Ganjar: Festival balon udara tradisi Wonosobo perlu terus dilakukan

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan festival balon udara yang sudah menjadi tradisi di Kabupaten Wonosobo perlu terus dilakukan.

"Ternyata anak-anak muda dengan segala kreativitasnya bisa membuat balon udara. 'Team work'-nya bagus untuk mengerjakan balon udara," kata Ganjar usai meninjau pembuatan sekaligus uji coba penerbangan balon udara di Taman Rekreasi Kalianget, Kabupaten Wonosobo, Kamis.

Ganjar melihat kesiapan peserta Java Balloon Atraction 2022 di Wonosobo. Acara itu akan digelar pada 4 September 2022 di Taman Rekreasi Kalianget dan menjadi bagian dari Dieng Culture Festival 2022.

"Ada 25 kelompok balon udara di Kabupaten Wonosobo yang akan mengikuti kegiatan itu," katanya.

Baca juga: Ribuan penonton saksikan festival balon udara di Wonosobo

Ganjar sempat melihat dan berdialog dengan anak-anak muda yang membuat balon udara. Dari dialog itu diketahui bahwa untuk membuat satu balon udara membutuhkan biaya dan tenaga yang tidak sedikit. Misalnya untuk balon udara yang dicoba untuk diterbangkan itu menelan biaya sekitar Rp3 juta.

"Bayangkan untuk membuat satu balon itu biayanya sekitar Rp3 juta. Jadi mereka sungguh-sungguh. Di Wonosobo ini yang menarik, bupati memberikan insentif Rp500 ribu per kelompok. Besok hari Minggu bersamaan dengan Dieng Culture Festival akan dilombakan," kata Ganjar.

Penerbangan balon udara di Wonosobo sudah menjadi tradisi, khususnya pada setiap Lebaran. Sejak tahun 2006 ramai diadakan festival balon udara. Namun sempat dilarang karena mengganggu penerbangan pesawat. Sampai akhirnya muncul ide tradisi balon udara itu dilombakan dengan cara diikat sehingga balon tidak terbang secara liar.

"Sebenarnya sudah beberapa kali proses sampai menjadi festival balon di Wonosobo. Dulu saya ingat betul waktu dengan tim pemangku kepentingan (AirNav) saya menyampaikan kepada mereka jangan dilarang, justru dilombakan kasih hadiah. Waktu itu mendapatkan sambutan yang luar biasa. Kemudian caranya bagaimana biar nggak ganggu penerbangan, ya diikat," katanya.

Baca juga: Dieng Culture Festival diharapkan jadi agenda wisata internasional

Terbukti setelah itu kreativitas warga khususnya anak-anak muda meningkat. Berbagai desain unik bermunculan bahkan memperlihatkan ciri khas dari budaya Kabupaten Wonosobo seperti motif carica dan motif tari lengger.

Menurut Ganjar, ketika kegiatan itu terus didorong akan menjadi sebuah tontonan yang ditunggu oleh masyarakat.

"Anak-anak menjadi kreatif, kemudian kegiatannya jauh lebih positif. Sebenarnya bisa didorong agar ini menjadi tontonan, ya 'event' ini menjadi destinasi nanti. Kalau tempatnya disiapkan dengan baik, orang akan datang untuk melihat dan pariwisata akan datang. Tadi juga ada usulan buat lomba dengan hadiah piala gubernur, oke kalau begitu," katanya.

Ganjar menyampaikan bahwa dalam proses pembuatan sampai dengan penerbangan itu terdapat nilai kebersamaan dan kekompakan. Dari pembuatan saja memerlukan kerja sama banyak orang. Belum lagi ketika akan menerbangkan yang membutuhkan tenaga berlebih.

Baca juga: Polres Wonosobo mengamankan festival balon udara

"Ternyata kalau melihat prosesnya tidak gampang, tidak hanya melihat sudah sampai di atas. Itu mengisinya saja sudah beberapa menit, sekitar 15 menit, ternyata lama karena anginnya besar. Proses mengisi saja ada seninya. Karena itu kalau gerak-gerak kena kuku sobek, kena ini sobek, lalu ditambal sama mereka. 'Team work'-nya bagus untuk mengerjakan ini," katanya.