Gapki Sumsel berharap peremajaan sawit rakyat berlanjut

Nusarina Yuliastuti
·Bacaan 2 menit

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia Provinsi Sumatera Selatan berharap program peremajaan sawit rakyat terus berlanjut di daerah tersebut.

Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Sumsel Alex Sugiarto di Palembang, Rabu, mengatakan perkebunan sawit mandiri berperan penting dalam industri sawit yang memproduksi minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO).

“Berdasarkan data kami, dari luas kebun sekitar 1,3 juta hektare (Ha) terdapat 40 persen yang merupakan kebun plasma dan swadaya yang dikelola oleh petani mandiri, yang tentunya perlu diremajakan,” kata dia.

Baca juga: Industri sawit entaskan 1,3 juta masyarakat pedesaan dari kemiskinan

Oleh karena itu, menurut Alex, perkebunan rakyat harus diperkuat, salah satunya dengan program PSR yang dampaknya berujung pada peningkatan kesejahteraan petani.

Alex mengatakan produktivitas kebun di Sumsel saat ini masih berkisar 2,5 ton – 3 ton per Ha per tahun, padahal potensinya mampu mencapai 6 ton – 8 ton. Replanting diyakini mampu meningkatkan angka produktivitas kebun tersebut.

Pihaknya pun berkomitmen untuk mendukung PSR yang telah dijalankan di Sumsel sejak 2017. Pengolahan hasil panen petani tersebut telah didukung keberadaan PKS di Sumsel. Saat ini terdapat 77 unit PKS yang tersebar di provinsi itu.

“Seiring dengan bertambahnya produktivitas tentu akan ada penambahan unit maupun kapasitas PKS,” kata dia.

Baca juga: Dukung pemerintah, GAPKI bentuk Satgas Percepatan PSR

Sementara itu berdasarkan data Badan Pengelola Dana Perkebunan Sawit (BPDPKS), luas kebun sawit yang telah diremajakan melalui program PSR mencapai 94.033 Ha, yang mana 19 persen berada di Sumsel.

Provinsi itu tercatat sebagai daerah dengan realisasi tertinggi dibanding 20 provinsi lainnya yang ikut melaksanakan PSR.

Direktur Utama BPDPKS Eddy Abdurrahman mengatakan secara nasional terdapat total 87.906 pekebun yang mengikuti program replanting itu.

“PSR bertujuan untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas TBS (tandan buah segar) pekebun,” katanya.

Selain itu, dia menambahkan, pekebun yang melakukan peremajaan dapat menjalankan praktik berkebun yang baik (good agriculture practice/GAP), serta memperbaiki tata ruang perkebunan.