Galian C Ciguntur Dikembalikan Sebagai Kebun Teh  

TEMPO.CO, Jakarta -Ratusan hektare lahan milik PT Tenggara di Kampung Ciguntur Desa Cipendawa dan Desa Sukatani, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, hingga kini menjadi bekas galian C dengan kondisi yang sangat menghawatirkan. "Di  lahan seluas 170 hektare di Kampung Ciguntur kini kondisinya gersang sekali, tanpa pepohonan," kata Administratur PT Tenggara Hendri, di Cianjur, Jumat 28 Desember 2012.

Menurut dia, adanya galian C  akibat penyalahgunaan lahan, sehingga lahan yang sejak 1896 atau zaman Belanda merupakan perkebunan teh, kini menjadi lautan pasir dan bebatuan. "Kita akan mengembalikan lahan ke fungsi awalnya sesuai HGU perkebunan teh, sehingga bisa menjadi kawasan resapan air Desa Cipendawa dan Sukatani," kata Hendri.

PT Tenggara akan  kerja sama dengan warga sekitar untuk  menanam bibit tanaman keras seperti jabon di sekitar areal perkebunan teh tersebut. Tapi,  langkah tersebut akan dilakukan jika sudah ada keputusan dari Badan Pertanahan Nasional (BPN) Pusat.

Saat ini, perusahaan milik Arifin Panigoro ini tengah menyelesaikannya di BPN. Rencananya pengembalian fungsi lahan tersebut akan dilakukan pada awal 2013. "Kami akan mengembalikan lahan tersebut ke fungsi awal sebagai  daerah resapan air," ujar Hendri.

Beroperasinya galian pasir di Blok Perkebunan Teh Ciguntur, menurut Hendri, karena ketika itu u sejumlah oknum menjadi penggarap di lahan perkebunan milik PT Tenggara itu.  Ketika mereka menemukan kandungan pasir yang baik, maka pengusaha dan warga menggali kawasan itu.

Agus, 46 tahun, warga Kampung Ciguntur, Desa Cipendawa, Kecamatan Pacet menyatakan, dulu lahan tersebut merupakan areal perkebunan teh. Namun selepas tahun 2000 lahan tersebut jadi garapan warga sekitar, hingga akhirnya berubah jadi galian C.

Menurut  Agus, sebelum ada  galian C, di kawasan itu  tidak pernah terjadi banjir. Jika akan dikembalikan fungsinya menjadi perkebunan teh, warga justru senang. "Galian C tidak dinikmati warga, justru warga menderita karena banjir akibat galian C," ujarnya.

 

DEDEN ABDUL AZIZ

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.