Gandeng Akademisi, Kemenhub Kaji Transportasi di Ibu Kota Negara Baru

·Bacaan 2 menit

VIVA – Kementerian Perhubungan memastikan, semua kebijakan dibidang transportasi yang dikeluarkan merujuk pada kajian ilmiah. Karena itu kolaborasi dengan universitas atau akademisi terus dilakukan.

Kolaborasi itu ditunjukkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan (Balitbanghub) melalui Pusat Penelitian dan Pengembangan Transportasi Udara, yang menggelar courtesy call ke Institut Teknologi Bandung (ITB) pada Kamis lalu, dalam rangka pengembangan riset.

Menurut Kepala Balitbanghub, Umar Aris, kemajuan pelayanan transportasi membutuhkan adanya inovasi dan sinergi antar stakeholders terkait. Sehingga perlu adanya kolaborasi antara akademisi, pebisnis, komunitas, Pemerintah dan media.

“Dalam penetapan kebijakan ini perlu didasarkan kepada kajian ilmiah yang melibatkan unsur-unsur tersebut,” tegas Umar Aris dikutip dari keterangannya, Sabtu, 22 Mei 2021.

Dalam kunjungan kali ini, dibahas mengenai isu strategis dan rencana riset transportasi terutama transportasi udara dengan mempertimbangkan potensi kedirgantaraan di Indonesia. Terdapat 15 judul penelitian yang dikerjasamakan pada tahun ini.

Baca juga: Pemutihan Pajak Kendaraan Bisa Dongkrak Penerimaan Daerah, Kok Bisa?

“Di antaranya keselamatan dan keamanan, konektivitas dan aksesibilitias, pelayanan transportasi, pengembangan transportasi di kawasan strategis pariwisata nasional, dan sistem transportasi Ibu Kota negara. Kemudian, pengembangan transportasi di kawasan terluar, terdepan, tertinggal dan perbatasan, pengembangan sistem transportasi pendukung logistic, serta SDM dan kelembagaan,” jelas Umar Aris.

Sementara itu, Rektor ITB, Prof Reini Wirahadikusumah dalam pertemuan tersebut mengatakan, dalam kolaborasi ini ITB mencoba untuk menjawab masalah yang sudah diidentifikasi oleh Kemenhub. Hal itu dilakukan melalui penajaman studi serta membantu peneliti untuk bersama-sama menyelesaikannya.

Lebih lanjut Umar menegaskan, saat ini yang menjadi fokus utama Menteri Perhubungan adalah pengoperasian drone dan seaplane yang mengikuti kemajuan zaman. Khususnya termasuk peluang pemanfaatan pesawat N-219 untuk penerbangan seaplane.

Sedangkan, menurut Ketua Lembaga Pengembangan Inovasi dan Kewirausahaan Sigit P Santosa mengatakan peluang seaplane di Indonesia cukup besar. Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) ITB bersama PT Dirgantara Indonesia dan Badan Litbang Perhubungan berencana melakukan kerja sama penelitian terkait pengembangan seaplane di Indonesia.

Saat ini lnjunya pesawat N-219 sudah mendapat sertifikasi dari Kementerian Perhubungan, namun pesawat N-219 tipe amphibi masih dalam tahap pengembangan. Di mana akan dilakukan beberapa peningkatan untuk kebutuhan desain dan juga perfoma. Pesawat N-219 dinilai paling optimum untuk pasar Indonesia.

“Jadi yang dipakai di Indonesia ini kan kebanyakan pesawat tipe twin otter, head to head-nya adalah N219. Namun jika kita menggunakan N-212 itu terlalu besar, cakupan load factor malah jadi rendah, jadi yang paling optimum untuk pasar Indonesia memang yang kapasitas 19 penumpang, supaya load factor-nya terjaga minimal di 80 persen,” ujar Sigit.

Penelitian terkait teknologi transportasi ini dilakukan bersama ITB, UGM, serta UI. Di ITB sendiri memiliki jurusan kedirgantaraan yang membedakan dengan kampus lainnya, dan terdapat pengembangan SDM Kemenhub untuk bersekolah double degree di ITB yang bekerja sama dengan Ecole Nationale de l’Aviation Civile (ENAC) di Perancis.

“Dengan adanya kolaborasi ini, diharapkan dapat terjalin suatu kerja sama yang strategis dan implementatif untuk kedua belah pihak serta dapat menjadi landasan untuk menjawab tantangan yang ada saat ini maupun ke depannya," tutupnya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel