Ganjar Heran Ada Beda Data Pusat dan Jateng Soal COVID-19 di Solo

Raden Jihad Akbar, antv/tvOne
·Bacaan 2 menit

VIVA – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengaku heran dengan pernyataan Jubir Satgas Penanganan COVID-19, Prof Wiku Sasmito yang mengungkapkan angka kasus aktif COVID-19 di Kota Surakarta atau populer disebut Solo ada 7.354 orang.

Dalam konferensi pers virtual melalui YouTube Sekretariat Presiden, Kamis lalu, Prof Wiku mengungkapkan, ada 10 daerah di indonesia yang kasus aktifnya di atas 1.000. Dan Kota Surakarta adalah yang tertinggi dengan angka 7.354.

Keheranan Ganjar Pranowo berdasar pada data yang ada di akun resmi corona.jatengprov.go.id , yang mana angka kasus aktif di seluruh Jawa Tengah saja hanya 6.881 kasus.

Data Satgas COVID-19 semakin meragukan jika menilik angka kumulatif sejak Maret 2020 hingga hari ini, total kasus terkonfirmasi COVID-19 di Kota Surakarta sebanyak 4.862 kasus. Apalagi update terbaru kasus aktif di Solo adalah 278 kasus.

Baca juga: Pemerintah Harus Awasi Praktik Bisnis Tak Adil Raksasa Digital Dunia

“Ini jangan-jangan beliau keliru, bahwa 7.354 itu mungkin seluruh Jawa Tengah. Catetan saya yang di Solo itu hanya 278. Jauh banget ini,” tutur Ganjar di Semarang, dikutip Sabtu 27 Februari 2021.

Ganjar heran, jika di Jateng ada 6.881 kasus aktif, tidak mungkin jika kasus aktif di Kota Surakarta mencapai 7.354 kasus.

“Harus dikoreksi. Nanti bikin kepanikan baru warga di sana, wah Solo tertinggi padahal tidak gitu,” jelasnya.

Ganjar berharap, Satgas COVID-19 lebih berhati-hati lagi dalam rilis data. Sebab, menurutnya hal ini sudah terjadi beberapa kali.

“Mudah-mudahan bisa menjadi koreksi bagi prof Wiku dan temen-temen yang me-launching data, kalau perlu mengonfirmasi data kepada kami. Kami siap membantu,” tegasnya.

Menurut Ganjar, sebenarnya bisa lihat di situs resmi corona.jatengprov.go.id, karena sebenarnya itu angka yang diperbandingkan. Ada angka yang dari pusat, ada angka yang dari provinsi. Tinggal diperbandingkan saja. Selisih-selisih itu bisa dikonfirmasi. Karena memang selalu ada data delay.

"Maka kami selalu mendapatkan kalau versi pusat itu namanya data inject, real nya berapa injection-nya berapa ditambahi dulu data-data yang delay. Bahkan, mungkin dengan ini komunikasinya ke publik dijelaskan saja mana data real mana data delay. Kalo kemudian langsung disebut begini rasa-rasanya kok itu jauh dari benar gitu lho,” ungkapnya.

Dari pantauan per hari ini, di situs corona.jatengprov.go.id, angka kasus aktif terbaru di seluruh Jawa Tengah ada 6.997. Sedangkan khusus untuk Kota Surakarta berdasarkan data di situs yang sama, ada 271 kasus aktif.

Laporan Teguh Sutrisno.