Game Masa Depan Bakal Ramah Penyandang Disabilitas

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta Twitch streamer, Cerebral Paul, berbagi pengalaman soal bagaimana ia bermain game secara berbeda dan dan mendorong lingkungan bermain yang sehat untuk penyandang disabilitas.

Dilansir dari thehollywoodreporter, kebanyakan para gamer yang difabel menanyakan "bisakah saya memainkan itu?" setiap mereka melihat game baru. Kini keberadaan situs Can I Play That? membantu menemukan jawaban ini secara ter-update.

Situs tersebut merupakan nama sumber daya aksesibilitas yang kuat yang didirikan bersama oleh aktivis dan penulis Courtney Craven untuk menyediakan platform bagi mereka yang membutuhkan. Disediakan juga panduan referensi, ulasan aksesibilitas, lokakarya keragaman, kesetaraan dan inklusi.

Situs ini pertama terbentuk pada 2014 ketika Craven mengambil cuti selama 15 tahun dari video game. “Game bukan untuk orang dewasa ketika saya masih kecil. Jadi saya menjauh dari mereka (video game) untuk sementara waktu,” kenang mereka.

Lalu suatu hari ia tercengang saat mendapat Xbox One asli, atas fakta bahwa jenis cerita yang ia baca di buku sekarang diceritakan dalam permainan. Saat itu ia bermain Mass Effect, yang membuatnya sadar ingin menjadi penulis, namun terkait industri game ini saja.

Awalnya, situs ini berfokus pada materi untuk aksesibilitas tuna rungu dan gangguan pendengaran, dan hanya tersedia untuk pemain. Kemudian, ia memperluas advokasinya untuk membantu orang lain dengan disabilitas kognitif, kebutaan, dan lainnya. Ia juga mulai menyediakan konten pendidikan untuk developer game itu sendiri, yang, seperti dijelaskan Craven, memiliki peluang untuk menjangkau banyak komunitas penyandang disabilitas melalui materi pemasaran mereka, meskipun game mereka mungkin bukan yang paling mudah diakses.

“Saya pikir itu adalah tempat yang paling penting untuk memulai, sejujurnya, hanya membuat komunitas inklusif dan membiarkan orang-orang difabel berpartisipasi dalam hype (game).”

Menjangkau banyak audiens

Belum lama ini, situs tersebut sudah menjangkau audiens yang terdiri dari 50 persen pembuat game dan pemain. Craven sendiri mengaku tercengang melihat jumlah kemajuan yang didapat hanya dalam 2-3 tahun terakhir.

Di sisi lain, dalam komunitas game ada Paul Martin, atau Cerebral Paul yang membahas situs ini melalui Twitch dan Twitter. Ia menyadari ketertarikannya pada game komputer sejak di sekolah menengah, sekaligus membuatnya menyadari ketertarikannya terhadap teknologi. Fakta bahwa video game dapat dimainkan oleh seseorang dengan Cerebral Palsy, seperti dirinya, berarti bahwa ia dapat memperluas outlet sosialnya, baik dulu dan sekarang sebagai orang dewasa, yang menjadi bagian penting baginya selama pandemi COVID-19.

“Saya benar-benar belum meninggalkan rumah saya sejak Januari tahun lalu,” ujarnya, dikutip dari THR. Paul adalah teknisi IT dan anggota Komunitas Duta Xbox, membina lingkungan yang positif dan sehat untuk gamer lain. Ia mengakui keterbatasan fisiknya terus menarik namun sekaligus membuatnya frustasi. Ia menggambarkan tingkat kesulitan yang ia alami yaitu 10 kali lipatnya rasa frustasi saat menemukan kesulitan dan 10 kali lipatnya juga rasa senang jika berhasil mengatasi kesulitan itu. "Dalam rasa frustrasi itu, saya terus berjuang."

Martin mengatakan bahwa banyak permainan berfokus pada tuna rungu, gangguan pendengaran, buta warna dan kebutaan. Tetapi, baginya, masalahnya adalah ketangkasan. Ada beberapa game yang sama sekali tidak bisa ia mainkan hanya karena desainnya, meskipun ia tidak menyalahkan pengembang game tersebut. “Itu hanya sebagian karena dari diriku.”

Sulitnya akomodasi untuk penyandang disabilitas melebihi yang lain. Craven memberi permisalan, pada orang buta, mereka memerlukan desain yang didasarkan pada haptics, getaran pengontrol, dan suara saja, jenis tantangan pertempuran berat. Craven mengutip pakar aksesibilitas Ian Hamilton yang pernah berkata, 'Sebuah game tidak akan pernah dapat diakses oleh semua orang.'” Craven menyetujui ungkapan tersebut karena antara aksesibilitas, disabilitas dan spektrum, bisa berubah dari hari ke hari.

Jadi dalam situs ini, Craven terus mengupayakan aksesibilitas dan pendidikan lebih lanjut. Sementara itu, Martin mendorong orang lain untuk bermain melalui saluran sosialnya, seperti menjelaskan apa yang yang dapat Anda lakukan dengan apa yang dapat Anda lakukan dalam game.

Jika ada satu hal yang Martin ingin developer game ketahui, itu adalah komunitas penyandang disabilitas ada, bersedia, dan tersedia. “Mereka perlu menjangkau lebih banyak dari kita,” katanya sambil menunjukkan hasil panel dan tes permainan.

Di antara peningkatan terbaru untuk upaya ini, Xbox pada bulan Februari meluncurkan program pengujian aksesibilitas game yang memberi anggota komunitas disabilitas pilihan untuk terlibat dalam kasus uji dan memberikan umpan balik. Untuk Hari Kesadaran Aksesibilitas Global minggu lalu, Xbox dan PlayStation berbagi komitmen mereka untuk memajukan alat, produk, dan layanan yang dapat diakses untuk komunitas permainan mereka yang difabel.

Seperti yang ditunjukkan Martin, tidak semua orang terbuka akan disabilitasnya di akun media sosialnya. Oleh karena itu, tidak diragukan lagi ada lebih banyak gamer difabel daripada yang statistik perusahaannya miliki.

Infografis Akses dan Fasilitas Umum Ramah Penyandang Disabilitas

Infografis Akses dan Fasilitas Umum Ramah Penyandang Disabilitas. (Liputan6.com/Triyasni)
Infografis Akses dan Fasilitas Umum Ramah Penyandang Disabilitas. (Liputan6.com/Triyasni)

Simak Video Berikut Ini: