Ganjar Sebut Penambahan Kasus COVID-19 di Jateng Gara-gara Salah Data

Dedy Priatmojo
·Bacaan 2 menit

VIVA – Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, angkat bicara soal peningkatan kasus COVID-19 di Jateng yang melonjak drastis dalam sepekan terakhir. Penambahan kasus positif COVID-19 di Jawa Tengah pada Minggu, 29 November, meningkat drastis dibanding DKI Jakarta yaitu sebanyak 2.036 kasus.

Kenaikan angka COVID-19 di Jateng ini sempat disorot Presiden Jokowi saat memimpin rapat kabinet terbatas di Istana Negara, Senin. Selain Jateng, Jokowi juga menyoroti peningkatan kasus COVID-19 di DKI Jakarta.

Ganjar mengaku tidak terkejut dengan pernyataan Presiden yang menyoroti peningkatan kasus COVID-19 di Jateng. Sebab, menurutnya, ada kesalahan data yang diterima Satgas COVID-19 pusat terhadap data laporan kasus COVID-19 harian di Jateng. Kesalahan data ini juga bukan pertama kali terjadi.

"Kesalahan data ini terjadi kali keempat, catatan kami 844 itu bukan 2.036, di tanggal 29 (November) segitu. Maka kita punya perbedaan 1.192," kata Ganjar dilansir tvOne, Selasa 1 Desember 2020.

Mantan anggota DPR itu mengungkapkan data COVID-19 yang dirilis Pemprov Jateng per 29 November 2020 berbeda dengan data yang dirilis pemerintah pusat. Pihak pemprov juga sudah menyampaikan perbaikan data ini kepada pemerintah pusat-Kementerian Kesehatan, dan direspon dengan baik.

"Saya usul nih, kalau datanya masih ragu jangan di-launching, karena kami siap integrasikan data. Bahkan setelah ini rame malah ada yang marah-marah ke saya, saya sampaikan tidak, kami 844, angka 2.036 dari mana?," terang Ganjar.

Pemprov Jawa Tengah sebelumnya merespons kesalahan data penambahan angka COVID-19 sebanyak 2.036 kasus, dengan melakukan validasi data di sejumlah wilayah. Dari data yang diperoleh langsung dari fasilitas kesehatan se-Jateng, diperoleh penambahan kasus pada 29 November sebanyak 844 kasus.

Kesalahan data kasus harian COVID-19 Jateng yang dirilis pusat ini sudah yang keempat kalinya terjadi. Rata-rata kesalahann yang terjadi adalah penggabungan data COVID-19 real time dengan data delay. Belum lagi ada data kasus yang masih membutuhkan validasi lebih lanjut.

Untuk penambahan angka COVID-19 di Jateng sebanyak 2.036 kasus yang dirilis pusat, Ganjar mengaku langsung memerintahkan jajarannya untuk mengecek ke lapangan. Hasilnya, memang ditemukan banyak data ganda.

"Mari kita komunikasikan ini, kita clearance, 2.000 kebanyakan, akhirnya kami mencari sendiri coba dicari dong, dicek, dan kami di salah satu kabupaten itu di-inputnya sampai 4 kali lho ya, bukan 2 kali. Itu 4 kali, jadi ada data ganda pada satu orang," paparnya.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo menyoroti peningkatan kasus positif COVID-19 secara drastis di DKI Jakarta dan Jawa Tengah dalam sepekan terakhir ini.

Demikian disampaikan Presiden Jokowi saat memimpin rapat terbatas dengan topik "Laporan Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional" yang diikuti para menteri Kabinet Indonesia Maju di Istana Merdeka Jakarta, Senin, 30 November 2020.

"Saya ingin ingatkan bahwa ada dua provinsi yang menurut saya perlu perhatian khusus karena peningkatan dalam minggu ini, dalam 2-3 hari ini peningkatannya sangat drastis sekali yaitu Jawa Tengah dan DKI Jakarta," kata Presiden Jokowi. (ren)