Gandeng IPB, MSC susun modul pelatihan standar perikanan berkelanjutan

·Bacaan 3 menit

Organisasi internasional nirlaba Marine Stewardship Council (MSC) bersama Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University membentuk sebuah tim untuk menyusun modul pelatihan pengembangan kapasitas standar perikanan berkelanjutan.

"Ini menjadi salah satu kontribusi FPIK IPB University selaku lembaga pendidikan strategis yang didukung oleh MSC untuk mendorong sumber daya manusia dalam pengelolaan perikanan tangkap di dalam negeri," kata Direktur Program MSC Indonesia Hirmen Syofyanto dalam penjelasan kepada ANTARA di Bogor, Jawa Barat, Jumat.

Ia menjelaskan perhatian dunia terhadap sektor perikanan semakin meningkat, termasuk perikanan di Indonesia.

Semangat berbagai pihak di Tanah Air untuk memanfaatkan sumber daya ikan secara maksimum dan berkelanjutan, kata dia, perlu dibarengi dengan pengetahuan yang cukup dan sikap yang bijaksana serta keterampilan yang mumpuni.

Sejalan dengan hal itu, kata Hirmen Sofyanto, MSC dan FPIK IPB University menjalin kerja sama dalam wujud pembentuk tim untuk menyusun modul pelatihan dimaksud.

Sementara itu Manajer Proyek Penyusunan Modul Perikanan Berkelanjutan dari IPB University Dr Ir Muhammad Fedi Alfiadi Sondita, M.Sc menyatakan modul pelatihan tersebut disusun dengan maksud menghasilkan kelompok perorangan yang melek tentang konsep perikanan yang berkelanjutan.

Termasuk di dalamnya berkaitan dengan sumber daya ikan yang lestari, bisnis penangkapan ikan yang berkelanjutan, pemanfaat sumber daya ikan yang
bertanggung jawab, dan kemampuan dalam menyusun konsep rencana pengelolaan perikanan tangkap.

Keterampilan yang akan dibangun, kata dia, adalah kemampuan merumuskan masalah yang akan dikelola, merumuskan tujuan pengelolaan yang memenuhi kriteria SMART (specific, measurable, achievment oriented, reasonable dan time-bound).

Lalu, memilih cara atau pendekatan yang efektif mengubah status masalah, merancang konsep skema pemantauan dan evaluasi indikator-indikator pengelolaan, serta menerapkan opsi pengelolaan yang adaptif untuk memastikan terwujudnya pengelolaan yang efektif.

Dengan bekal pengetahuan dasar yang kuat, sikap yang bijaksana dan keterampilan yang dibangun, menurut Muhammad Fedi Alfiadi Sondita, para pemangku kepentingan perikanan diharapkan siap untuk berpartisipasi dalam pengelolaan perikanan tangkap di Tanah Air.

Para "reviewer" dan penyusun modul pembahasan modul pelatihan “Menuju Pengelolaan untuk Perikanan Tangkap yang Berkelanjutan” di Bogor, Jabar, Selasa (21/12/2021). (FOTO ANTARA/HO-MSC Indonesia)
Para "reviewer" dan penyusun modul pembahasan modul pelatihan “Menuju Pengelolaan untuk Perikanan Tangkap yang Berkelanjutan” di Bogor, Jabar, Selasa (21/12/2021). (FOTO ANTARA/HO-MSC Indonesia)

Dalam kaitan itu, Commercial Communication Officer MSC Indonesia, Usmawati Anggita Sakti menambahkan bahwa pada Selasa (21/12) 2021, draft modul dibahas oleh perwakilan dari Direktorat Pengelolaan Sumber Daya Ikan (SDI) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), asosiasi pengusaha perikanan tangkap, yakni Asosiasi Perikanan Pole & Line dan Handline Indonesia (AP2HI) dan Asosiasi Pengelolaan Rajungan Indonesia (APRI), akademisi dari Politeknik AUP Jakarta dan FPIK IPB University, LSM lingkungan pemerhati perikanan tangkap WWF Indonesia.

Acara dibuka oleh Dekan FPIK IPB Dr Fredinan Yulianda, M.Sc itu juga menghadirkan narasumber Hirmen Syofyanto, dan Direktur Pengelolaan Sumber Daya Ikan, Ditjen Perikanan Tangkap KKP Trian Yunanda, M.Sc.

Pembahasan yang dilakukan terkait dengan struktur dan substansi bahan pelatihan serta kelompok sasaran.

Modul ditujukan untuk kelompok sasaran yang cukup beragam, yaitu berbagai kalangan yang terlibat di dalam pengelolaan perikanan tangkap di Indonesia.

Mereka adalah para pelaku bisnis, akademisi dan kalangan pegiat advokasi perikanan berkelanjutan serta kalangan pemerintahan yang bertanggung jawab dengan sektor perikanan, demikian Usmawati Anggita Sakti.

Baca juga: MSC-IPB jalin sinergi untuk keberlanjutan sumber daya laut

Baca juga: Rajungan diharapkan bersertifikasi ekolabel akhir 2022

Baca juga: MSC-KKP kolaborasi perbaikan perikanan berkelanjutan di lima wilayah

Baca juga: Pakar IPB: Standar perikanan MSC harus diimplementasikan "stakeholder"

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel