Gak Perlu ke RS, Penderita Diabetes Bisa Kontrol Gula Darah dari Rumah

Rochimawati, Sumiyati
·Bacaan 3 menit

VIVA – Pandemi membuat banyak orang takut memeriksakan penyakitnya ke rumah sakit, termasuk para penyandang diabetes. Padahal, mereka harus terus berkomunikasi dengan dokter agar penyakitnya tidak semakin parah dan bisa terkendali.

Hal inilah yang melatarbelakangi penelitian yang dilakukan di Universitas Gadjah Mada (UGM), dengan menciptakan aplikasi Teman Diabetes. Ini merupakan aplikasi smartphone yang bertujuan untuk memudahkan pemantauan dan pengelolaan diabetes secara mandiri.

"Salah satu misi kami adalah menunjang pengelolaan diabetes mandiri dengan memberikan platform bagi penyandang diabetes untuk merekam data mereka dan menghubungkan dengan tenaga medis ahli diabetes untuk mendapatkan arahan sesuai dengan kebutuhan para penyandang diabetes. Penelitian ini memberikan data ilmiah yang mendukung misi kami tersebut," ujar COO PT Global Urban Esensial (GUE), Tiffany Robyn di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan.

Robyn berharap, hasil penelitian ilmiah ini membuat para dokter dan juga tenaga medis lainnya merekomendasikan penggunaan aplikasi Teman Diabetes kepada para pasien diabetes.

"Semoga semakin banyak pasien diabetes yang mempercayakan Pengelolaan Gula Darah Mandiri (PGDM) dengan aplikasi Teman Diabetes yang memiliki fitur, antara lain Edukasi Dasar, Rekaman dan Telekonsultasi," lanjut dia.

Pemanfaatan aplikasi

Penelitian ilmiah pertama mengenai pemanfaatan aplikasi bagi diabetesi dilakukan oleh Teman Diabetes dan Magister Farmasi Klinik Universitas Gadjah Mada (MFK UGM) pada Januari hingga Mei 2020.

Penelitian tersebut bertujuan untuk menilai efektivitas penggunaan aplikasi Teman Diabetes dalam menaikkan pengetahuan diabetes, aktivitas perawatan diri, dan perbaikan nilai klinis perawat penyandang diabetes tipe 2.

Tim peneliti riset ini adalah Prof. Dr. Zullies Ikawati, Apt selaku peneliti utama, Apt. Nidaul Hasanah, M. Clin, Pharm, dan Apt. Perdani Adnin Maisyah, M. Clin, Pharm.

Riset tersebut menggunakan desain quasi-experimental dengan membandingkan perubahan pada grup intervensi dan grup kontrol. Pada grup intervensi adalah kelompok sampel yang menggunakan aplikasi Teman Diabetes, sedangkan kelompok lainnya tidak. Lokasi penelitian dilakukan di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sebanyak 124 penyandang diabetes tipe 2 menjadi sampel penelitian ini. Terdapat 80 persen sampel berusia 50-65 tahun dan 20 persen berusia 30 tahun-49 tahun. Pasien pria dalam penelitian ini sebanyak 46 dan 54 persen lainnya adalah wanita.

Mereka yang telah dibagi dua kelompok dalam penelitian ini diminta menjalani pemeriksaan HbA1c atau hemoglobin terglikosilasi. Selain itu, dilakukan pula pemeriksaan glukosa plasma puasa sebelum dan sesudah tiga bulan masa intervensi. Pemeriksaan tersebut menggunakan sampel darah kapiler.

Berdasarkan nilai klinis setelah 3 bulan, terdapat penurunan nilai rata-rata HbA1c pada grup yang menggunakan aplikasi Teman Diabetes lebih signifikan dibandingkan dengan grup yang tidak menggunakan aplikasi ini.

Begitu pula dengan nilai rata-rata gula darah puasa pada pasien di grup yang menggunakan aplikasi Teman Diabetes menurun hingga 71,4 mg/dl, sedangkan rata-rata gula darah puasa grup yang tidak menggunakan aplikasi ini meningkat hingga 72,4 mg/dl.

Selanjutnya pada skoring peningkatan pengetahuan diabetes selama 2 bulan, grup yang menggunakan aplikasi Teman Diabetes lebih tinggi dibandingkan grup yang tidak menggunakan aplikasi tersebut.

Adapun komponen pengetahuan yang dimaksud adalah pengetahuan umum, pengetahuan mengenai gaya hidup dan kepatuhan pengobatan, serta pengelolaan nilai glikemik.

"Penelitian menemukan bahwa penggunaan aplikasi Teman Diabetes selama 2 bulan menaikkan tingkat pengetahuan diabetes pengguna," tutur Prof. Dr. Zullies Ikawati, Apt.

Penelitian ini juga menyimpulkan bahwa penggunaan aplikasi Teman Diabetes merupakan platform yang efektif untuk meningkatkan pengetahuan terkait diabetes dan perawatannya.

"Penelitian ini menemukan bahwa penggunaan aplikasi Teman Diabetes untuk membantu perawatan diabetes mandiri, dapat memberikan efek perbaikan nilai klinis yang ditandai dengan penurunan angka HbA1c," kata Zullies Ikawati.