Ganjar Pranowo Sampai Cak Imin Buat Sajak untuk Antologi Puisi Darah Juang

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar atau Cak Imin turut menyumbangkan karya puisinya dalam sebuah buku berjudul Darah Juang Antologi Puisi.

Perlu diketahui, buku yang berisi ratusan puisi mantan aktivis itu baru diluncurkan pada Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2021 lalu di Yogyakarta.

Koordinator aksi puisi FX Rudy Gunawan menjelaskan, antologi puisi ini merupakan karya mantan aktivis yang tergabung dalam Paguyuban Darah Juang (PDJ). PDJ sendiri lahir pada 2016 Sukma di Kampus Fisipol Universitas Gadjah Mada (UGM).

Menurut Rudy, selain Cak Imin dan Ganjar yang ikut membuat puisi di buku itu, ada Mensesneg Pratikno, Ketua Komisi VI DPR RI Faisol Riza serta alumni UGM lainnya.

"Jadi kami meminta semua teman-teman aktivis dan alumni UGM era reformasi untuk membuat puisi. Ada Muhaimin Iskandar (Ketum PKB), Pratikno (Mensesneg RI), Ganjar Pranowo (Gubernur Jateng), Faisol Riza (Ketua Komisi VI DPR RI). Ternyata respons teman ini baik. Sehingga kami buat bukunya," kata dia dalam keterangan tertulisnya, Kamis (11/11/2021).

Rudy mengungkapkan, penerbitan buku oleh PDJ sendiri sebagai wadah menyampaikan aspirasi mantan aktivis melalui tulisan.

"Jadi ini aksi konkret kami untuk menyampaikan segala uneg-uneg kami. Apalagi kondisi Covid-19 saat ini banyak yang perlu disampaikan," kata dia.

Mengingatkan Masyarakat

Di samping itu, terbitnya buku Darah Juang Antologi Puisi ini bertujuan mengingatkan masyarakat untuk saling peduli. Warga diajak untuk berkontribusi dengan cara yang mereka kuasai untuk kepentingan bangsa.

"Ini sebagai pengingat agar kita jangan pernah berhenti peduli dengan bangsa. Ikut berkontribusi dengan skala masing-masing, itu yang perlu di highlight," jelas Rudy.

Dia tak menampik bahwa banyak hal, terutama di pemerintahan, yang berubah di situasi seperti ini. Adanya sekat-sekat di pemerintah, perpecahan, dan friksi yang ada di masyarakat harus diakhiri.

"Kita menghadapi perubahan lalu ada bencana dunia (Covid-19) yang harus kita atasi sendiri sebagai bangsa. Nah, kebersamaan ini yang penting, mari kembalikan lagi persatuan kita," ujar aktivis 1980 itu.

Reporter: Fikri Faqih/Merdeka.com

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel