkan dalam video dengan pekerja di lokasi. Tagar "Foxconn Riots" juga tampaknya disensor di platform media sosial China, Weibo, pada Rabu malam.

Reporter magang: Dinda Khansa Berlian [faz]