Ganti Albon, Bos Red Bull Kedepankan Fakta daripada Emosi

Luke Smith
·Bacaan 1 menit

Bagaimanapun tim yang dipimpin Christian Horner mesti berpikir realistis ketika mengincar prestasi tinggi.

Faktanya, sepanjang musim lalu, Albon gagal memangkas jarak dengan rekan setimnya, Max Verstappen yang konsisten di tiga besar.

Pembalap 24 tahun tersebut pernah naik podium dua kali usai finis di urutan ketiga GP Tuscan dan GP Bahrain. Kemajuan pesat pun ditunjukkan putra eks pembalap Nigel Albon itu terutama di balapan-balapan terakhir. Ia mampu duduk di peringkat keenam GP Sakhir dan keempat GP Abu Dhabi sehingga mencapai peringkat ketujuh klasemen akhir F1.

Dalam konferensi pers terbatas yang diikuti Motorsport.com, Horner mengutarakan alasannya memilih Sergio Perez dan mencoret Albon.

“Saya kira jurang antara Alex dan Max sebagian besar konsistenn sejak GP Austria hingga Bahrain 2. Dia balapan dengan baik di Abu Dhabi,” ucapnya.

“Dia (Albon) menyelesaikan dengan brilian. Dia pembalap hebat, dia seorang pria sejati dalam tim. Dia sangat populer dalam tim karena pemuda yang menyenangkan. Itu yang membuat keputusan lebih sulit.

“Tapi ketika Anda melihat data dan Anda percaya fakta yang bertentangan dengan emosi, Sergio adalah pilihan logis.”

Christian Horner, Prinsipal Tim, Red Bull Racing

Christian Horner, Prinsipal Tim, Red Bull Racing<span class="copyright">Mark Sutton / Motorsport Images</span>
Christian Horner, Prinsipal Tim, Red Bull RacingMark Sutton / Motorsport Images

Mark Sutton / Motorsport Images

Red Bull mengalami kesulitan sejak ditinggal Daniel Ricciardo akhir 2018. Pierre Gasly, penerusnya, tak mampu memenuhi ekspektasi lantaran terus terpuruk dalam 12 balapan musim lalu.

Slot pembalap Prancis itu lantas diserahkan kepada Albon yang ternyata masih mengecewakan. Max Verstappen seolah bertarung sendirian karena tak punya rekan setim yang berkualitas dan kompetitif.

“Menurut saya, sangat vital jika Anda ingin menghadapi tantangan serius di salah satu kejuaraan, bahwa Anda butuh performa kedua mobil di level sama,” ia menjelaskan.

“Kami melihat sangat jelas di Abu Dhabi, contohnya. Anda butuh konsistensi, untuk menandingi Mercedes dalam kategori pembalap atau tim.”